Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sistem Pendidikan Islam Melahirkan Generasi Gemilang

Pendidikan adalah proses pembelajaran, proses di mana kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang sesuatu hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui. Sebuah proses di mana kita dilatih dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berakhlak mulia. Dengan mendapat pendidikan yang layak, diharapkan akan dapat menjadi pribadi yang berperilaku yang baik. Lahirnya generasi emas yang berkontribusi positif untuk peradaban dunia merupakan dambaan umat Islam.
Oleh: Rindoe Arrayah

Pendidikan adalah proses pembelajaran, proses di mana kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang sesuatu hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui. Sebuah proses di mana kita dilatih dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berakhlak mulia. Dengan mendapat pendidikan yang layak, diharapkan akan dapat menjadi pribadi yang berperilaku yang baik. Lahirnya generasi emas yang berkontribusi positif untuk peradaban dunia merupakan dambaan umat Islam.

Hanya saja, saat ini tidak bisa kita pungkiri bahwa potret pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata “baik”. Masalah pendidikan di Indonesia kian lama kian bertambah. Bisa kita lihat dari sisi output pendidikan, yang menghasilkan anak-anak pencetak masalah. Angka seks bebas, narkoba, aborsi, perzinaan, pelecehan seksual yang dilakukan oleh intelektual semakin meningkat.

Hal ini tidak lain karena pengaruh kurikulum sekuler yang diterapkan di sekolah yang membangun kepribadian anak kita dengan tasaqafah asing (bukan Islam), bukan hanya itu, masalah pendidikan lainnya adalah dari sisi kesulitan mengakses pendidikan. Penyebabnya karena kemiskinan sehingga banyak orang tua yang tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya dan masih banyak hal lainnya yang menjadi permasalahan dari sistem pendidikan hari ini. Padahal, alaminya sebuah sistem pendidikan mampu untuk menciptakan problem solver di tengah masyarakat. Namun, fakta yang ada justru sebaliknya.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ( YLBHI) mencatat, selama Januari hingga Mei 2020 terjadi kasus dugaan penodaan agama yang menjerat sejumlah remaja usia 14 hingga 21 tahun. Terduga pelaku umumnya dijerat dengan Pasal 28 Ayat (2) juncto Pasal 45a Ayat (2) Undang-Undang ITE.

"Jadi sebagian besar penggunaan (UU) ITE (dalam kasus dugaan penodaan agama) (terduga pelakunya) di bawah 18 tahun, tapi yang di atas 18 tahun pun usianya ada yang masih di bawah 21 tahun," kata Ketua Umum YLBHI Asfinawati dalam sebuah diskusi daring, Jumat (Kompas.com, 21/8/2020).

"Dan mereka yang menjadi terdakwa karena penodaan agama di bawah 18 tahun itu ada yang usianya 14 tahun, 15 tahun dan 16 tahun," tuturnya.

Asfina mengatakan, para remaja ini dituding melakukan penodaan agama karena unggahan video mereka di media sosial seperti TikTok dan Facebook. Menurut catatan YLBHI, dalam kurun waktu lima bulan, setidaknya enam remaja ditangkap karena membuat konten video mempelesetkan sebuah lagu. Masih akibat video TikTok, sejumlah remaja berusia 19 tahun dituduh melakukan penodaan agama karena beribadah sambil berjoget. Kemudian, akibat unggahan video Facebook, remaja usia 14, 15, dan 16 tahun ditangkap karena dianggap mempelesetkan doa.

Belum lama ini telah terjadi tragedi di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Seorang remaja perempuan berinisial NF (15), telah divonis bersalah dalam kasus pembunuhan balita dan merupakan korban pemerkosaan.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Anak Made Sukreni, NF dinyatakan bersalah karena menghabisi nyawa APA (5) pada 5 Maret 2020.

Bambang menyebutkan, NF didakwa dengan Pasal 76C UU RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, juncto Pasal 80 Ayat (3) UU RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

NF dijatuhi pindana penjara dan ditempatkan di Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPSK) Handayani Jakarta.

"Pidana penjara di LPKS Handayani Jakarta dan dibawah Pengawasan BAPAS selama dua tahun dikurangi masa tahanan," kata Bambang.
NF membunuh balita APA karena terinspirasi film pembunuhan. APA dibunuh di rumah NF di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada 5 Maret 2020. Belakangan diketahui, NF ternyata juga merupakan korban pemerkosaan pria tak bertanggung jawab. NF kini sedang mengandung anak dari peristiwa pemerkosaan tersebut. Sungguh miris, jika melihat fakta rusaknya moral generasi saat ini.

