Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PARADOKS KEBERHASILAN TANGANI PANDEMI, WATAK ASLI DEMOKRASI

Pada Oktober lalu, muncul klaim Presiden Jokowi dodo soal kondisi pandemi di Indonesia. Mulai dari soal ekonomi hingga angka kesembuhan Covid-19 dan peringkat Indonesia di dunia dalam hal total kasus Covid-19. Seluruh data yang disampaikan dikemas sedemikian rupa hingga akhirnya menimbulkan persepsi publik bahwa penanganan Corona di Indonesia cukup baik dibandingkan dengan negara lain. Klaim ini berdasarkan perbandingan kondisi Indonesia dengan negara-negara yang juga memiliki banyak penduduk.

Oleh : Utin Umm Alzam (Aktivis Kabupaten Bandung)

Pada Oktober lalu, muncul klaim Presiden Jokowi dodo soal kondisi pandemi di Indonesia. Mulai dari soal ekonomi hingga angka kesembuhan Covid-19 dan peringkat Indonesia di dunia dalam hal total kasus Covid-19. Seluruh data yang disampaikan dikemas sedemikian rupa hingga akhirnya menimbulkan persepsi publik bahwa penanganan Corona di Indonesia cukup baik dibandingkan dengan negara lain. Klaim ini berdasarkan perbandingan kondisi Indonesia dengan negara-negara yang juga memiliki banyak penduduk.

Kini, pemerintah kembali memberikan klaim keberhasilan penanganan Corona, yang telah diakui dunia. Yaitu berupa undangan WHO kepada Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Undangan tersebut berupa Ajakan untuk ikut diskusi yang diadakan WHO dan ajakan untuk bergabung dalam konferensi pers bersama Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus serta tiga Menkes negara lain. (Bisnis.com, 06/11/2020)

Paradoks keberhasilan Tangani pandemi

Klaim ini seolah menjadi senjata ampuh untuk menunjukkan bahwa Rezim ini telah berhasil dalam menangani pandemi. Namun, hal tersebut menjadi pro-kontra karena dinilai sebagai ilusi semata.

Pertama, Mengenai klaim jokowi dalam penanganan covid di Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain, faktanya adalah bahwa total kasus positif di Indonesia memang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negara AS (7,6 juta kasus positif), India (6,5 juta kasus positif), Brazil (4,9 juta kasus positif), dan Rusia (1,2 juta kasus positif). Kasus positif Covid-19 yang tercatat di negara ini bahkan tidak sampai 30 persen bila disandingkan dengan Rusia yang berada di urutan keempat kala itu.

Namun, Presiden Jokowi tidak menampilkan total tes yang telah dilakukan oleh 4 negara tersebut. Total tes Covid-19 yang telah dilakukan Indonesia berada di urutan ke-24 di dunia atau 3,5 juta spesimen pada saat pernyataan Presiden dibuat. Sementara itu, AS, India, Rusia, dan Brasil telah menguji lebih dari 15 juta spesimen. Secara detail, masing-masing negara, secara berurutan melaporkan pengujian terhadap 110,5 juta spesimen, 77,9 juta spesimen, 47,3 juta spesimen, dan paling rendah 17,9 juta spesimen.

Dari sisi tes, prestasi Indonesia jauh lebih buruk bila melihat tes per 1 juta penduduk. Negara ini bertengger pada urutan 158, berada di antara Sri Langka dan Bangladesh. AS dan Rusia melaporkan tes per 1 juta penduduk lebih dari 300.000 orang. India dan Brasil mencatat 56.271 orang dan 84.057 orang. Indonesia masih jauh dari itu, atau hanya 12.584 orang. Sungguh miris bukan?

