Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kemerdekaan Berpikir dalam Sistem Kapitalisme

Menurut kacamata Nadiem, merdeka belajar adalah merdeka berfikir. Guru memiliki kebebasan secara mandiri untuk menerjemahkan kurikulum sebelum diajarkan kepada para siswa. Pembelajaran terjadi ketika guru bisa menerjemahkan kurikulum, sehingga siswa-siswi pun memiliki kebebasan berfikir sesuai dengan kurikulum yang diajarkan.
Oleh: Prayana (Aktivis Muslimah)

Mendikbud Nadiem makarim membuat terobosan baru untuk mengatasi kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menginisiasikan program "Merdeka Belajar" menurutnya, merdeka belajar adalah kemerdekaan berfikir. (muslimahnews.com, 23/12/2020).

Menurut kacamata Nadiem, merdeka belajar adalah merdeka berfikir. Guru memiliki kebebasan secara mandiri untuk menerjemahkan kurikulum sebelum diajarkan kepada para siswa. Pembelajaran terjadi ketika guru bisa menerjemahkan kurikulum, sehingga siswa-siswi pun memiliki kebebasan berfikir sesuai dengan kurikulum yang diajarkan.

Yang terjadi di tengah masyarakat saat ini adalah kebebasan berpikir dalam kacamata liberal. Ini terjadi karena sistem pendidikan yang sekularisme telah menjauhkan manusia dari aturan islam. Sekularisme mengaburkan pandangan tentang paradigma hakiki pendidikan.

Pendidikan saat ini hanya dijadikan komoditas penyalahgunaan sumber daya manusia agar siap kerja dan bersaing. Manusia hanya dibekali ilmu duniawi tanpa diimbang akhirat. Mustahil akan lahir bibit generasi yang berimtak dan beriptek selama sistem pendidikan ala kapitalisme diterapkan, dan asas sekular masih di jadikan tolok ukur merancang kurikulum pendidikan.

SDM unggul bukan sekadar nilai bagus dan keterampilan memuaskan. SDM unggul akan lahir jika generasi memiliki kepribadian yang baik dan berakhlak mulia.

perubahan hakiki justru diberangus dan dimandulkan. Ini terbukti dari kebijakan kepolisian yang akan mempersulit pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) kepada para pelajar yang terbukti melanggar hukum demonstrasi anti UU cipta kerja.

Kepolisian mengklaim kebijakan itu memberikan "efek jera" kepada para pelajar tersebut. Namun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPAI), serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai mekanisme itu justru mengancam masa depan pelajar. SKCK biasanya menjadi semacam prasyarat untuk digunakan ketika anggota masyarakat melamar pekerjaan.

"Tapi catatan dugaan tindak pidana itu muncul di SKCK mereka, tentu di masa depan mereka menjadi tidak bisa bekerja di sektor formal," ujar Jasra Putra. Sementara itu, Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono, mengatakan mekanisme pencatatan SKCK hanya berlaku bagi pelajar yang memang terbukti melanggar hukum. "Kalau dia tidak terbukti melakukan tindak pidana nggak ada masalah, tapi kalau dia terbukti melakukan tindak pidana ya kita proses,” ujar Argo. (bbc.com, 14/20/2020).

Inilah makna kemerdekaan berpikir dalam sistem kapitalis. Menyuarakan aspirasi akan dibungkam. Diberi rasa takut dengan ancaman dan ketidakadilan. Sebuah sistem yang memberangus potensi generasi muda yang menjadi tonggak penerus kepemimpinan bangsa.

Negara membutuhkan sistem yang mampu mengarahkan potensi pemuda ke jalan yang benar; sesuai syariat islam bila ingin melahirkan generasi yang unggul. Sudah semestinya generasi muda berbicara yang haq, berdiri melawan kedzaliman yang mengancam kedaulatan bangsa, serta memaksimalkan semua potensi keimanan, kecerdasan dan keberanian. Semua itu demi terwujudnya kembali islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Satu-satunya solusi untuk menyelamatkan negeri dari kehancuran. "Sebaik - baiknya jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang zalim." (HR. Ahmad, Ibn Malah, Abu Sawud, Al-Nasa'i dan lainnya).

Di dalam islam, pendidikan adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk potensi manusia sesuai fitrah penciptaan, yaitu untuk mengabdi pada sang Khalik. Ada empat hal yang hendak dicapai dalam pendidikan islam.

Pertama, kepribadian islam singgah menciptakan akhlak yang baik. "Sesungguhnya diantara orang - orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduk yang pada hari kiamat denganku yaitu orang - orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).

Kedua, menguasai pemikiran islam yang andal. "Apa yang diberikan Rosul kepadamu ambillah, dan apa yang dilarang bagimu tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasr: 7). Maka apapun pemikiran- pemikiran islam yang diberikan Rosul ambillah, laksanakan semua perintahnya. Dan tinggalkan semua larangananya.

Ketiga, menguasai ilmu dan teknologi. "Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus langit dan bumi maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan." (QS. Ar - Rahman: 33). Ayat tersebut berisi anjuran bagi orang yang bekerja di bidang IPTEK untuk berusaha mengembangkan kemampuan sejauh-jauhnya sampai menembus penjuru langit dan bumi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa IPTEK jangan manusia menginginkan untuk menjelajahi luar angkasa.

Keempat, memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna. "Mohon lah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Abi Syaibah). Menunjukkan besarnya keutamaan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang sesuai petunjuk yang di turunkan oleh Allah, untuk digunakan dalam mensejahterakan manusia.

Demikianlah islam akan melahirkan generasi terbaik. Generasi yang berpotensi untuk membangkitkan kemajuan bangsa. Maka dari itu, untuk memperoleh generasi yang terbaik, maka diperlukanlah negara yang menerapkan syariat islam secarah kaffah.

Walah a'lam bi ash-shawab.

Post a Comment for "Kemerdekaan Berpikir dalam Sistem Kapitalisme"