Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Film, Alat Propaganda dan Pengalihan Isu?

Pasca viralnya film dokumenter JKDN “Jejak Khilafah di Nusantara”. Seolah ingin mendulang kesuksesan yang sama, kini telah hadir film “My Flag-Merah Putih VS Radikalisme”. Jika film JKDN menyuguhkan sejarah Islam yang gemilang di Nusantara. Lain dengan My Flag yang justru isinya memprovokasi Islam di Nusantara.
By Kanti Rahmillah, M.Si

Pasca viralnya film dokumenter JKDN “Jejak Khilafah di Nusantara”. Seolah ingin mendulang kesuksesan yang sama, kini telah hadir film “My Flag-Merah Putih VS Radikalisme”. Jika film JKDN menyuguhkan sejarah Islam yang gemilang di Nusantara. Lain dengan My Flag yang justru isinya memprovokasi Islam di Nusantara.

Film yang ditayangkan untuk memperingati hari santri di tahun 2020 ini menuai banyak kritikan. Alih-alih memotivasi para santri untuk semakin mencintai agama dan negara ini. Namun justru yang terlihat seperti cinta buta, mencintai negeri tapi membenci ajaran illahi.

Karena definisi mencintai negeri adalah bukan dengan menghamba pada thogut, lalu menggadaikan aqidah. Film tersebut seperti sedang memaknai cinta pada negeri di atas cintanya pada agama, sehingga agama harus menyesuaikan. Sehingga berislam dengan kaffah, menjadi penghalang untuk cintanya terhadap negeri ini.

Padahal, makna cinta hakiki, bukan berdiam diri jika negerinya dijajah dan dikuasai peradaban kufur. Justru, makna cinta berlandaskan aqidah, akan menuntut seseorang untuk marah, tatakala negeri yang ia cintai terkukung sistem kufur.

Film Cacat Aqidah

Dalam salah satu adegannya, film tersebut menayangkan suatu pertarungan antara dua kubu. Satu kubu membawa bendera hitam dan putih, lalu para muslimahnya memakai cadar. Sedangkan kubu yang satunya membawa bendera merah putih dan muslimahnya sangat tak menyukai cadar. Terbukti saat berperang, kubu pembenci cadar melepaskan cadar lawannya dengan begitu bengis.

Bagi siapa saja yang menonton akan mampu memahami, bendera hitam dan putih polos yang dibawa adalah properti yang melambangkan bendera tauhid. Bendera yang sebenarnya berlafadz tauhid itu seolah dinarasikan menjadi musuh negara yang harus dibasmi dan dihilangkan.

“Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”. (HR. Ath-Thabrani)

Bendera Tauhid adalah lambang aqidah Islam. Lafadz syahadat yang tertera di dalam bendra tersebut merupakan pembeda antara Islam dan kekufuran. Siapa saja yang diakhir hayatnya mengucapkan kalimat syahadat, maka akan masuk syurga.


Selain itu, bendera tauhid adalah simbol kemenangan Islam. Bagaimana Sahabat Rasulullah Saw. Ja’far bin Abu Thalib di perang Mu’tah lebih memilih tanganya terpotong dan tubuhnya terbelah hingga syahid, dari pada melihat Bendera tauhid jatuh.


Dalam peperanganya, kaum muslim senantiasa membawa bendera tauhid untuk melawan negara kufur yang membawa bendera lain. Maka pertanyaanya saat ini adalah, apakah film tersebut sedang menarasikan bahwa bendera merah putih adalah bendera kufur yang berhasrat meruntuhkan bendera tauhid?


Film Cacat Ukhuwah

Kerudung adalah simbol muslimah. Itu artinya, setiap wanita yang memakai kerudung, dugaan kuat adalah muslimah. Lantas, mengapa ada adegan petarungan antara sesama muslim? apakah film tersebut sedang memprovokasi terjadinya baku hantam sesama muslim.

Karena tak menutup kemungkinan, film tersebut menjadi legitimasi bagi seseorang yang ingin melakukan tindakan kekerasan terhadap saudaranya yang berbeda pendapat. Seperti adegan pelepasan cadar secara paksa, apakah ini bentuk propaganda untuk melegalisasi penindasan yang dilakukan sebbagian kaum muslim pada saudaranya yang berbeda pendapat?

Inilah yang membuat film ini seperti cacat ukhuwah. Mengadu domba sesama muslim dan melegitimasi kekerasan/penindasan suatu kelompok pada kelompok yang lain.

Film, Alat Propaganda dan Pengalihan Isu

Pesan yang ingin disampaikan film tersebut adalah perang melawan radikalisme. Sebuah narasi jahat yang disematkan pada Islam politik. Label Radikal akan ditempel pada seorang muslim yang menginginkan Islam diterapkan secara utuh dalam setiap kehidupannya. Dan kehidupan manusia tak bisa dilepaskan dari kehidupan berangsa dan bernegara.

Sedangkan muslim ideal yang coba disampaikan dalam film tersebut adalah seorang muslim yang mencintai negerinya dengan diam dan cinta buta. Mereka menutup mata pada realitas bahwa negerinya sedang dirongrong sekulerisme. Karena faktanya, sistem demokrasi yang menjadi landasan negara ini berasaskan sekulerisme. Inilah yang menjadikan ayat konstitusi berada di atas ayat Kitab suci al quran.

Lebih jauh, Radikalisme adalah propaganda barat untuk menghadang kebangkitan Islam. Karena mereka sadar betul akan kekuatan politik Islam. Jika umat Islam telah menyadari kekuatan politiknya, maka dengan segala potensinya akan memunculkan kekuatan yang mampu menghancurkan peradaban barat.

Selain alat propaganda, sudah menjadi lagu lama radikalisme adalah narasi untuk menutupi atau mengalihkan isu. Ketidakbecusan penguasa terhadap penyelesaian Pandemi juga UU Omnibus Law yang mendzolimi adalah isu besar yang membuka lebar aib mereka. Sehingga tak berlebihan banyak yang berargument jika film ini pun dianggap salah satu upaya agar umat islam teralihkan fokusnya.

Oleh karena itu wahai kaum muslim, sesungguhnya problem utama kita adalah ketiadaan institusi Khilafah dalam melindungi ajaran dan umatnya. Film propaganda yang menciderai aqidah kaum muslim dan berpotensi mengadu domba, tak akan mungkin bisa tesebar, jika Khalifah hadir di tengah umat.

Sungguh, negeri ini tak sedang baik-baik saja. Kita harus tunjukan kepedulian kita kepada negeri ini dengan mencabut sistem kufur dari Indonesia. Lalu berjuang untuk menerapkan kembali syariat Islam yang pernah diterapkan pada masa Rasulullah Saw. juga oleh para khalifah setelahnya, agar Allah SWT melimpahkan berkah kepada kita.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S Al-A’raf Ayat 96”)

Post a Comment for "Film, Alat Propaganda dan Pengalihan Isu?"