Kedua, Berkenaan dengan Undangan WHO. Epidemiolog dari Griffith University di Australia Dicky Budiman tak yakin undangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) kepada Menkes Terawan Agus Putranto terkait keberhasilan penanganan Covid-19 di Indonesia. Tidak ada pernyataan keberhasilan Indonesia dalam pengendalian pandemi. Undangan tersebut hanya mengakui keberhasilan indonesia dalam menerapkan kegiatan intra-aksi (intra action review/IAR) Covid-19. IAR merupakan kegiatan perencanaan Indonesia dalam menganggulangi Pandemi Covid-19. Tujuannya agar setiap negara bisa mawas diri terhadap capaian dan kekurangan dalam pengendalian pandeminya. Tujuan IAR ini juga tidak semata untuk mendapat pengalaman keberhasilan, tetapi pengalaman tantangan atau hambatan atau kegagalan dalam menangani Covid-19.

Masih pecayakah dengan rezim ini? Watak yang sesungguhnya adalah bukan untuk mewujudkan kemaslatan rakyat, tetapi hanya berusaha mempertahakan kursi kepemimpinan dengan berbagai ‘make up’ politiknya.

Padahal seyogyanya seorang penguasa wajib mengupayakan segala cara demi keselamatan nyawa rakyat. Terlebih di saat terjadi wabah pandemi, seorang penguasa tentu wajib berjuang sekuat tenaga agar tidak bertambah lagi korban jiwa. Penguasa pun harus berupaya keras mencari vaksin Covid-19 dengan mengerahkan segenap sumber daya manusia dan lembaga riset yang dimiliki. Serta mendukung anggaran untuk riset tersebut bukan malah sibuk mengolah kata, data dan informasi dalam penanganan pandemi yang sejatinya hanya ilusi.

Inilah sistem demokrasi kapitalis, yang telah melahirkan penguasa dan negara yang gagal menjamin keselamatan dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Watak aslinya Hitung-hitungan untung dan rugi yang menjadi pertimbangan, tidak ada makan siang gratis, sekalipun harus menutupinya dengan mengelabui masyarakat menggunakan ‘make up’ tebal nan cantik hanya untuk menutupi kebusukan-kebusukannya.

Sistem Islam berhasil tangani pandemi tanpa basa basi

Berbeda dengan Islam. Sebagai agama sempurna, Islam telah teruji kemampuannya dalam mengatasi dan menangani seluruh permasalahan kehidupan. Sejarah mencatat, selama hampir 14 abad lamanya, penguasa Islam (khalifah) dan negara Islam (khilafah) mampu berdiri di garda terdepan dan selalu ada bagi rakyatnya dalam segala kondisi. Termasuk saat terjadi wabah pandemi. Penguasa dan negara Islam akan berupaya maksimal secara menyeluruh memutus mata rantai penyebaran wabah pandemi agar tidak terus memakan korban jiwa.

Seorang penguasa yang bervisi Islam, akan menjadikan keimanannya sebagai landasan dalam memutuskan kebijakan. Khalifah menyadari betul bahwa tugasnya adalah mengurus urusan umat, memberikan pengamanan dan perlindungan kepada mereka apa pun resikonya. Khalifah tidak akan mengorbankan keselamatan dan nasib rakyat atas dasar pertimbangan ekonomi, materi. Apalagi menukarnya demi kepentingan segelintir oligarki. Itulah sebabnya, khalifah tidak perlu basa-basi busuk hanya demi meraih simpati masyarakat dan dunia.

Negara khilafah akan melahirkan sosok-sosok pemimpin yang bertakwa kepada Allah, takut kepada-Nya, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya hingga membuatnya bersungguh-sungguh berusaha mengurus seluruh urusan rakyatnya. Ia pun sadar betul bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah saw. bersabda:

“Seorang imam adalah raain (pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya), dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah penjelasan tentang betapa sempurnanya Islam dalam mengurusi urusan umat. Tak dapat diragukan lagi, hanya Islamlah satu-satunya sistem yang mampu memberikan solusi bagi seluruh permasalahan kehidupan. Penerapan syariat Islam secara keseluruhan dalam semua aspek kehidupan oleh negara khilafah akan memastikan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bi ash-shawwab

Post a Comment for "PARADOKS KEBERHASILAN TANGANI PANDEMI, WATAK ASLI DEMOKRASI"