Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bahasa Arab di Tengah Benturan Peradaban

Menaruh perhatian penuh, mempelajari, menyampaikan dan menyebarluaskan bahasa Arab, merupakan salah satu langkah utama membangkitkan umat Islam, karena Bahasa Arab adalah kunci seluruh ilmu Islam. Al-Qur’an, al-Hadits, sirah nabawi, literatur fikih, tafsir, sejarah Islam, beserta semua warisan intelektual dan peradaban umat Islam, hanya bisa dipahami dengan bahasa Arab.

Menaruh perhatian penuh, mempelajari, menyampaikan dan menyebarluaskan bahasa Arab, merupakan salah satu langkah utama membangkitkan umat Islam, karena Bahasa Arab adalah kunci seluruh ilmu Islam. Al-Qur’an, al-Hadits, sirah nabawi, literatur fikih, tafsir, sejarah Islam, beserta semua warisan intelektual dan peradaban umat Islam, hanya bisa dipahami dengan bahasa Arab.

Musuh Islam memerangi bahasa Arab, karena mereka tahu bahasa Arab adalah satu-satunya perantara memahami secara benar beragam ilmu Islam tersebut, juga karena bahasa Arab adalah wadah penampung peradaban dan sejarah umat Islam, serta sebagai faktor pemersatu umat di dalam Islam.

Benar sekali, musuh Islam mengetahui sebagaimana kita pun juga mengetahui, generasi Islam jika tidak mampu memahami bahasa Arab, maka tidak akan bisa memahami Islam secara benar. Disaat tidak mampu memahami Islam, maka lenyap sudah umat, kekuasaan dan peradaban mereka. Lenyap pula kemuliaan, kehormatan, identitas dan negeri mereka, serta generasi ini akan menjadi pembebek dan kalah.

Dengan berat hati, kita sampaikan, inilah yang menjadi keinginan musuh Islam, dan mereka terus bekerja sepanjang waktu demi mewujudkan tujuan tersebut dengan segala cara, daya dan sarana.

Di dalam kurikulum pendidikan, para imperialis menyusun kurikulum menyesatkan generasi Islam. Pada program penyiaran dan informasi, mereka pun melakukan rekayasa. Termasuk di dalam buku, tulisan dan disertasi, yang diterbitkan sebagian generasi muslim dalam penelitian akademik, sejarah dan sosial mereka, beserta semua yang ditulis di bawah bimbingan profesor non muslim, yang tidak ingin kebaikan bagi Islam, kaum muslim, bahasa Arab dan peradaban Islam. Bahkan mereka memendam permusuhan terhadap peradaban dan sejarah Islam, serta berusaha membuat ragu generasi muslim terhadap kemampuan bahasa Arab mengimbangi kehidupan, pengetahuan modern dan interaksi bahasa dengan penemuan kemajuan teknologi manusia.

Padahal tingkat perkembangan, penyebaran dan kemajuan bahasa dari sebuah bangsa atau umat manapun di dunia ini, sangat bergantung pada sejauh mana perhatian dan keseriusan, atau penghormatan dan kecintaan, generasi pemilik bahasa itu sendiri. Karena bahasa adalah lisan dan representasi akal seseorang, dengan bahasa dia menyampaikan pikiran, budaya dan identitasnya. Sebagaimana disampaikan penyair berkaitan dengan hal ini:

رأيت لسان المرء وافدَ عقله...وعنوانَه فانظر بماذا تُعَنْوِنُ

Aku melihat ucapan seseorang adalah representasi akal dan pengenal dirinya, maka perhatikanlah dengan apa anda dikenali.

Seorang muslim yang setia kepada agama dan umatnya, semestinya setia pula kepada bahasa yang agung ini, bahasa al-Qur’an yang mulia dan Sunnah yang suci, bahasa penduduk syurga. Seorang muslim harus mencintai bahasa ini, karena dia mencintai Allah ta’ala yang menurunkan wahyu mulia kepada utusan-Nya yang terpercaya dengan bahasa Arab yang jelas, juga karena mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang Arab mulia, yang dianugerahi memiliki ketinggian dan kedalaman bahasa, dan orang yang paling fasih berbahasa Arab. Jika sebelumnya berkenaan dengan urgensitas bahasa bagi semua manusia, maka ini berkenaan dengan urgensitas bahasa Arab secara khusus dan posisi bahasa Arab bagi umat Islam sebagai bahasa wahyu Allah, bahasa utusan-Nya, bahasa fikih, peradaban dan sejarah mereka.

