Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meneladani Nabi Segala Sisi

Dalam momentum maulid ini, kita semua wajib mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap saat dan setiap waktu. Peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkin saja bisa dikaitkan dengan firman Allah berikut:

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum muslimin menegakkan agama, melarang berpecah belah, dan terikat pada perintah-Nya secara sempurna, berdasarkan wahyu yang diturunkan kepada utusan-Nya yang mulia.

Para Sahabat ridhwanullah ‘alaihim adalah sosok yang paling benar dalam menjalankan perintah dan menyampaikan agama, semua itu hasil dari kesadaran, perenungan dan komitmen mereka yang luar biasa. Keseriusan para Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, membuat nash agama menjadi kokoh, sekaligus pemisah antara yang baik dan yang buruk, serta antara yang benar dan yang palsu, sehingga tidak ada ruang bagi siapapun melakukan penyimpangan ajaran.

Dalam momentum maulid ini, kita semua wajib mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap saat dan setiap waktu. Peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkin saja bisa dikaitkan dengan firman Allah berikut:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Dan sungguh, Kami mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.’ Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 5)

Dari ayat ini bisa diambil kesimpulan, peringatan tersebut seharusnya tidak dibatasi satu hari tertentu dalam tanggal dan tidak perlu ritual khusus, karena sejatinya kecintaan harus selalu hadir dalam jiwa kaum muslimin di setiap waktu di dalam kehidupan ini.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tauladan yang wajib diikuti, baik dalam urusan yang dianggap kecil maupun besar. Maka tidak begitu signifikan, kalau sekedar memperingatinya setahun sekali, tanpa ada tindak lanjut, sebab kita semua diwajibkan hidup bersama petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap saat secara konsisten.

Peringatan maulid ini tentu mengandung pesan, ketika Allah menjadikan Rasul-Nya yang mulia sebagai penutup para nabi dan Islam sebagai penutup risalah, maka ini menggambarkan:

Pertama, ajaran Islam adalah risalah penutup yang abadi dan harus memimpin dunia hingga hari kiamat, di dalam ajaran Islam mengandung hidayah sedangkan ajaran lain hanya kesesatan. Dengan bekal hidayah ini, pemeluknya memasuki kancah perang pemikiran dan peradaban yang berlangsung hingga hari kiamat.

Tidak benar anggapan bahwa kehidupan berevolusi dan berubah-ubah, sehingga manusia mesti mengubah aturan kehidupan sesuai evolusi dan perubahan tadi, ini pendapat keliru. Karena sebetulnya, aturan yang diwahyukan Allah subhanahu wa ta’ala, mampu menjangkau segala sisi kehidupan manusia secara manusiawi, sebab manusia secara esensial tidak pernah berubah. Semenjak dulu lelaki adalah seorang laki-laki, dan wanita juga adalah seorang perempuan, realitas keduanya tidak pernah berubah, termasuk interaksi antar keduanya. Dan manusia itu sendiri yang membentuk masyarakat, beserta karakter konflik atau saling menolong antar pria dan wanita tadi. Karena itulah, kita melihat mereka yang diklaim berpaham progresif, faktanya cuma meniru dari generasi sebelumnya sesuai bidangnya.

Maka demokrasi itu sebetulnya pemikiran lama yang ada sebelum Islam, dan strategi militer yang nampak pada pemimpin militer masa kini juga kebanyakan mengambil dari orang-orang terdahulu, termasuk yang diajarkan akademi militer. Demikian pula misalnya dengan bidang kedokteran dan astronomi. Jadi bisa dikatakan, orang-orang yang berpaham mengharuskan terus terjadinya perubahan dengan mengubah aturan kehidupan, hakikatnya adalah orang yang gagal paham. Karena pikirannya tidak mampu menemukan sistem yang shahih.

Mereka mengklaim “kami akan mengubah undang-undang, serta tunduk pada undang-undang tersebut”, padahal harusnya berkata jujur “sebab utama perubahan undang-undang ini, sebenarnya karena kegagalan kami membuat undang-undang sebelumnya”, bukan malah berdalih “ini adalah evolusi aturan”.

Begitulah, jargon pemikiran progresif sejatinya jargon yang gagal paham. Sedangkan pemikiran bahwa aturan manusia itu sifatnya tetap, yang mengatur interaksi sesama manusia, adalah pemikiran yang benar dan sesuai kenyataan. Makanya aneh, kalau masih ada kaum muslimin yang memperingati kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun belum paham kebenaran ini, dan malah pendapatnya terlihat masih mengkuti barat, jadi apa sebetulnya yang diperingati?

