Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Derita dan Krisis Rohingya

Derita kaum Muslimin di Rohingya nyatanya belum berakhir. Mereka masih teraniaya dan diasingkan. Kini mereka kembali terancam, pada hari Jumat (04/12), Pihak berwenang di Bangladesh mulai merelokasi kloter pertama pengungsi Rohingya yang berjumlah lebih dari 1.500 orang. Ini merupakan bagian dari rencana Bangladesh untuk merelokasi pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil, meski mendapat kecaman dari sejumlah kelompok hak asasi manusia. Pejabat angkatan laut mengatakan sebanyak tujuh kapal dikerahkan untuk mengangkut kaum minoritas Muslim Myanmar ini dan dua kapal lainnya untuk mengangkut logistik.

Oleh Yusri Lubby Kamilah

Derita kaum Muslimin di Rohingya nyatanya belum berakhir. Mereka masih teraniaya dan diasingkan. Kini mereka kembali terancam, pada hari Jumat (04/12), Pihak berwenang di Bangladesh mulai merelokasi kloter pertama pengungsi Rohingya yang berjumlah lebih dari 1.500 orang. Ini merupakan bagian dari rencana Bangladesh untuk merelokasi pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil, meski mendapat kecaman dari sejumlah kelompok hak asasi manusia. Pejabat angkatan laut mengatakan sebanyak tujuh kapal dikerahkan untuk mengangkut kaum minoritas Muslim Myanmar ini dan dua kapal lainnya untuk mengangkut logistik.

Sebelumnya, lebih dari 300 pengungsi Rohingya dibawa ke Bhashan Char pada awal tahun ini setelah ratusan pengungsi tersebut ditemukan terombang-ambing di tengah laut saat hendak melarikan diri dari Bangladesh. (VIVA.co.id).

Nasib pengungsi Rohingya begitu memilukan, pemerintah Bangladesh menganggapnya seolah beban yang seharusnya tidak mereka pikul, begitupun sikap para pemimpin muslim terhadap pengungsi Rohingya, seharusnya mereka dilindungi dan dipenuhi kebutuhan asasinya tapi nyatanya terbalik, pemimpin muslim bungkam dan tidak peduli terhadap Muslim Rohingya.

Kaum muslim Rohingya selama beberapa dekade memang telah mengalami diskriminasi dari pemerintah Myanmar yang menolak mengakui kemerdekaan mereka. Disisi lain pihak PBB, UNHCR, HRW, hanya menjadi Lembaga konvensi, tidak bisa menjadi gantungan harapan untuk menyelesaikan kasus muslim Rohingya. Padahal PBB sendiri telah menetapkan bahwa Muslim Rohingya adalah kaum yang paling teraniaya di dunia, nyatanya PBB tidak mengambil tindakan tegas pada pemerintah Myanmar.

Inilah Nasionalisme, yang dalam kamus Webster tertulis, bahwa salah satu bagian dari nasionalisme adalah a sense of nasional consciousness exalting one nation above all other (satu perasaan untuk mengagungkan satu bangsa diatas bangsa-bangsa yang lain). Paham Nasionalisme menurut Hans Kohn juga didefinisikan bahwa kesetiaan tertinggi suatu individu harus diserahkan kepada Negara kebangsaan.

Paham inilah yang menghilangkan Ukhuwah Islamiyah atas nama Nasionalisme. Negeri-negeri Muslim menutup mata terhadap tragedi yang terjadi terhadap Muslim Rohignya. Mereka lebih mementingkan urusan Negerinya sendiri tanpa melibatkan nasib saudaranya. Hingga mereka mengatakan Muslim Rohingya bukanlah urusan mereka karena bukan bagian dari bangsanya.

Pada dasarnya Nasionalisme adalah ikatan yang lemah. Salah satu kelemahannya adalah ketidakmampuannya mempersatukan manusia secara permanen. Dalam kasus Muslim Rohingya Nasionalisme mematikan rasa dan nurani manusia, melihat bagaimana mereka terombang ambing di laut tanpa tahu akhir dari nasib mereka sebab tak diterima dibanyak Negara. Nasionalisme kerap dijadikan alasan untuk mencampakkan saudara seiman. Paham nasionalisme serta konsep negara bangsa telah memutilasi tubuh umat Islam hingga kehilangan rasa persaudaraan hakiki di bawah akidah Islam.

Rohingya Butuh Khilafah

Konsep Nation State (Negara Bangsa) semakin mempersulit Negara-Negara lain untuk menolong Muslim Rohingya, padahal kondisi mereka saat ini sudah sangat memprihatinkan dan membutuhkan pertolongan.

Masalah Muslim Rohingya tidak bisa diselesaikan hanya dengan menunggu resolusi dari PBB. Sudah saatnya seruan “Khilafah untuk Rohingya”. Hanya Khilafah yang mampu menyelamatkan Muslim Rohingya dari ketertindasan. Negara Khilafahlah yang bisa menerapkan secara nyata konsep bahwa muslim yang satu dengan muslim yang lain bagaikan satu tubuh karena tidak ada lagi sekat-sekat kebangsaan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur” (HR Bukhari-Muslim).

Dengan adanya Khilafah, akan terjadi penyatuan Negeri-Negeri Muslim dan penghapusan garis batas nasional. Dengan kata lain, Khilafah akan menyatukan wilayah Rakhine Myanmar, dengan tanah Bangladesh, Pakistan, Kepulauan Indonesia, Malaysia dengan seluruh tanah kaum muslimin diseluruh dunia.

Oleh karena itu, satu-satunya solusi atas permasalahan kaum muslim Rohingya di Myanmar dan juga nasib muslim lainnya di seluruh dunia adalah tegaknya Institusi pemersatu Daulah Khilafah Islamiyah yang akan menjadi pelindung umat Islam dan mewujudkan kembali peradaban Islam yang mulia.

Wallahu’alam..

Post a Comment for "Derita dan Krisis Rohingya"