Ketika faktanya demikian, maka bagaimana bisa kaum muslim tidak mencintai bahasa ini? Tidak menaruh perhatian, menjaga, menggunakan dalam pendidikan dan menyebarluaskan ke seluruh belahan dunia?!

Jika sebelumnya berkenaan dengan urgensitas bahasa Arab bagi setiap muslim, apapun bangsa dan etnisnya, maka bagaimana pula pentingnya bahasa Arab bagi muslim Arab kaum pemilik bahasa ini, sebagai bahasa ibu, bahasa keluarga dan kerabat, dan bahasa leluhurnya?!

Bahasa Arab yang indah dan agung ini ketika ingin berkembang, maju dan tersebar, maka mesti terikat dengan makna dan konsepsi yang berkaitan dengan pandangan seorang muslim terhadap agama Islam yang lurus, al-Qur’an yang mulia, as-Sunnah yang suci, serta terhadap peradaban dan sejaran Islam. Dalam konteks ini kita memahami, bahasa Arab tidak terpisahkan dengan itu semua, bahasa Arab digunakan memahami nash dan hukum syara yang beragam, untuk membedakan mana nash yang qath’i dan nash yang zhanni, serta menggali berbagai hukum dan masalah fikih yang dibutuhkan demi kehidupan kaum muslimin di setiap waktu dan tempat; sehingga Islam senantiasa layak diterapkan hingga hari Kiamat, sebagaimana yang dikehendaki Allah, dan sebagaimana dijelaskan wahyu-Nya yang mulia di dalam nash-nash tersebut yang menggunakan bahasa Arab yang jelas.

Jadi bahasa Arab, sebagaimana diketahui, merupakan salah satu syarat dalam berijtihad. Bahasa Arab adalah perangkat dan sarana para fukaha, ulama dan mujtahid, memahami dan menggali hukum syara’ terkait kehidupan manusia, serta terkait berbagai masalah dan problem baru hingga hari Kiamat. Sebenarnya, hubungan erat antara bahasa Arab dengan aspek pemikiran dan spiritual seorang muslim inilah yang menciptakan motivasi dan keinginan sejati untuk memberi perhatian, mengkaji dan mencintai bahasa Arab. Pada gilirannya, kecintaan dan penguasaan terhadap bahasa ini akan menguatkan ikatannya dengan agama dan akidahnya, menguatkan pemahaman kitab dan sunnah nabi-Nya, dan menguatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang sejarah dan peradaban umatnya.

Keterkaitan erat bahasa Arab dan agama Islamlah yang mewujudkan semangat dan kesungguhan kaum muslimin dalam berinteraksi dengan agama, bahasa dan warisan intelektual mereka, yang kemudian menghantarkan pada kebangkitan umat mulia ini, kembalinya kehidupan baru yang kuat, mulia, terbangun peradaban dan memimpin dunia menuju puncak kestabilan serta kebahagiaan manusia.

Tidak berlebihan jika dikatakan, rendahnya tingkat perhatian sebagian kaum muslimin pada bahasa Arab, disebabkan tidak mampu mengkaitkan antara bahasa dan agama, hal ini dikarenakan terputusnya perasaan Islam mereka. Selain itu, penelantaran perkara bahasa ini, baik disengaja atau tidak, juga dipengaruhi perbedaan kondisi media informasi dan lembaga pendidikan di negeri kaum muslim dan situasi pemerintahannya. Benar-benar memilukan, penelantaran bahasa Arab ini kita lihat dilakukan bahkan oleh oknum penutur aslinya sendiri, di beberapa wilayah dan negara yang mengklaim bangsa Arab!!

Menyedihkan sekaligus memalukan, kedudukan bahasa Arab direndahkan dan ditelantarkan sebagian bangsa Arab dan kaum muslimin. Mereka menyia-nyiakan kenikmatan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan, pada saat saudara sesama muslim kita yang di luar Arab justru sangat rindu belajar dan menguasai bahasa ini, demi bisa mengkaji kitab Rabb mereka yang Maha Kuasa, hadits Rasul-Nya yang mulia dan warisan intelektual umat yang abadi.

