Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menyoal Seruan Taubat Nasional untuk Menangani Pandemi

Dalam acara pembukaan Muktamar Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9), Presiden Joko Widodo menyerukan masyarakat untuk selalu mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Presiden juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melupakan dzikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta'ala. Pun, beliau juga berharap masyarakat memperbanyak sedekah. Sebab, banyak orang yang keadaannya sulit di tengah pandemi
Oleh : Renita

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama tujuh bulan belum juga berakhir. Bahkan, setelah diterapkan New Normal, alih-alih penyebarannya semakin landai, malah peningkatan kasusnya meningkat tajam. Hal ini, mengakibatkan banyaknya korban yang terus berjatuhan. Alhasil, dampak pandemi semakin parah, tidak hanya dalam aspek kesehatan, problem-problem ekonomi dan sosial pun makin berkelindan. Bahkan, resesi ekonomi global bukan lagi jadi ancaman, tapi sudah menjadi kenyataan.

Dalam acara pembukaan Muktamar Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9), Presiden Joko Widodo menyerukan masyarakat untuk selalu mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Presiden juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melupakan dzikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta'ala. Pun, beliau juga berharap masyarakat memperbanyak sedekah. Sebab, banyak orang yang keadaannya sulit di tengah pandemi (merdeka.com, 26/09/2020).

Selain itu, Jokowi menyebut pandemi Covid-19 telah menyebabkan perlambatan ekonomi dunia. Sehingga, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Selanjutnya, beliau juga mengajak masyarakat untuk tidak menyerah dengan keadaan, dan berikhtiar dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan penyebaran Covid-19, sekaligus membantu saudara-saudara yang lain agar tidak semakin terpuruk karena kesulitan ekonomi (nasional.kompas.com, 26/09/2020).

Makna Taubat Hakiki

Secara Bahasa, at-Taubah berasal dari kata تَوَبَ yang bermakna kembali. Taubat adalah kembali kepada Allâh dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allâh Azza wa Jalla . Adapun secara Syar’i, taubat yaitu meninggalkan dosa karena takut pada Allâh, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya.

Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa taubat adalah kembali dari bermaksiat pada Allah menuju taat pada-Nya. Jadi, jika presiden menyerukan taubat, artinya meninggalkan semua perilaku dan kebijakan yang menyalahi hukum-hukum Allah, dan berbalik menerapkan syariat Allah SWT, yaitu hukum Islam.

Namun, di tengah pandemi yang semakin mengganas, serta berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam menangani wabah nyatanya belum membuahkan hasil. Akhirnya, penguasa negeri ini pun menganjurkan masyarakat agar melakukan taubat nasional. Hal ini, seakan membuktikan karut-marut pemerintah dalam penanganan pandemi. Sehingga, opsi terakhir yang dilontarkan Jokowi untuk mengatasi pandemi ini adalah dengan menyerukan masyarakat untuk bertaubat dan beristighfar serta lebih banyak berinfak dan sedekah.

Di sisi lain, presiden menyeru masyarakat untuk bertaubat. Padahal, semestinya seruan itu ditujukan kepada penguasa terlebih dahulu. Lantaran, kemaksiatan yang dilakukan penguasa jelas lebih besar efeknya terhadap nasib dan keberlangsungan negara. Abainya pemerintah dalam memenuhi hak-hak rakyat terutama di tengah situasi pandemi ini, membuktikan ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib rakyat. Hal ini, jelas merupakan dosa besar. Bukan malah menganjurkan masyarakat agar senantiasa berinfak dan bersedekah untuk membantu sesama dan mengatasi krisis ekonomi. Karena, justru kewajiban pemimpinlah untuk mengayomi rakyat dalam rangka memenuhi segala kebutuhannya.

Taubat Paripurna untuk Menangani Wabah

Sekalipun demikian, jika benar-benar ingin bertaubat, maka yang harus dilakukan adalah menerapkan hukum Allah secara total dalam semua lini kehidupan. Pasalnya, yang paling bertanggung jawab atas nasib dan urusan seluruh rakyat adalah penguasa negara. Maka, mustahil negeri ini bisa selamat dari berbagai krisis, ketika hukum yang diterapkan merupakan produk buatan kafir penjajah, yakni Sistem Sekuler Kapitalis. Sebab, hukum Kapitalis Sekuler memang meniscayakan kemaksiatan terus merajalela, karena landasan kehidupannya adalah pemisahan agama dari kehidupan. Dimana, agama tidak mendapat peran vital dalam kehidupan, kecuali ranah privat semata.