Kedua, Islam adalah agama ritual sekaligus mengajarkan bernegara, dan akidahnya memancarkan aturan syariah. Maka ajaran ini harus memimpin sebagai ideologi yang diemban negara, serta disebarkan-luaskan, disampaikan dan diterapkan negara. Sehingga Islam meliputi seluruh wilayah yang di dalamnya ada kehidupan, dan semua muslim menjadi saksi atas manusia lainnya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian pula kami telah menjadikan kalian umat pertengahan (umat terbaik) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Benar, sesuai ayat ini, tugas menyampaikan hidayah kepada manusia, ada di pundak kaum muslimin semata, karena kebenaran itu hanya pada ajaran Islam. Kaum muslimin yang mengemban amanah ini paham betul, tidak boleh terjadi penghambaan sesama manusia, karena semua manusia milik Tuhan semesta alam.

Hal ini mengharuskan negara berperan secara global dalam perang pemikiran, peradaban dan keyakinan, supaya manusia bangkit dari kegelapan menuju cahaya dan dari kesesatan menuju hidayah. Jangan sampai membiarkan manusia mengikuti langkah Iblis melalui agen kuffar kapitalisme, sekularisme dan ateisme.

Dan juga negara kaum muslimin harus terus menjadi negara super power di dunia, yang bertujuan melakukan futuhat terhadap setiap wilayah yang belum terjadi futuhat sebelumnya. Perkara yang menggelitik dalam hal ini adalah, adanya sebagian kaum muslim mengabaikan kewajiban menjadikan negara berdasarkan Islam yang senantiasa berhukum dengan wahyu yang Allah turunkan, sebagaimana negara pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita bisa lihat mereka ini sebenarnya bertentangan dengan spirit peringatan maulid, dan jauh sekali dari kandungan syariat yang shahih, firman Allah berikut:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ، أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah [5] 49-50)

Ketiga, wajib menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai panglima dan suri tauladan kaum muslimin dalam seluruh aspek kehidupan, Baginda adalah pelita cahaya dalam lorong kehidupan. Karena itu, maulid nabi sejatinya adalah peringatan bagi masa lalu, masa kini dan masa mendatang sekaligus. Bukan hanya masa lalu semata. Peringatan ini memiliki beberapa dimensi bagi seorang muslim, baik sebagai individu dan kelompok; serta dimensi kehidupan muslim dalam bermasyarakat dan bernegara.

Sebagai seorang individu, Islam mendorong seorang muslim memiliki kepribadian Islam, yang segala macam tindakannya diukur sesuai Islam. Dia mencari tahu, mana yang halal yang akan diambil, dan mana yang haram yang akan dijauhi. Melaksanakan perintah dan ketaatan yang bersumber dari keyakinan, kerelaan dan kecintaan untuk beribadah hanya karena Allah semata. Juga senantiasa mengevaluasi dan membersihkan diri, dan sadar selalu diawasi Sang Pencipta. Sehingga ketika pola pikir dan pola sikapnya sudah sempurna, maka akan menjadi seorang muslim yang kokoh dalam setiap urusan kehidupannya.

Dari aspek keyakinan, seorang muslim yang berkepribadian Islam, menjadikan landasan setiap perbuatan hanya mengharap keridha’an Allah, melaksanakan ketaatan hanya kepada Allah, dan juga kepada ajaran yang dibawa Rasul-Nya semata.

Dari aspek ibadah, menunaikan segala yang diperintahkan, seperti shalat, zakat, haji dan shaum; serta melaksanakan lebih dari itu, semisal qiyamul lail, memperbanyak ibadah sunnah, shaum sunnah, berhaji dan umrah lebih dari sekali, sedekah, banyak berdoa dan berdzikir.

Dari aspek akhlak, berhias dengan akhlak terbaik dan yang paling dicintai Allah, seperti jujur, bisa dipercaya, hati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan, menunaikan amanah, ramah namun tidak lemah; serta menjauhi pembicaraan sia-sia, dusta, sombong dan riya.

Lalu dari aspek muamalah, seorang muslim yang berkepribadian Islam, melakukan interaksi dengan tetap terikat hukum syariah yang berkaitan dengan segala urusan kehidupannya, seperti memenuhi syarat dan ketentuan jual-beli; tidak menipu, menimbum, apalagi bertransaksi riba.

Ketika seorang muslim menjalankan semua ketentuan tersebut, berlandaskan keimanan kepada Allah, maka dia layak disebut seorang muslim yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan berlaku padanya firmah Allah:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ، قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kataknlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31-32)

Namun jika seorang muslim, tidak menjalankan ketentuan kepribadian Islam yang berlandaskan keimanan tersebut, maka sebanyak apapun peringatan maulid tentu akan kehilangan makna, karena disaat yang sama mereka melalaikan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini artinya sama saja mereka kehilangan seluruh bentuk ketaatan.

Berkaitan dengan negara, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan eksistensi negara Islam sebagai bagian dari hukum syariah, yang dibebani pelaksanaan banyak sekali hukum-hukum syariah. Syara’ memberi negara Islam, beberapa kewenangan dalam koridor Islam dan tugas menerapkan hukum Islam.

