Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di balik Gemerlapnya Perayaan Tahun Baru

Jika lebih dalam dipahami, sesungguhnya gemerlapnya Tahun Baru Masehi tidak lepas dari senjata kafir barat pengusung ide Sekularisme Liberal untuk menjamurkan budaya dan gaya hidupnya di negeri- negeri muslim agar kaum muslim dapat hidup dan berbudaya sesuai dengan paham sekularisme dan pemikiran pemikiran turunannya seperti pluralisme atau membenarkan agama selain Islam.

Oleh : Mariana, S.Sos (Guru di salah satu sekolah swasta, Kolaka - Sulawesi Tenggara)

Menjelang akhir bulan desember, ada rutinitas tahunan yang biasa dirayakan oleh sebagian manusia yakni acara pergantian tahun untuk menyambut tahun berikutnya. Sayangnya, ada sebagian dari yang merayakan justru kurang atau bahkan tidak paham tentang asal muasal perayaan tahun baru, lebih ironi malam pergantian tahun justru dibumbui dengan berbagai adegan kemaksiatan.

Dilansir oleh lampung24jam.com, 30 Desember 2020, Jelang Tahun Baru 2021, Penjualan Kondom di Lampung Utara Meningkat. Tentu sudah dapat ditebak peruntukkan apa dari larisnya kondom di pasaran. Padahal sejatinya malam pergantian tahun harusnya menjadi perenungan dari kesalahan yang dilakukan pada tahun kemarin untuk berubah menjadi lebih baik.

Bagi kaum muslim, tentunya sebelum melakukan sesuatu harus di pahami apakah itu perbuatan yang dibenarkan atau tidak, termasuk dalam hal perayaan Tahun Baru Masehi, sebab segala perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat, maka ilmu itu penting sebelum berbuat.

Asal Muasal Tahun Baru Masehi

Dalam buku The World Book Encyclopedia tahun 1984, tentang Tahun Baru, dikatakan: “Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini ( 1 Januari ) kepada Janus, dewa segala gerbang pintu-pintu, dan permulaan (waktu).

Dalam Mitologi Romawi Dewa Janus adalah sesembahan kaum pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama dewa Chronos. Sejarah pelestarian budaya pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani, dan dikawal oleh sebuah persaudaraan rahasia yang disebut Freemasons. Freemasons adalah kaum yang memiliki misi untuk melenyapkan ajaran para nabi dari dunia ini.

Bulan Januari (bulannya Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Solstice, yaitu hari kaum pagan penyembah matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin. Puncak Winter Solstice jatuh pada tanggal 25 Desember, sedang tanggal 1 Januari sendiri adalah seminggu setelah pertengahan Winter Solstice, yang juga termasuk dalam ritual dan perayaan Winter Solstice dalam paganisme.

Kaum pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau hari janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. Kaum pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet. Bagi orang-orang Romawi merayakan Tahun Baru ini biasa dengan berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan keji lainnya, persis seperti yang terjadi saat ini.

Maka sudah jelas bahwa Tahun Baru Masehi sesungguhnya bukan berasal dari Islam dan merayakannya adalah suatu keharaman, sebab Tasyabbuh bil Kuffar yakni menyerupai ciri khas kaum kuffar dengan mengikuti kebiasaan dari akidah mereka.

Jika lebih dalam dipahami, sesungguhnya gemerlapnya Tahun Baru Masehi tidak lepas dari senjata kafir barat pengusung ide Sekularisme Liberal untuk menjamurkan budaya dan gaya hidupnya di negeri- negeri muslim agar kaum muslim dapat hidup dan berbudaya sesuai dengan paham sekularisme dan pemikiran pemikiran turunannya seperti pluralisme atau membenarkan agama selain Islam.

Dapat kita saksikan saat ini, kaum muslim tidak peduli lagi dengan esensi tahun baru, mereka tetap merayakan meski penuh dengan unsur keharaman di dalamnya, bukan hanya ikut latah menggunakan topi kerucut dan tiup terompet, tapi mereka juga terjun bebas mengikuti gaya hidup hedonisme dan permisivisme yakni gaya hidup yang mencari kebahagiaan sebebas mungkin tanpa batas dan serba boleh.

