Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengembalikan Peran Perempuan Pada Khitahnya

Islam sejak 14 abad yang lalu, telah menempatkan posisi perempuan begitu mulianya. Dari mulai berpakaian sampai dengan fungsi lainnya. Islam menempatkannya secara proporsional.  Seorang perempuan dalam Islam bertugas untuk menjadi ummun wa robbatul bait yaitu menjadi istri sekaligus seorang ibu bagi anak-anaknya, dan pengurus rumah tangga.

Oleh: Siti Ningrum, M.Pd. (Pegiat Literasi)

Belum hilang ingatan ini, meski sudah belasan tahun berlalu. Tepatnya tahun 2006 di Bandung-Jawa Barat, tentang seorang ibu kandung lulusan ITB, yang tega menghabisi nyawa ke tiga anaknya. Kini kejadian itu terulang kembali di daerah Nias, Sumatera Utara. Tiga anak meregang nyawa di tangan ibu kandungnya sendiri. Sungguh sangat memilukan (viva.co.id, 13/12/20)

Apa yang terjadi akhir-akhir ini, terkadang di luar jangkauan akal sehat. Mirisnya lagi dilakukan oleh seorang ibu, dimana hati seorang ibu sangatlah lembut. Namun seolah perangai yang lembut itu hilang entah kemana. Apa gerangan yang tengah terjadi hari ini?

Seolah hati nurani sudah hilang dari dalam jiwa. Akal sudah tidak berfungsi dengan benar, padahal manusia yang Allah ciptakan dalam kesempurnaannya yakni diberikan akal. Namun, seolah akal tenggelam dalam bisikan nafsu sesaat.

Faktor ekonomi sering menjadi pemicu utama. Materi selalu menjadi tujuan utama. Bahkan sifat manusia yang mendasar pun lenyap. Yakni rasa iba terhadap sesama.

Seolah menjadi hal biasa ketika perempuan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Beban yang seharusnya ditanggung oleh para lelaki pun diambil alih oleh para wanita. Akhirnya penderitaan fisik dan psikis pun dirasakan oleh kaum hawa. Mau tidak mau suka atau tidak suka.

Perempuan dalam Sistem Kapitalisme

Ibu yang seharusnya mengasuh dan mendidik anak-anaknya di rumah dengan maksimal, harus rela berbagi waktu dengan keadaan lainnya, yang mengharuskannya menopang ekonomi keluarga. Bekerja di pabrik-pabrik sampai sore. Atau bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Sehingga kebersamaan dengan buah hati, hanya disisa waktu letihnya.

Hubungan ibu dan buah hati yang seharusnya hangat dan harmonis, kian terkikis terenggut oleh sistem kapitalis. Sungguh miris keadaannya.

Begitu dahsyatnya sistem kapitalis sekuler, merenggut kelembutan seorang wanita. Ibu yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga anak-anaknya dari segala kejahatan di luar. Justeru menjadi sosok monster yang begitu mengerikan.

Ekonomi yang kian mengimpit, mengharuskan setiap keluarga untuk banting tulang demi menghidupi keluarga tercinta. Tidak sedikit ibu harus pergi ke luar negeri, hanya untuk mencari nilai tukar rupiah. Perempuan dihadapkan pada situasi terberat. Tidak ada perempuan manapun yang menginginkan hal tersebut. Namun, keadaanlah yang memaksanya berbuat demikian.

Peran perempuan pun sudah tidak pada tempatnya. Kejamnya sistem kapitalisme mampu menyerabut pilar-pilar keimanan, keluarga sebagai benteng terakhir pun terkena imbasnya. Bagai buah simalakama.

Jika kita melihat negeri Indonesia yang kaya dengan sumber daya alamnya yang begitu melimpah ruah, sudah tidak seharusnya masih ada rakyat yang menderita kelaparan. Nias pun menjadi salah satu daerah yang sangat potensial dengan sumber daya lautnya, dengan pantai yang sangat indah. Bahkan menurut Gubernur Sumatera Utara Eddy Rahmayadi mengatakan, Nias adalah tempat wisata selancar ke dua di dunia setelah Hawai.

