Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Beri Panggung untuk Kapitalisme

Buku ini menarik. Secara keseluruhan kita sudah mafhum bahwasanya kapitalisme adalah akidah batil. Akan tetapi fakta yang ditampilkan oleh Michael J Sandel benar-benar membuat mata kita terbelalak. Bahkan penulis sendiri yang merupakan pengajar di Harvard University untuk mata pelajaran Goverment Theory, belum bersua dengan solusi sahih untuk mengatasi seluruh kegilaan yang ditampilkan ideologi kufur ini.

Oleh Lulu Nugroho

Buku ini menarik. Secara keseluruhan kita sudah mafhum bahwasanya kapitalisme adalah akidah batil. Akan tetapi fakta yang ditampilkan oleh Michael J Sandel benar-benar membuat mata kita terbelalak. Bahkan penulis sendiri yang merupakan pengajar di Harvard University untuk mata pelajaran Goverment Theory, belum bersua dengan solusi sahih untuk mengatasi seluruh kegilaan yang ditampilkan ideologi kufur ini.

Yang menarik juga adalah upaya smart menyandingkan dua buku ini dalam satu kelas. Materi seperti runut, terangkai berurutan. Setelah sebelumnya di Buku 'Why Nations Fail' disampaikan gagasan bahwa institusi negara dan ekonomi serta insentif menjadi penentu gagal atau tidaknya sebuah negara, atau sejahteranya sebuah bangsa. Maka buku ini, justru menampilkan hal mengerikan dari insentif tanpa batas.

Sebab insentif yang kebablasan menciptakan kondisi 'Market Triumphalism' atau kedigdayaan pasar, kata Sandel. Segala hal bisa dibeli dan dijual, hingga akhirnya kebutuhan primer dan mendasar yang seharusnya menjadi hak umat dan merupakan tanggung jawab negara, justru berbayar dengan harga melangit. Pada akhirnya kesejahteraan diukur dengan uang. Semakin kaya seseorang, maka ia akan semakin mudah mendapat hak-haknya, hingga menjadi sejahtera.

Sementara sebaliknya, rakyat miskin semakin blangsak, habis ditelan bumi, sebab tidak mampu membeli 'sejahtera'.

"We live at a time when almost everything can be bought and sold. Over the past three decades, markets and market values have come to govern our lives and never did before", kata Sandel.

Kebebasan menjadi racun, melumpuhkan sendi nilai agama, bahkan memorakporandakan nilai kehidupan. Secara gamblang beberapa contoh ditulis oleh Sandel seperti upgrading penjara, outsourcing pregnancy atau legal surogate mother atau hak melepas emisi karbon ke atmosfer. Seluruhnya dihitung, punya nominal sendiri, uang bagaikan dewa.

Masyarakat ekonomi berubah menjadi masyarakat pasar atau market society. Menuhankan profit. Cara hidup yang berubah sehingga nilai-nilai pasar menyerap dalam sendi-sendi kehidupan. Hal ini tampak pada COLI (coorporate owned life insurance), yakni menjual polis asuransi jiwa karyawan level CEO hingga rendahan, janitors insurance.

Inilah fakta keserakahan kapitalisme, market in life and death. Karyawan malahan tidak tahu bahwa diri mereka, anak dan keluarga, berharga bagi perusahaan, baik hidup (bahkan saat pensiun dan dipecat) maupun matinya, asuransinya bisa diklaim perusahaan. Menguntungkan, sebab nyawa mereka diasuransikan, sebagai komoditas.

Maka jika Sandel mencari nilai batasan moral, moral limit of the market, sungguh ia akan tersesat selama-lamanya. Dalam pandangan kapitalisme, kebebasan selalu diberi panggung. Hasilnya adalah sampah-sampah peradaban yang tidak berkesudahan. Allahumanshurnaa bil Islam.

#Insight What Money Can't Buy #Owob

Post a Comment for "Jangan Beri Panggung untuk Kapitalisme"