Hal ini bisa kita pahami dari sabda dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berkaitan dengan sistem kehidupan, seperti: Sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pergaulan, politik pendidikan dan politik luar negeri. Jadi kapan dan dimana pun negara Islam tegak, maka inilah ranah aktivitas atau kebijakan negara tersebut.

Sistem pemerintahan Islam, terbukti eksis melintasi ruang dan waktu, tercatat ada khalifah, mu’awin, wali, majelis qadha’, syura’ dan jihaz idari. Kedaulatan dalam sistem pemerintahan Islam ada di tangan syara’ semata, konstitusinya disusun berdasarkan akidah Islam, dan beragam hukum syariahnya digali melalui metode ijtihad yang shahih.

Sistem ekonomi Islam, berlandaskan hukum-hukum syariah, yang berkaitan dengan metode kepemilikan dan pengembangan harta yang disyariatkan Islam. Juga larangan menimbun, standar emas sebagai asas mata uang, serta mendorong distribusi dan mencegah monopoli harta di segelintir konglomerat. Sistem ekonomi Islam memiliki aturan spesifik dalam membangun syirkah atau perusahaan, aturan jual-beli, jaminan dan gadai. Kepemilikan dalam sistem ekonomi Islam dibagi menjadi kepemilikan individu, kepemilikan publik dan kepemilikan negara; setiap bentuk kepemilikan tersebut memiliki ketentuan atau hukum syariah yang spesifik.

Sistem pergaulan Islam mengatur interaksi pria dan wanita sesuai ketentuan syara, mencegah pria dan wanita melakukan keharaman; sehingga khlawat dan ikhtilath dilarang. Sistem ini menjadikan kehidupan pria dan wanita dilandasi prinsip saling menghormati satu sama lain; menjaga kesucian dan kejelasan nasab; serta masing-masing pihak memiliki peran tertentu dalam kehidupan. Sistem ini pun mngurusi segala macam konsekuensi yang lahir dari interaksi pria dan wanita, seperti hukum seputar perceraian, pernikahan, pengasuhan dan sepersusuan.

Sistem pendidikan Islam, memberikan dukungan penuh membina kepribadian Islam generasi muda muslim, menghantarkan mereka pada level pencapaian penemuan penting untuk membantu dan memudahkan kehidupan kaum muslimin. Serta mendukung negara Islam menyebarluaskan ajaran Islam dengan memanfaatkan kemajuan ilmu dan penemuan.

Adapun politik luar negeri, bentuk kebijakan yang paling menonjol terhadap dunia internasional adalah menunjukan jati diri sebagai negara Islam yang mengemban misi ajaran Islam, serta menjadikan dakwah dan penyebaran Islam sebagai landasan hubungan internasional dengan negara lain.

Penutup

Tiga gambaran inilah yang belum terwujud sempurna, dalam benak dan kehidupan kaum muslimin. Kita masih melihat sebagian kaum muslimin melakukan sesuatu, yang tidak relevan dengan spirit peringatan maulid nabi, namun ironisnya dianggap wujud kecintaan mendalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal itu bukan wujud kecintaan yang akan dicintai Allah dan Rasul-Nya; karena kecintaan terhadap yang dicintai justru melahirkan ketaatan total.

Sejatinya cara paling mendekati, dalam merujuk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat ridhwanullah ‘alaihim, adalah dengan mengakui nabi sebagai Rasul-Nya, sekaligus sebagai pemimpin kepala negara dan juga militer. Maka apabila ingin berpegang teguh terhadap apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Sahabatnya, kita tidak boleh memisahkan atau menjauhkan gambaran ini dari kehidupan kaum muslimin.

Ketiga gambaran ini, sebagaimana yang telah dijelaskan, harus hadir dalam jiwa kaum muslimin di setiap waktu, bahkan seharusnya lebih menguat lagi dikala peringatan maulid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, sebenarnya kita sama saja tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya, padahal pada saat yang sama, kita membutuhkan keridha’an Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, inti masalahnya adalah, kita wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan amal yang diridha’i Allah dan Rasul-Nya, bukan malah menyesuaikan ambisi kita yang ternyata jauh dari syariah. Dan sungguh Allah Maha Mengetahui hikmah dibalik pelaksanaan syariat. Wallahu a’lam.

Oleh: Yan S. Prasetiadi

13 Rabi’ul Awwal 1442 H

(Diadaptasi dari artikel: Fi Dzikra Maulid ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Ala al-Muslimin An Yata’allamu Kaifa Yuqimun al-Islam Kullah fi Hayatihim. Al-Wa’ie edisi 386, tahun XXXIII, Rabi’ul Awwal 1440 H/November 2018)

Post a Comment for "Meneladani Nabi Segala Sisi"