Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ada Agenda Adu Domba, Kaum Muslimin Harus Bagaimana?

Dalam memperingati Hari Santri tanggal 22 Oktober kemarin, sebuah channel you tube atas nama NU Channel telah merilis sebuah film pendek. Film itu berjudul "My Flag Merah Putih Vs Radikalisme. Namun, belum beberapa lama film itu dirilis, berbagai kritikan membanjiri di kolom komentar. Termasuk ribuan akun yang men-dislike film tersebut.
Oleh : Asy Syifa Ummu Sidiq

Dalam memperingati Hari Santri tanggal 22 Oktober kemarin, sebuah channel you tube atas nama NU Channel telah merilis sebuah film pendek. Film itu berjudul "My Flag Merah Putih Vs Radikalisme. Namun, belum beberapa lama film itu dirilis, berbagai kritikan membanjiri di kolom komentar. Termasuk ribuan akun yang men-dislike film tersebut.

Banyak pihak menyayangkan konten yang disampaikan dalam film itu. Menurut netizen film tersebut justru mendiskreditkan syariat Islam. Seperti cadar dan celana cingkrang. Juga berisi adu domba antara kaum muslim sendiri. Bagaimana tidak, di saat ada narasi

"... Selagi bangsa ini tetap berdiri, negara ini tetap berdiri, maka benderanya tetap merah dan putih. Tapi jangan pernah ditipu oleh pengasong-pengasong bendera yang lain. Silakan mengasong bendera, tapi jangan menandingi Merah Putih"

Justru memperlihatkan adegan pertarungan antar kaum muslimin sendiri. Bahkan ada adegan santriwati yang melepas paksa cadar lawannya. Hal ini sangat disayangkan, pasalnya film ini dimainkan oleh para santri yang nota bene mereka juga muslim.

Film ini juga memperoleh komentar dari KH. Luthfi Bashori, Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang dengan gamblang menyatakan bahwa film ini merendahkan aqidah. Apalagi terkesan memusuhi perempuan yang bercadar. Padahal mereka hanya menjalankan syariat Islam (rmoljatim.id, 26/10/20).

Ketidaksetujuan tentang film ini juga dilontarkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnain. Beliau menilai menjadikan wanita bercadar sebagai musuh bukanlah sesuatu yang pantas. Apalagi memposisikan sesama kaum muslim saling berkelahi. Sangat tidak etis.

Beliau menambahkan harusnya saat narasi mempertahankan merah putih diikuti adegan melawan gerakan separatis yang sengaja merongrong kekuasaan. Dan telah jelas melukai dan menyerang TNI dan Polri. Bukan sekadar perkelahian antar kaum muslimin yang hanya menghantarkan pada perpecahan umat Islam (Suara.com, 27/10/20).

Perlu direnungkan film yang dikeluarkan oleh NU Channel ini bisa jadi bukanlah berasal dari NU sendiri. Namun dari sekelompok orang yang memanfaatkan nama dan ketenaran organisasi nomor satu ini. Mereka adalah orang-orang liberal, yang sengaja meminjam nama Organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari.

Taktik semacam ini sebenarnya sudah dapat terbaca. Sebagaimana strategi yang disarankan oleh Rand Corporation, yang merupakan lembaga penelitian AS. Dalam strateginya menghadapi kaum muslimin, Rand Corp dalam buku berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, yang ditulis oleh Cheryl Benard pada tahun 2003. Telah membagi kaum muslimin menjadi empat golongan.

Mereka adalah (1) kaum fundamentalis; (2) kaum tradisionalis; (3) kaum modernis; (4) kaum sekularis. Kaum fundamentalis adalah kelompok Islam yang memperjuangkan Islam dan melawan kapitalis sekular yang di bawa oleh Barat (AS dan sekutunya).

Kelompok tradisional cenderung berpandangan moderat. Mereka tidak memusuhi Barat, tapi juga tidak seratus persen mendukungnya. Namun masih ada dari kalangan mereka yang dekat dengan para fundamentalis. Sedangkan dua kelompok terakhir, modernis dan sekularis adalah kelompok yang mendukung Barat.

Dari sini Rand Corp berusaha menyajikan emoat strategi untuk menghadapi kaum muslimin. Di antaranya, 1) Dukung kaum modernis terlebih dulu; (2) Dukung kaum tradisionalis melawan kaum fundamentalis; (3) Hadapi dan pertentangkan kaum fundamentalis; (4) Selektif dalam mendukung sekularis.

Oleh karena itu patut kita curigai, bahwa film pendek yang menceritakan perkelahian sesama muslim ini adalah salah satu cara untuk memecah belah para tradisionalis dan fundamental. Barat tak ingin kedua kelompok ini bersatu. Maka, mereka mengadu domba antara keduanya.

Dengan menonjolkan perbedaan di antara keduanya, kaum liberal mampu mempengaruhi sebagian pemahaman kaum muslimin. Hingga kaum muslimin tidak menyadari bahwa mereka sedang diadu domba dengan saudara mereka sendiri.

Sebagai muslim yang cerdas harusnya kita mampu membedakan mana kawan mana lawan. Tidak sekadar "gepyok uyah" semua yang berbeda pendapat dengan pendapatnya itu salah. Umat muslim perlu memahami bahwa kita adalah umat yang satu. Kita akan menjadi kuat mana kala kita bersatu. Inilah yang tidak diinginkan orang Barat.

Jika kaum muslimin bersatu, maka Islam akan bangkit dan merajai dunia. Dengan mabda Islam, kaum muslimin akan mampu menghancurkan imperialisme Barat yang selama ini menjajah bangsa-bangsa. Barat takut dengan itu, mereka berusaha melakukan berbagai cara untuk menghalangi persatuan kaum muslimin.

Perlu kita ingat, Barat (AS dan sekutunya) adalah musuh yang nyata bagi kaum muslimin. Mereka dengan dengan menjajah negeri-negeri muslim. Bahkan menjerat negeri muslim dengan perjanjian, utang dan mengeruk SDA.

"Apabila kalian bepergian di muka bumi, tidaklah mengapa kalian menqashar sembahyang kalian, jika kalian takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata." (QS An Nisa’ [4]: 101)

Maka, kaum muslimin tak perlu termakan hasutan mereka. Entah melalui propaganda atau cara lainnya. Bersatunya kita akan menjadi alarm kematian kapitalisme. Mereka akan takut jika umat Islam bersatu. Di momen Maulid Nabi Muhammad Saw ini, semoga menjadi wasilah bagi kita meniru tindakan Rasulullah. Rasul telah berhasil mempersatukan umat manusia walaupun beda ras, suku, warna kulit dan bahasa dengan Islam. Maka, kita pun perlu berusaha untuk menyatukan kaum muslimin saat ini dari perpecahan dan adu domba orang-orang Kafir. Wallahua'lam bishowab.

Post a Comment for "Ada Agenda Adu Domba, Kaum Muslimin Harus Bagaimana?"