Sedangkan, islam merupakan agama yang lengkap dan paripurna. Dalam setiap permasalahan, islam selalu memiliki solusi jitu untuk menyelesaikannya, termasuk dalam menangani wabah dan krisis yang dahsyat sekalipun. Islam mengajarkan bertaubat untuk mengatasi wabah sebagai bagian dari ketaatan total. Maka bukan taubat saja yang harus dijalankan, namun seluruh perintah syariat dalam mengatasi wabah.

Siapa pun paham, wabah tak akan menyebar dengan cepat jika sejak awal area wabah segera diisolasi. Begitu pun dengan pintu-pintu penyebarannya, baik di negara atau wilayah asal maupun di wilayah penularan, semuanya juga harus segera dikunci. Strategi ini dalam Islam justru merupakan tuntunan syar’i. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasukinya, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu ada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Tentu, hal ini dilakukan dengan dibarengi jaminan pemenuhan semua kebutuhan pokok secara langsung termasuk kebutuhan pokok individu seperti pangan, perumahan, dan pakaian. Semua itu akan membuat pemutusan rantai penularan yang efektif sehingga wabah tidak meluas dan segera berakhir. Selanjutnya, negara juga wajib men-support fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat test, vaksin, dan lain-lain. Pun, negara atau penguasa tak boleh membahayakan jiwa dan membiarkan masyarakat mandiri secara ekonomi ketika resiko penularan yang masih tinggi.

Gambaran Keteladan Khalifah dalam Menghadapi Masa Krisis dan Wabah

Dalam buku The Great Leader of Umar bin Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua, diceritakan bahwa pada tahun 18 H, orang-orang di Jazirah Arab pernah mengalami krisis ekonomi yang hebat dan kemarau panjang. Sehingga, terjadi kelaparan massal, orang-orang sakit tak terhitung, roda perkonomian terseok-seok. Selain itu, diantara masyarakat ada yang berani menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya, binatang buas pun sampai berani masuk ke perkotaan.

Adapun hal-hal yang dilakukan Khalifah Umar dalam menghadapi krisis adalah :

Pertama, Tidak bergaya hidup mewah dan makan seadanya. Bahkan, kadarnya sama dengan rakyat yang paling miskin atau lebih rendah lagi. Seperti yang pernah diceritakan bahwa, selama krisis terjadi, Khalifah hanya memakan sepotong roti dan minyak. Sehingga, terlihat wajahnya menghitam dan badannya pun kurus kering.

Kedua, Khalifah Umar langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan.

Ketiga, Semakin mendekatkan diri dan meminta pertolongan Allah SWT. Khalifah juga langsung memimpin taubatan nasûhâ. Karena, bisa jadi bencana/krisis yang ada akibat kesalahan-kesalahan atau dosa yang telah dilakukan oleh Khalifah dan atau masyarakatnya. Selanjutnya, Khalifah menyerukan taubat serta meminta ampun kepada Allah agar bencana segera berlalu.

Keempat, Memenuhi kebutuhan pokok rakyat dengan segera. Bahkan Khalifah tidak segan untuk memasak sendiri bahan makanan yang dibutuhkan rakyat. Selain itu, Khalifah juga mengirimkan bahan makanan ke rumah penduduk yang jauh dari Daulah selama beberapa bulan sepanjang musibah berlangsung.

Kelima, Tatkala menghadapi situasi sulit, Khalifah Umar bin Khaththab meminta bantuan ke wilayah atau daerah bagian Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan. Kemudian, Gubernur Mesir Amru bin al-Ash, mengirim seribu unta yang membawa tepung melalui jalan darat dan mengirim dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta mengirim lima ribu pakaian kepada Khalifah Umar.

Keenam, Menghentikan sementara hukuman bagi pencuri. Hal ini dilakukan bukan karena mengabaikan hukum yang sudah pasti dalam Islam. Namun, lebih disebabkan karena syarat-syarat pemberlakuan hukum untuk pencuri tidak terpenuhi. Sementara, saat itu orang mencuri dan memakan barang milik orang lain disebabkan kelaparan yang melanda. Itu pun semata untuk menyambung nyawanya karena memang tidak bisa mendapatkan makanan. Sehingga, memang tidak bermaksud mencuri.

Demikianlah gambaran penyelasaian wabah dan krisis yang pernah dicontohkan dalam islam. Sedangkan, taubat bukan merupakan satu-satunya jalan untuk keluar dan mengakhiri wabah ini, karena taubat hanyalah satu bagian dari solusi ditawarkan oleh islam. Alhasil, yang dibutuhkan adalah penerapan hukum islam secara total agar pandemi ini segera berakhir sehingga krisis berkepanjangan bisa segera diatasi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman. Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (Al-Anfal: 24)

Wa’allahu a’lam Bii Showwab

Post a Comment for "Menyoal Seruan Taubat Nasional untuk Menangani Pandemi"