Menyedihkan sekaligus memalukan juga, bangsa Arab mengeluarkan ratusan juta bahkan milyaran dolar demi diakuinya bahasa Arab sebagai bahasa resmi di lembaga yang bernama Organisasi PBB, Dewan Keamanan dan berbagai organisasi internasional maupun regional, kemudian setelah itu nampak sebagian penguasa Arab, termasuk banyak pejabat dan kaum terdidiknya, malah berpidato dengan bahasa asing di organisasi-organisasi internasional itu sendiri. Bahkan dalam banyak kesempatan, adapula yang berbuat demikian di pusat negeri sendiri ketika dikunjungi sebagian tamu luar negeri, dan jika mereka yang jadi tamu luar negeri lebih manis lagi berbahasa asing. Sikap yang demikian, adalah bukti tidak adanya rasa hormat terhadap bahasa Arab, atau suatu bukti ketidakmampuan menguasai dan berpidato berbahasa Arab fasih, atau terdapat perasaan rendah dan berusaha tampil di hadapan asing dengan identitas kedaerahan serta berupaya berbicara dan menguasai bahasa bangsa-bangsa yang seolah dianggap maju. Semua itu dalam pandangan penulis, memalukan dan sebuah aib.

Penguasaan beragam bahasa modern dan bahasa pengetahuan kontemporer adalah sesuatu yang baik dan diperintahkan, namun akan lebih baik lagi jika dibarengi penguasaan terhadap bahasa Arab, bahkan penguasaannya bakal lebih baik lagi, sebab penguasaan terhadap bahasa Arab akan sangat membantu dalam menguasai bahasa asing. Hal ini sudah terbukti dan diketahui faktanya bukan rahasia lagi di kalangan pengkaji bahasa Arab dan bahasa asing tersebut. Di sisi lain, bukankah bahasa Arab itu termasuk bahasa modern dan sama-sama termasuk bahasa pengetahuan kontemporer sekaligus klasik?! Bukankah saat masa kejayaannya, bahasa Arab adalah bahasa pengetahuan modern, bahasa peradaban abadi yang memimpin berabad-abad lamanya, yang menjadi keindahan dunia, dan kiblat orang berilmu dari berbagai bangsa dan agama?!

Sangat disayangkan, kekurangan dan kelemahan yang seolah nampak pada bahasa Arab dan ketidakmampuannya mengimbangi berbagai pengetahuan modern; bukankah muncul akibat kelalaian, kelemahan penguasaan dan penghormatan pada bahasa Arab, serta ketidakmampuan generasi pemilik bahasa menerapkan dalam realitas kehidupan ilmu, budaya, sastra, hukum dan lain sebagainya?!

Sejatinya, kebangkitan bahasa Arab tidak akan terwujud melalui kesungguhan individu belaka, meski seikhlas dan setotalitas apapun. Namun hanya akan berhasil dengan terwujudnya negara yang menerapkan Islam lalu meresmikan bahasa Arab secara konsekuen dan serius dalam kebijakan publik, beragam program pendidikan, kebijakan informasi dan budaya, serta seluruh program dan aktivitas kehidupan sosial masyarakat; sehingga bahasa Arab eksis secara alami dalam kehidupan warga negara, yang digunakan semua orang dewasa dan anak kecil di rumah, sekolah, universitas, masjid, industri, perdagangan, dan di semua bidang kehidupan masyarakat.

Ketika dikatakan kebangkitan bahasa ini hanya terwujud dengan tegaknya negara yang menerapkan Islam, ini tidak berarti kita meremehkan peran individu atau lembaga tertentu terhadap pelestarian bahasa Arab. Tetapi yang dimaksud adalah, kebangkitan bahasa ini hanya akan sempurna dengan implementasi kebijakan publik, sebagaimana sudah dijelaskan, yang diterapkan negara terhadap seluruh warga negara; cara ini merupakan program dan strategi yang akan mewujudkan kebangkitan bahasa tersebut, dan hal ini akan memberikan hasil dalam proses belajar, mengajar dan penyebaran bahasa Arab, sehingga muncul dalam realitas kehidupan masyarakat, baik berupa tulis-menulis, baca-membaca, menyimak dan berbicara. Ini artinya setiap individu bersama-masa berperan dan diperintahkan mempelajari dan mendalami bahasa ini sehingga individu bisa hidup dan berinteraksi bersama masyarakat yang hidup dengan bahasa Arab.