Bahkan konsumerisme atau gaya hidup boros dilakoni sebagai bumbu dalam acara tahun baru. menghambur-hamburkan uang, membakar uang untuk perayaan kembang api dan petasan, bahkan merayakan tahun baru dengan pacar sambil berzina.

Iklan di media pun tidak ketinggalan penuh dengan nuansa promo tahun baru masehi sehingga banyak pemuda muslim terdorong untuk menyemarakkannya, itu semua adalah racun yang bisa merusak kaum muslimin karena dapat menjauhkan kaum muslim dari pemikiran, perasaan dan budaya serta gaya hidup yang Islami dan menganggap bahwa Tahun Baru Masehi legal bagi kaum muslim.

Padahal sejatinya kemilaunya tahun Baru Masehi adalah senjata kafir barat agar kaum muslim tetap menjadikan barat sebagai kiblat dalam hal budaya dan gaya hidup. Namun anehnya banyak dari kaum muslim justru bangga menjadikan barat sebagai acuannya padahal mereka memiliki konsep hidup yang berasal dari akidahnya yang jauh lebih baik dari hembusan budaya barat yang kafir.

Pemuda muslim tertipu dengan budaya barat yang tampak gemerlap padahal budaya tersebut sangat jauh dari ajaran Islam, Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tak bakal terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persi dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu.”(HR. Bukhari no. 7319).

Jadi mengucapkan selamat tahun baru, menyibukkan diri dengan tahun baru masehi, meniup trompet, dan hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan orang-orang kafir adalah haram dalam Islam.

Sayangnya menuntaskan perayaan-perayaan yang merusak akidah seperti ini mustahil selesai jika hanya dilakukan oleh individu, urusan ini perlu keterlibatan negara dalam menghapus semua perayaan yang merusak akidah.

Juga sangat mustahil berharap pada sistem demokrasi, sebab perayaan ini justru dijamin kebebasannya oleh demokrasi, jadi selama demokrasi eksis maka akidah Islam akan sengaja terus dijauhkan dari umat. Jadi solusinya hanya islam.

Didalam Khilafah sendiri hal - hal yang merusak akidah, tidak akan punya kesempatan untuk menyebar di kalangan umat muslim. sebab, Khilafah memiliki tanggung jawab untuk membina dan memelihara kemurnian akidah umat Islam.

Khilafah akan menerapkan berbagai kebijakan sehingga dapat mewujudkan akidah yang bersih, kuat dan berpengaruh pada diri kaum muslimin, untuk mendukung hal ini Khilafah akan memberikan pendidikan gratis yang bisa di dapatkan seluruh warga negaranya, kurikulum pendidikan di seluruh lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta dipastikan sesuai akidah Islam dan tidak boleh bertentangan sedikitpun dengannya.

Sehingga terbentuklah kepribadian siswa yang sejalan dengan akidah Islam, mereka punya benteng untuk menghalau segala pemkiran merusak, pemuda akan sibuk menaati syariah islam, menjauhi segala keharaman dan juga menjadi para pengemban dakwah, selain itu Khilafah akan melarang segala bentuk penyebaran paham-paham atau perilaku yang bertentangan dengan aqidah Islam.

Khilafah akan melindungi muslim dari segala pemikiran yang berpotensi merusak umat muslim, termasuk pada media massa, segala media cetak maupun elektronik tidak boleh menyiarkan berita dan program apapun yang bertentangan dengan akidah Islam, Jadi tidak boleh mengiklankan atau menayangkan program tahun baru masehi, praktek-praktek perayaan yang tidak sesuai dengan Islam juga akan di hapus.

Hanya dengan Khilafah kehidupan manusia akan bersih dari hal-hal yang merusak aqidah. Karena itu perlu memperjuangkan keberadaannya dan itu kewajiban atas semua kaum muslim, sebab memperjuangkan Khilafah tidak mungkin sendirian, harus ada kelompok dakwah Islam Ideologis.

Kelompok dakwah Islam Ideologis akan mengkaji Islam secara mendalam, menyebarkan Islam seluas-luasnya serta bersama-sama memperjuangkan tegaknya Khilafah yang menerapkan aturan Asy-Syar’i yakni Allah SWT. Wallahu a’lam ( ***)

Post a Comment for "Di balik Gemerlapnya Perayaan Tahun Baru"