Selain itu juga kekayaan lautnya seperti ikan, rumput laut dan lain sebagainya. Juga lahan pertanian yang subur, bisa menjadi sumber pendapatan daerah. Begitu juga dengan daerah lainnya. Semuanya mempunyai sumber daya alam yang sangat luar biasa.

Akan tetapi jika pengelolaan sumber daya alamnya belum tepat, maka bisa mengakibatkan kemiskinan yang berkepanjangan.

Ketersediaan lapangan pekerjaan bagi laki-laki pun masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan perempuan. Alhasil, perempuanlah yang mempunyai peluang besar dalam mendapatkan sebuah pekerjaan.

Sistem kapitalisme telah mengubah tatanan kehidupan. Peran-peran yang tertukar bisa membuat emosi diri dan nyaris tidak terkendali. Akhirnya, tindakan di luar nalar pun kerap terjadi.

Perempuan dalam Islam

Islam sejak 14 abad yang lalu, telah menempatkan posisi perempuan begitu mulianya. Dari mulai berpakaian sampai dengan fungsi lainnya. Islam menempatkannya secara proporsional.

Seorang perempuan dalam Islam bertugas untuk menjadi ummun wa robbatul bait yaitu menjadi istri sekaligus seorang ibu bagi anak-anaknya, dan pengurus rumah tangga.

Seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya.” (HR Muslim)

Ibu dengan kelembutannya, dan dengan pendampingannya akan mengantarkan anak-anaknya kepada sebuah kesuksesan dimasa yang akan datang. Sebab dalam bimbingannya terdapat kasih sayang tulus. Seorang ibu jika tidak mengambil peran ganda, sebagai pencari nafkah, maka akan fokus dengan kewajibannya di rumah.

Hasilnya sungguh sangat luar biasa menakjubkan. Banyak contoh yang bisa diambil dari generasi terdahulu. Seperti lahirnya seorang ulama besar seperti Imam Syafii, generasi pemimpin seperti Muhammad Alfatih, dan masih banyak lagi generasi emas lainnya.

Tentu semuanya tidak serta merta, fokusnya seorang ibu dalam menjalankan amanahnya ditunjang oleh sebuah sistem yang dijalankan yakni sistem Islam.

Islam dengan seperangkat aturannya akan mengembalikan segala fungsi dan peran perempuan dengan benar dan tepat, baik fungsi keluarga atau pun fungsi lainnya. Juga dengan pengelolaan sumber daya alam. Sebagai bagian yang mendasar untuk keuangan negara. Tidak akan dibiarkan seseorang atau kelompok orang menguasainya. Dalam Islam telah diatur sedemikian rupa, antara hak milik individu dan hak milik negara atau pun hak milik lainnya.

Maka saatnya mengelola sumber daya alam dengan tepat dan benar, agar bisa mengatasi kemiskinan seluruh rakyat. Ketika kesejahteraan rakyat sudah terjamin, dengan sendirinya fitrah seorang ibu pun akan kembali kepada khitahnya. Yakni menjadi ummun wa robbatul bait. Serta akan mendidik mereka dengan bingkai kasih sayang, sehingga tercipta generasi yang akan mengukir sebuah peradaban mulia.

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap negara, untuk mengembalikan pengelolaan sumber daya alam dengan menggunakan aturan dari sang pencipta, yakni dengan aturan Islam dalam sebuah institusi negara yang bernama Khilafah.

Demikianlah, khilafah akan meriayah (mengurus) masyarakat secara proporsional. Dengan bersumber kepada kitabullah dan Assunah. Agar kesejahteraan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga tercipta sebuah kedamaian, keamanan, dan kenyamanan yang didambakan oleh setiap insan.

Saatnya mencampakkan sistem kapitalisme yang sudah terbukti merusak dan menggantinya dengan sistem Islam. Agar Allah swt memberikan keberkahan dari langit dan bumi. Seperti yang telah Allah swt janjikan dalam.Q.S. Al-Araf ayat 96, yang artinya: Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Wallohualam bishowab.

Post a Comment for "Mengembalikan Peran Perempuan Pada Khitahnya"