Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menjaga Aset Kekayaan Pemikiran

Oleh : Titin Hanggasari (Muslimah peduli umat)

“Fabiayyi ala irobbikuma tukazziban”

Nikmat Tuhanmu mana yang engkau dustakan. Manusia diciptakan lebih mulia dibanding ciptaan-Nya yang lain. Kemuliaannya itu terletak pada akal yang hanya diberikan kepada manusia. Komplit dengan tes penguji yakni nafsu dan godaan syaitan. Tinggal muyul nya kemana.

Benarkah demikian?, menurut Ulama besar Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, bahwa kekayaan umat yang sesungguhnya adalah pemikiran dan metode berpikir. Bukan semata kekayaan ekonomi, sumber daya alam ataupun kecanggihan teknologi. Bahkan pemikiran

kekayaan umat yang sesungguhnya adalah pemikiran dan metode berpikir. Bukan semata kekayaan ekonomi, sumber daya alam ataupun kecanggihan teknologi. Bahkan pemikiran merupakan peninggalan yang demikian berharga yang akan diwarisi oleh generasi penerusnya.

merupakan peninggalan yang demikian berharga yang akan diwarisi oleh generasi penerusnya.

Apabila umat itu telah menjadi sebuah umat yang memiliki identitas dalam bentuk pemikirannya yang maju, maka letak kekayaan yang bersifat materi, penemuan-penemuan ilmiah, Rekayasa Industri serta hal-hal lainnya itu masih jauh kedudukannya dibanding dengan pemikiran. Bahkan semuanya bisa diraih melalui pemikiran, dan semata-mata bisa dilestarikan hanya oleh pemikiran (geopolitik ibu, Fika Komara hal.24).

Iya, jika kita mau mencoba radar kesensitifan dan kepekaan kita terhadap alam jagad raya ini, SDM-nya, kekayaan alamnya, pendistribusiannya, aturannya dll. Sungguh jauh dari kata ideal, terlebih menyejahterakan. Masih tergolong langka adanya pemikiran umat yang bersifat ideologis, padahal sifat ini merupakan darah dan nyawa mereka. Sungguh menjadi tugas umat untuk menciptakan kemampuan dan kelayakan dalam kehidupannya. Dengan cara memunculkan kembali pemikiran Islam.

Sebab hari ini Islam kembali dianggap oleh sebagian besar umat sebagai pemikiran dan hukum yang dipinggirkan. Kalaupun masih ada yang menoleh, itu karena “pelarian“ dari hingar bingarnya kehidupan hedonis-materialistik. Atau sekedar dijadikan pelepas dahaga rohani demi kebutuhan duniawinya, sehingga Islam tidak lagi dijadikan sebagai pelita kehidupan dan petunjuk.

Pemikiran Islam

Pemikiran Islam adalah upaya menilai fakta dari sudut pandang Islam. Pertumbuhan pemikiran Islam ini harus senantiasa di jaga agar bisa menempatkan kecerdasan berpikir. Kecerdasan dan kesadaran akan ruang, tempat bumi ini dipijak, ruang dimana tempat umat hidup dan terus tumbuh menjadi umat terbaik.

Pemikiran Islam harus menyeluruh sesuai dengan azas-azas pemikiran Islam yang dibangun di atas akal dan syariat. Pemikiran Islam yang telah membentuk kepribadian yang unik dan Islami, akan siap mengorbankan nyawa dan apa yang dimilikinya dalam rangka mengemban Islam. Kita dapat mengambil contoh dari cerita Mush’ab Bin Umair yang rela meninggalkan keluarga dan tanah airnya, serta kenikmatan hidupnya demi menyambut seruan untuk pergi ke Madinah menegakkan Daulah Islamiyah yang terus langgeng hingga 13 abad lamanya.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa transformasi yang dihasilkan dari pemikiran tersebut adalah:

Pemikiran Islam telah mengubah manusia ia menjadi insan yang beriman kepada Allah. Pemikiran Islam telah mengubah pandangan mereka tentang kehidupan dari cara pandang yang dangkal menuju cara pandang yang mendalam, lagi jernih. Karena terpancar dari akidah Islam yang diemban. Pemikiran Islam telah mengubah ikatan-ikatan yang ada pada mereka, seperti kepentingan, kesukuan, dan patriotisme. Dan mengalahkan ikatan-ikatan sebelumnya Yang yang temporal dan lemah. Pemikiran Islam dapat mengubah tolok ukur aktivitas kehidupannya menjadi halal dan haram. Pemikiran Islam telah mengubah azas hubungan kenegaraan. Tidak kepada kepentingan materi, ketamakan dan keponggahan. Pemikiran Islam mengubah persepsi tentang kebahagiaan pada diri umat menjadi mencari Ridho Allah.

Dengan pemikiran Islam mereka tidak takut akan kematian dan berharap Syahid di jalan Allah. Sebab mereka telah memahami bahwa dunia ini hanyalah jalan menuju akhirat.

Hari ini umat Islam bisa dianggap sebagai umat yang telah Kehilangan metode berpikirnya yang inovatif, sehingga mereka kehilangan visi politik Islam. Akibatnya sulit menjawab tantangan-tantangan kontemporer termasuk masalah geopolitik.

Dibuktikan dengan tampak di depan mata, kegagalan dunia saat ini dalam mengelola aset-aset geostrategisnya tidak lepas dari pengaruh penjajahan, sistem dan minimnya generasi penakluk yang tumbuh dari umat.

Semua dapat menyaksikan Betapa tercerai berainya problem kehidupan tanpa pemikiran Islam. Merajah Hingga lintas batas negara.

Lalu siapa yang memikirkan problem tersebut?

Palestina, Uighur, Rohingya, Afrika dan lain-lain. Juga seperti covid 19 penderitaan gizi buruk hingga mencapai 2 miliar penduduk dunia 800 juta manusia yang kelaparan serius dll.(data Detik.com 2019). Bahkan di dalam negeri sendiri baru saja terjadi, deklarasi Papua Barat merdeka pada tanggal 1 Desember 2020 yang lalu.

Itu semua menunjukkan bahwa dunia hidup tanpa kerangka pikiran, politik, ekonomi yang terus-menerus mengguncang secara kuat dari waktu ke waktu. Dunia membutuhkan generasi penakluk untuk mengakhiri penderitaannya.

Lalu apa hakekatnya kita diberi akal untuk berfikir?, Bagaimana memberi solusinya?, Maka mau tidak mau, seluruh dunia harus bersama-sama mengakui sistem dan solusi apa mampu menuntaskan penderitaan dunia?, Iyalah peradaban Agung yang pernah tegak 13 abad lamanya. Belum ada sistem lain yang menandingi dan hendaknya umat berusaha mewujudkan kembali pemerintahan Islam tersebut.

Sesungguhnya aset yang kita miliki berupa akal ini hanyalah titipan belaka. Yang akan dimintai pertanggungjawaban khosiatnya untuk menjaga Islam, kelak dihadapan Allah SWT yang semata-mata seluruhnya untuk beribadah kepada Allah dengan pemikiran Islam.

Wallahualam

Post a Comment for "Menjaga Aset Kekayaan Pemikiran"