Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apakah Penguasa Mengidap Islamophobia?

Baru-baru ini kepulangan HRS dari Arab Saudi ke Indonesia membuat sebagian fihak tampak sangat panik karena beliau disambut penuh kerinduan oleh jutaan masyarakat indonesia. Kepanikan ini sangat beralasan karena HRS selama ini dikenal sebagai salah satu ulama yang cukup vokal menyerukan amar makruf nahi mungkar. Termasuk menyampaikan kritik pada penguasa dengan kritikan yang tajam.

Oleh : Syarifah (Forum Pena Ideologis Maros)

Baru-baru ini kepulangan HRS dari Arab Saudi ke Indonesia membuat sebagian fihak tampak sangat panik karena beliau disambut penuh kerinduan oleh jutaan masyarakat indonesia. Kepanikan ini sangat beralasan karena HRS selama ini dikenal sebagai salah satu ulama yang cukup vokal menyerukan amar makruf nahi mungkar. Termasuk menyampaikan kritik pada penguasa dengan kritikan yang tajam.

Gharizah (naluri) baqa yakni keberanian yang telah Allah ciptakan pada setiap manusia. Hal ini yang membuat HRS begitu berani dalam menyampaikan amar makruf nahi mungkar sekalipun berbagai kriminalisasi yang didapati dari para pembenci dakwah islam.

Bahkan HRS difitnah melakukan kasus pelecehan seksual hanya karena ingin menjatuhkan ulama. Namun, hal ini tidak akan membuat para ulama menjadi futur terhadap dakwahnya karena ulamalah yang sejatinya menjadi pewaris nabi. Nabi yang begitu lantang menyeru kebenaran dan hal yang sama dilakukan oleh para ulama saat ini.

Sesungguhnya, berbagai kriminalisais dan persekusi bukan hanya terjadi pada HRS, melainkan beberapa ulama, para ustadz dan aktivis dakwah lainnya serta ormas yang lantang menyerukan kebenaran dan dikenal kritis kerap mengalami kasus yang sama. Seperti yang terjadi pada Ustadz Abdul Somad, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, Ustadz Firanda, Ustadz Felix Siauw, HTI, FPI, dll.

Hal yang wajar ketika rakyat ada yang menyimpulkan bahwa Penguasa hari ini adalah Penguasa anti dakwah nahi mungkar, bahkan cenderung mengidap islamofobia. Bagaimana tidak jika seorang ulama sepuh pun dan tak berdaya masih saja ditakuti oleh Penguasa karena masih saja dipenjarakan dengan alasan yang tampak sangat dipaksakan, seperti yang terjadi pada ustadz Abu Bakar Ba’asir.

Sementara mereka yang kerap menista islam, menghina Nabi, dan para penyebar kemasiatan di tengah-tengah masyarakat justru dibiarkan merajalela. Mereka-mereka itu lama atau bisa jadi tidak diproses ke ranah hukum, tidak dikriminalisasi seperti yang terjadi pada para pengemban dakwah. Penguasa saat ini seperti berusaha menjauhkan umat dari dakwah islam itu sendiri.

Namun, sekalipun berbagai fitnah dan stigma negatif yang disematkan oleh Penguasa terhadap mereka, seperti halnya di cap teroris, radikal dan pemecah belah bangsa, justru malah membuat umat semakin mencintai dan mendukung ulama dan aktivis dakwah islam sepenuhnya.

Begitulah makar Allah SWT bekerja. Apa yang terjadi pada dakwah islam dan penyerunya, justru semakin menguatkan akidah umat dan membuka pintu hidayah bagi siapa saja yang mau berpikir jernih.

Sejatinya ulama yang lantang menyuarakan kebenaran dan keras perlawanannya terhadap kedzaliman adalah ulama yang hanif yang harus kita muliakan. Terlebih ulama adalah pewaris Nabi. Mereka merupakan perpanjangan tangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan dakwah islam ke seluruh alam. Jadi, ketika terjadi kriminalisasi terhadap mereka maka hal itu dipandang sebagai pelecehan terhadap ajaran baginda besar Rasulullah SAW.

Kondisi saat ini menunjukkan posisi kaum muslim masih sangat lemah karena tak lain akibat hilangnya institusi khilafah islamiyah yang mampu melindungi mereka dan membawa islam dan umatnya menuju kemuliannya, melalui penerapan syari’at kaffah.

Seperti yang terjadi terdahulu bahwa sejarah membuktikan, saat khilafah tegak selama 14 abad, umat dalam kondisi mulia dan terjaga. Sepanjang itu pula umat islam menjadi sebaik-baik umat, tidak ada satu pun yang berani mencela agama islam itu sendiri.

Bahkan di masa pemerintahan islam, para khalifah sangat memuliakan para ulama dengan mendatanginya dan meminta nasihatnya. Bukan malah mengkriminalisasi seperti yang terjadi pada saat ini dalam sistem demokrasi yang menyingkirkan agama dari kehidupan.

Memang yang menjadi solusi tunggal atas segala problem hanyalah islam yakni khilafah yang terbukti mampu melindungi para ulama. Bukan sistem demokrasi sekuler yang nyata-nyata menista islam dan dakwahnya, bahkan nyata-nyata telah memunculkan kemudharatan luar biasa.

Untuk mewujudkannya haruslah dengan metode yang diajarkan Nabi yaitu jalan umat bukan jalan demokrasi.

Oleh sebab itu, mari bersama-sama berjuang dengan para ulama akhirat yang senantiasa menyeru pada islam dan mengamalkan apa yang mereka ajarkan. Karena sesungguhnya, ajaran yang mereka serukan semata bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan pedoman umat muslim di dunia.

Wallahu a’lam bishawwab

Post a Comment for "Apakah Penguasa Mengidap Islamophobia?"