Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mutasi Virus Covid-19 Muncul, Bukti Penanganan Amburadul

Di tengah penanganan pandemi virus yang belum membuahkan hasil, dunia kembali dikejutkan dengan penemuan varian baru virus Covid-19 yang ditemukan pertama kali di Inggris. Virus tersebut mulai menyebar ke berbagai negara di dunia. Hal ini tentu memicu kekhawatiran, apalagi banyak ahli menilai virus ini lebih mudah menular meskipun dengan resiko kematian yang lebih rendah.

Oleh : Renita (Aktivis Peduli Ummat)

Di tengah penanganan pandemi virus yang belum membuahkan hasil, dunia kembali dikejutkan dengan penemuan varian baru virus Covid-19 yang ditemukan pertama kali di Inggris. Virus tersebut mulai menyebar ke berbagai negara di dunia. Hal ini tentu memicu kekhawatiran, apalagi banyak ahli menilai virus ini lebih mudah menular meskipun dengan resiko kematian yang lebih rendah.

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pesan video yang menandai Hari Kesiapsiagaan Epidemi Internasional memperingatkan bahwa pandemi virus corona yang merajalela saat ini bukanlah pandemi terakhir. WHO juga mengatakan upaya untuk meningkatkan kesehatan manusia tak ada artinya jika persoalan perubahan iklim dan kesejahteraan hewan belum teratasi. Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa ini saatnya dunia belajar dari pandemi Covid-19. Ia pun mengatakan selama ini telah mengeluarkan uang saat terjadi wabah. Namun ketika sudah berakhir, seolah semua itu tidak pernah terjadi dan tidak ada upaya untuk mencegah wabah berikutnya. Ini merupakan upaya yang dangkal dan sulit untuk dipahami (kompas.com, 27/12/2020).

Dengan ditemukannya varian baru virus ini, tentu menimbulkan keresahan bagi semua negara, tak terkecuali Indonesia. Disaat prosentase peningkatan kasus dan infeksi masih tinggi, mau tak mau semua negara harus sigap menyiapkan upaya preventif untuk menghindari penularan virus ini . Sebab, jika virus ini berhasil masuk ke berbagai wilayah, bukan tidak mungkin kinerja tenaga medis dan upaya penanganan menjadi lebih berat.

Varian Baru Virus, Bukti Penanganan Kapitalis Tak Serius

Varian baru virus ini muncul pertama kali di daerah Kent bagian tenggara Inggris pada akhir November, yakni ketika Public Health England (PHE) sedang memeriksa peningkatan kasus Covid-19 yang tak kunjung turun meskipun lockdown dilakukan. Beberapa ahli mengungkapkan munculnya mutasi virus kemungkinan terjadi karena adanya superspreader event. Yaitu lonjakan kasus yang terjadi disebabkan oleh perilaku masyarakat. Kepala Petugas Medis Inggris pun mendesak orang-orang di Inggris untuk melancarkan langkah-langkah demi memutus penyebaran varian baru virus corona.

Faktanya, kemunculan varian baru virus ini memang merupakan akibat dari buruknya penanganan pandemi yang dilakukan oleh negara-negara di dunia. Sebab, ketika virus pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pemerintah setempat tak lantas memberlakukan karantina wilayah untuk mencegah penyebarannya. Bahkan, ketika virus mulai menyebar ke beberapa wilayah, para petinggi negara malah meremehkan transmisi virus ini. Seolah-olah negaranya memiliki resistensi tinggi terhadap infeksi makhluk renik ini. Sampai akhirnya jasad renik ini mampu menjangkiti jutaan orang di seluruh dunia.

Disatu sisi, kebijakan lockdown yang dilakukan pun nyatanya tak bisa mencegah penyebaran virus, karena tidak dibarengi dengan test, tracing, dan treatment yang efektif. Disisi lain, lockdown ternyata malah menyebabkan terhentinya aktivitas manusia serta kelumpuhan ekonomi. Sebab, lockdown yang dilakukan mengharuskan pemutusan interaksi manusia secara keseluruhan. Selain itu, kebijakan new normal yang diberlakukan ketika lonjakan virus masih tinggi, memaksa masyarakat untuk kembali beraktivitas dengan mempertaruhkan nyawanya demi menggeliatkan perekonomian. Akibatnya, lonjakan kasus kembali meningkat dengan tingkat bahaya yang lebih besar.

Sementara itu, Dewan Pengawasan Kesiapsiagaan Global pada September 2019 telah menerbitkan laporan tahunan pertama tentang kesiapan dunia untuk menghadapi keadaan darurat kesehatan beberapa bulan sebelum virus corona merebak. Laporan itu menyebutkan bahwa dunia sangat tidak siap untuk menghadapi pandemi yang menghancurkan. Terbukti, hingga saat ini virus corona telah menjangkiti 80 juta orang di seluruh dunia dan 1,75 juta orang diantaranya meninggal dunia. Tampak jelas, pandemi ini memang berdampak luas bagi masyarakat dan perekonomian dunia.

