Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

INI BUKAN SOAL GRATIS ATAU PRESIDEN DULUAN YANG DISUNTIK

ini bukan soal antivirus gratisan atau berbayar. Bukan soal itu. Kalau untuk urusan nyawa, siapapun rela berkorban, apalagi hanya mengganti harga untuk keselamatan nyawa, saya kira tak akan ada yang berfikir untuk tidak mengambil harga, untuk keselamatan nyawa.

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Mohon maaf, ini bukan soal antivirus gratisan atau berbayar. Bukan soal itu. Kalau untuk urusan nyawa, siapapun rela berkorban, apalagi hanya mengganti harga untuk keselamatan nyawa, saya kira tak akan ada yang berfikir untuk tidak mengambil harga, untuk keselamatan nyawa.

Meskipun, rakyat punya hak fasilitas dan layanan dari negara, termasuk mendapat jaminan kesehatan secara gratis dari Negara. Bukankah, selama ini negara dibiayai oleh pajak rakyat ? Bukankah, seluruh pejabat dari Presiden hingga Lurah digaji oleh uang pajak rakyat ? Lantas apa fungsinya negara, jika layanan kesehatan rakyat masih disuruh bayar, padahal seluruh urusan rakyat telah dipajaki.

Ini juga bukan soal teladan, apakah Presiden atau menteri disuntik antivirus duluan. Bukan. Mau duluan, juga tak ada jaminan apakah akan disuntik dengan bahan antivirus yang sama yang akan disuntikkan kepada rakyat. Mau belakangan, juga tak menjamin yang disuntik duluan akan aman.

Persoalannya sederhana. Apakah antivirus itu aman ? Apakah antivirus itu bisa melindungi kesehatan ? Apakah antivirus itu menyelamatkan nyawa atau sebaliknya ?

Ini sebenarnya, akar masalah kenapa vaksin Sinovac ditolak rakyat. Bukan soal gratis, bukan soal Presiden duluan. Tapi soal, apakah vaksin Sinovac aman ? Apakah vaksin Sinovac efektif menangkal viru Corona ? Bagaimana kabar hasil uji Sinovac oleh Biofarma ? Kenapa tidak ada publikasi hasil uji klinis vaksin tersebut ?

Yang menjadi soal, negara seperti kamboja saja, negara kecil yang jauh dari negara kita, ogah menjadi kelinci percobaan vaksin asal China ini. Perdana Menteri Hun Sen mengatakan bahwa bahkan jika suatu negara memberikan vaksin Covid-19, yang belum disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia secara gratis, dia akan menolak menerimanya untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Menurut Pakar Epidemiologi dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan, saat ini belum ada data terkait vaksin Covid-19 Sinovac aman atau tidak. Vaksin Sinovac ini secara jelas masih dalam uji fase tiga. Maka, pemerintah harus hati-hati untuk melakukan program vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

Pemerintah China meskipun mempunyai vaksin Sinovac, telah memutuskan membeli 100 juta dosis vaksin dari BioNTech SE Jerman yang akan digunakan tahun depan. Shanghai Fosun Pharmaceutical Group Co Ltd mengumumkan telah mendapat persetujuan pemerintah China akan membeli setidaknya 100 juta dosis vaksin COVID-19 dari BioNTech SE Jerman.

Tapi anehnya, Indonesia melalui Bio Farma mendatangkan vaksin Sinovac ke Indonesia yang totalnya 3 juta dosis dilakukan secara bertahap. Beberapa waktu lalu, sebanyak 1,2 juta dosis telah tiba di Indonesia dan sisanya akan datang pada akhir 2020 sebanyak 1,8 juta dosis.

Terus terang, kami rakyat ragu dengan vaksin bikinan China tersebut. Kalau cuma HP China, Mobil China, tak masalah. Tapi kalau vaksin ? Ini menyangkut keselamatan ratusan juta rakyat.

Mohon maaf Pak Presiden, saya usul sebaiknya 3 juta dosis vaksin Sinofac disuntikkan ke Pak Presiden saja semua. Kami vaksinasi dengan yang alamiah saja, yang dikaruniakan oleh Allah SWT. [].

Post a Comment for "INI BUKAN SOAL GRATIS ATAU PRESIDEN DULUAN YANG DISUNTIK"