Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tokoh Islam Ditakuti, Islamofobia Kian Menjadi

Islamofobia atau ketakutan akan ajaran Islam semakin digencarkan. Begitu pula terhadap sejarah Islam yang mengakuinya pun enggan. Beberapa waktu lalu tentang jejak Khilafah di Nusantara. Kini, kisah tentang Muhammad Al-Fatih pun menuai hujatan.
Oleh: Anita Ummu Taqillah (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Islamofobia atau ketakutan akan ajaran Islam semakin digencarkan. Begitu pula terhadap sejarah Islam yang mengakuinya pun enggan. Beberapa waktu lalu tentang jejak Khilafah di Nusantara. Kini, kisah tentang Muhammad Al-Fatih pun menuai hujatan.

Dilansir dari detiknews (2/10/2020), surat dari Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang mewajibkan siswa SMA membaca buku karya Felix Siauw viral di media sosial. Surat yang viral itu dibuat pada 30 September 2020 dan ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Muhammad Soleh.

Namun, tak berapa lama surat edaran itupun ditarik dan dibatalkan dengan alasan karena penulis (Ustad Felix Siauw) adalah anggota ormas terlarang.

Pihak Dinas mengaku tidak melihat penulis buku tersebut, yang ternyata diindikasikan dari organisasi yang dilarang oleh pemerintah Indonesia.

"Kita tidak melihat pengarang buku termasuk organisasi masyarakat yang dilarang pemerintah, dengan ketidaktahuan itu, kami kemudian membatalkan edaran tesebut dan telah mengeluarkan surat nomor 420/1112.a/DISDIK tentang pembatalan kewajiban membaca buku itu," ungkapnya (sonora.id, 2/10/2020).

Pada awalnya edaran kewajiban membaca buku Muhammad Al Fatih karya Ustad Felix Siauw adalah karena kisahnya yang luar biasa. Seperti fakta sejarah yang telah tercatat bahwan beliau adalah penakhluk Konstatinopel. Namun karena ditulis ulang oleh seorang yang diduga dari ormas terlarang maka edaran dibatalkan. Mirisnya, seolah kisah itu hanya karangan Ustad Felix, bukan melihat dari fakta sejarah yang ada.

Dari sini tampak jelaslah bahwa sesungguhnya rezim takut akan ajaran Islam yang haq. Mereka takut dengan semakin banyaknya umat yang paham ajaran Islam, maka akan semakin gencar menginginkan Islam kembali memimpin dunia. Mereka takut akan ditumbangkan dengan generasi yang menginginkan Islam.

Padahal jelas sudah, seorang Muhammad Al Fatih memang layak untuk dicontoh dan ditiru oleh generasi. Sultan Mehmed II atau juga dikenal Sultan Muhammad Al Fatih (30 Maret 1432 – 3 Mei 1481), adalah Sultan yang memerintah pada masa Kekhilafahan Turki Utsmani.

Sejak kecil beliau sudah mempunyai keinginan kuat untuk mewujudkan sabda Nabi SAW, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Tak hanya mempunyai cita-cita yang tinggi, beliau juga mempunyai keahlian dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa. Bahkan sejak umur 12 tahun beliau sudah diangkat menjadi Sultan, dan di umur 21 tahun telah berhasil menakhlukkan Konstatinopel. Kota yang terkenal sangat sulit ditaklukkan oleh Khalifah sebelumnya. Bahkan, kurang lebih 7 abad sudah para Khalifah berusaha menembus benteng Byzantium, tetapi tak satupun yang berhasil. Hingga taktik jenius Sultan Muhammad Al Fatih lah yang mampu meluluhkannya, dengan ijin Allah SWT.

Ya, memang beliau terkenal tak main-main dalam menyiapkan pasukan. Bahkan dikabarkan, jika pasukan-pasukan yang beliau pilih haruslah yang tak pernah meninggalkan salat wajib lima waktu. Pasukan terdepan dipilih dari yang paling rajin menjalankan salat tahajud. Beliau sendiri, terkenal tak pernah meninggalkan salat tahajud semenjak baligh. MasyaAllah, itulah kekuatan yang beliau wujudkan. Kekuatan Sang Pemilik langit dan bumi dengan selalu mendekat pada-Nya di spertiga malam tanpa sekalipun ditinggalkan.

Begitulah sosok sang penakhluk, yang memang harus dikenalkan pada semua generasi agar mereka terinspirasi. Bukan malah ditakuti dan dibenci. Sungguh aneh, ketika K-Pop atau Drakor diminta untuk dijadikan inspirasi, namun tokoh Islam dipinggirkan. Padahal jelas, mayoritas penduduk negeri adalah muslim, tak seharusnya mencontoh non muslim ketika tokoh-tokoh muslim sendiri begitu menginspirasi. Bahkan tak hanya menginspirasi duniawi tetapi juga surgawi, insyaallah. Wallahua'lam bish-showab.

Post a Comment for "Tokoh Islam Ditakuti, Islamofobia Kian Menjadi"