Kajian mengenai bahasa Arab adalah tema yang luas, besar dan penting. Topik ini butuh penelitian panjang dan studi mendalam yang serius dari para ulama mujtahid yang memiliki kompetensi di bidang ragam ilmu bahasa. Umat ini banyak memiliki ulama yang benar dan setia kepada agama, umat dan bahasa Arab; yang membaktikan hidup, kesungguhan dan ilmunya demi meninggikan agama yang lurus ini, yang membuat umat mulia ini berkembang maju dan menyebarluaskan bahasa yang indah ini. Para ulama hanya mencari ridha’ Allah dan berharap pahala akhirat dengan amal-amalnya. Mereka menganggap mudah urusan berat dan memandang murah urusan kehidupan di jalan kemuliaan agama, kehormatan, kebangkitan dan kedaulatan umat.

Bahasa itu laksana makhluk hidup, akan terus hidup selama generasi pemilik bahasanya hidup, akan terus kuat selama generasi itu kuat, akan terus mulia selama generasi itu mulia, akan terus memimpin selama generasi itu berdaulat, dan akan terus berkembang bersama generasi tersebut. Maka bahasa Arab ini seolah makhluk hidup, nyawanya adalah al-Qur’an yang mulia, tubuhnya adalah Islam yang agung, organ tubuhnya seluruh generasi pemeluk Islam yang berbicara dan setia dengan bahasa Arab. Bahasa Arab ini akan tetap abadi karena penjagaan Allah, sebagaimana abadinya al-Qur’an, senantiasa hidup selama Islam hidup, dan akan terus tumbuh berkembang selama umat dan kehidupan mengalami perubahan.

Sebagai penutup kami sampaikan, demikianlah sebagian pemikiran dan ungkapan hati tentang topik yang sangat penting, mengenai urgensitas bahasa Arab dan petunjuk mengenai beberapa pemikiran mendasarnya, yang tentu tidak akan cukup di artikel singkat dan terbatas ini. Karena topik ini memerlukan keseriusan seluruh komponen umat, adapun artikel ini hanya secuil pemahaman tentang inti pemikiran topik tersebut, yang berasal dari insan penulis yang memiliki keterbatasan dalam menyampaikan kajian bahasa yang agung, meski begitu penulis sangat mencintai bahasa Arab ini. Insan ini termotivasi mendapatkan sebagian mutiara, dan terlihat ridha’ saat mutiara yang diraih beranjak darinya. Mungkin sang mutiara melihat di dalamnya ada lelaki tua yang terpenjara, sedang sang mutiara enggan tertawan dinding. Tetapi menghendaki bebas terpencar menyelimuti bumi menjelajah cakrawala, dan juga mencintai hidup selamanya laksana pemuda kuat yang mampu hidup dan berkembang bersama seluruh generasi. Maka dari itu, orang-orang yang mencintai bahasa indah yang menakjubkan ini, akan beranjak tua, pikun dan mati, sedangkan bahasa Arab ini tidak akan menua, tidak akan pikun apalagi mati, karena ia adalah bahasa dunia dan akhirat, selalu abadi karena keabadian al-Quran yang mulia sebagai nyawanya. Dan kepada Allah kita meminta pertolongan, kepada-Nya segala pujian di awal maupun di akhir. Wallahu a’lam.

Oleh: Muhammad ash-Shadiq at-Tarhuni

(Ahammiyyah al-Lughah al-‘Arabiyyah wa Ahammiyyah Ihya’iha. Al-Wa’ie edisi 346, Tahun XXX, Dzul Qa’dah 1436 H/ September 2015 M. Alih bahasa: Yan S. Prasetiadi).

Post a Comment for "Bahasa Arab di Tengah Benturan Peradaban"