Selain itu, dari pernyataan WHO yang menanggapi persoalan pandemi ini, semakin mempertegas bukti kegagalan sistem sekuler dalam menghentikan sebaran virus. Sistem demokrasi kapitalis dari hari ke hari malah semakin menunjukkan kebobrokannya. Sejak awal, penguasa dalam sistem kapitalis memang tidak serius dalam menangani pandemi ini. Sebab, sistem kapitalisme hanya mengutamakan kepentingan dunia yang serba profan dibandingkan keselamatan manusia.

Alhasil, gonta ganti kebijakan merupakan hal yang lumrah dalam sistem kapitalis. Karena, yang menjadi pijakan adalah bagaimana cara agar perekonomian tetap bergeliat ditengah pandemi meskipun harus mengorbankan jutaan nyawa manusia. Parahnya, berbagai kebijakan yang dihasilkan malah membuat pandemi semakin merajalela, bahkan memunculkan mutasi virus baru yang lebih cepat transmisinya. Maka, berharap penyelesaian pandemi pada sistem saat ini bagaikan mimpi di siang bolong.

Solusi Islam dalam Menghentikan Penyebaran Virus

Islam adalah agama yang lengkap dan paripurna untuk kehidupan manusia. Sebagai agama sekaligus way of life, tentu islam memiliki aturan yang sempurna untuk memecahkan seluruh problematika manusia, termasuk dalam menangani wabah. Terjadinya wabah merupakan bentuk qadha Allah yang harus diterima oleh manusia, namun bukan berarti mengabaikan ikhtiar dalam menanganinya. Apalagi, sampai membahayakan nyawa manusia demi keuntungan materi seperti yang terjadi pada sistem sekarang ini.

Kaum muslimin sudah mengenal adanya wabah atau penyakit menular sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Pada masa itu terdapat penyebaran wabah yang cukup dikenal yaitu pes dan lepra. Rasulullah dengan tegas melarang umatnya untuk memasuki daerah yang terkena wabah. Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu," (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mencegah wabah tersebut menyebar ke daerah lain. Inilah yang seharusnya dilakukan sejak awal ketika ditemukan area wabah yaitu melakukan isolasi agar virus tidak menyebar dengan cepat. Pun dengan celah-celah penularannya baik di wilayah asal maupun wilayah penularan harus segera di-lockdown.

Tentu, hal ini dilakukan dengan dibarengi jaminan pemenuhan semua kebutuhan pokok secara langsung kepada masyarakat yang berada di wilayah wabah. Sehingga, masyarakat tidak harus beraktivitas di luar untuk menghindari transmisi lebih luas yang beresiko menimbulkan permasalahan baru, seperti adanya mutasi virus yang diakibatkan karena kerumunan manusia. Semua itu akan membuat pemutusan transmisi yang efektif. Alhasil, wabah tidak meluas dan segera berakhir.

Selanjutnya, negara wajib menyediakan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat test, dan lain-lain. Pun, negara tidak akan membahayakan masyarakat dengan membiarkan masyarakat berjuang secara mandiri untuk memenuhi kebutuhannya, disaat resiko penularan masih tinggi. Edukasi dan riset pun akan didukung penuh oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab dalam mengurus dan melayani umat. Masyarakat akan diajak untuk mematuhi protokol kesehatan, dimana dalam Islam ini dianggap sebagai ketaatan kepada seorang pemimpin. Selain itu, negara juga akan menfasilitasi riset untuk menemukan vaksin dengan mencurahkan seluruh sember daya yang dimiliki, mulai dari para ahli dan pakar keilmuan, lembaga-lembaga penelitian, perguruan tinggi, hingga pendanaan yang cukup.

Demikianlah solusi yang ditawarkan oleh Islam dalam menangani pandemi. Terlihat, solusi yang dibawa oleh Islam adalah solusi hakiki yang dinanti pada abad ini. Hal ini hanya dapat direalisasikan dalam sistem kepemimpinan global yakni, Khilafah Islamiyah. Ya, sekaranglah saatnya abad Khilafah.

Disaat kapitalis terbukti gagal dalam menyelesaikan pandemi, Islam datang dengan membawa alternatif pemecahan yang shahih. Sebab, syariat Islam memang berasal dari Sang Pencipta yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur seluruh kehidupan manusia.

Allah Swt. berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman. Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” (Al-Anfal: 24).

Wallahu a’lam Bii Ash-Showwab.

Post a Comment for "Mutasi Virus Covid-19 Muncul, Bukti Penanganan Amburadul"