Berawal dari Sistem Pendidikan Kapitalisme

Tidak bisa dipungkiri, semua problem itu bermuara dari diterapkannya kapitalisme dengan prinsip 4 kebebasan (berperilaku, berpendapat, beragama dan kepemilikan). Kapitalisme yang berlandaskan pada akidah sekulerisme telah memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, pelajaran agama dan moral diajarkan di sekolah hanya sekadar ilmu, bukan untuk dipedomani ataupun dijalankan.

Setidaknya ada 4 hal yang mendasari rendahnya moral generasi muda saat ini. 
Pertama, lemahnya fungsi keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Tugas ini semestinya dilakukan secara optimal oleh ibu sebagai pendidik. Dan ayah sebagai tulang punggung yang membiayai pendidikan anaknya. Namun, dengan kondisi keluarga dalam tatanan masyarakat kapitalistik saat ini yang dihimpit oleh kesulitan ekonomi, membuat fungsi keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Orang tua tersibukkan mencari nafkah daripada mencurahkan waktu, perhatian, kasih sayang dan pendidikan agama untuk anak-anak mereka.

Kedua, berlakunya pendidikan kapitalistik di tengah masyarakat. Pendidikan dalam sistem kapitalisme tidak ditujukan membentuk kepribadian. Pendidikan justru dijadikan penopang mesin kapitalisme dengan diarahkan untuk menyediakan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian. Akibatnya, kurikulum disusun lebih menekankan pada pengetahuan dan keahlian tapi kosong dari nilai-nilai agama dan moral. Pendidikan akhirnya hanya melahirkan manusia robotik, pintar dan terampil tapi tidak religius dan bermoral buruk.

Ketiga, rendahnya kontrol masyarakat. Dengan sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini, tidak jarang telah menciptakan masyarakat yang individualis dan hedonis. Ketidakpedulian mulai datang dari masyarakat. Kebanyakan mereka hanya menggunjingkan para pelaku maksiat bukan dengan menasehati mereka pada kebaikan. Abai mereka pun terlihat tatkala membiarkan anak-anaknya melakukan aktifitas pacaran yang jelas-jelas adalah gerbang pertama dari kemaksiatan. Ditambah lagi, kurangnya perilaku amar ma’ruf nahi mungkar ditengah-tengah masyarakat. Akhirnya, para generasi muda terabaikan dan masyarakat hanya bisa diam atas kemaksiatan telah mereka lakukan.

Keempat, abainya pemerintah. Sistem kapitalisme bisa eksis ditengah-tengah masyarakat hari ini tidak bisa dipungkiri karena pemerintah yang telah melanggengkannya. Berdalih dengan asas kebebasan, budaya-budaya barat dibiarkan hadir ditengah-tengah masyarakat hingga menjadi contoh bagi generasi muda. Lihatlah tontonan yang tidak mendidik dibiarkan tayang di televisi sedangkan ceramah – ceramah Islam dikurangi keberadaannya bahkan tidak ditayangkan sama sekali. Situs-situs porno dibiarkan bertebaran sedangkan situs-situs Islam di blokir secara sepihak. Pengajian yang bertujuan untuk menjaga generasi muda dari pergaulan bebas malah dihalangi bahkan dibatalkan. Begitu juga dengan pendidikan sekuler yang akhirnya menjauhkan peserta didik dari kepribadian Islam.

Sistem Pendidikan Islam

Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. yang mengatur seluruh aspek kehidupan; hubungan dengan Allah SWT terkait aqidah dan ibadah; hubungan dengan sesama manusia terkait mu’amalah dan uqubat (sanksi); dan hubungan dengan diri sendiri terkait akhlak, pakaian, makanan dan minuman. Islam juga mempunyai aturan yang komplit dalam mengatur pendidikan agar terbentuklah intelektual yang berkepribadian Islam.

Dalam sistem pendidikan Islam, aqidah menjadi landasan utama dalam pendidikannya. Aqidah Islam berkonsekuensi atas ketaatan pada syari’at Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syari’at Islam.
Adapun kurikulum yang diterapkan kepada peserta didik ada 3 hal yang harus dipenuhi.

Pertama, berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (‘aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam.

Kedua, menguasai tsaqafah Islam. Yaitu ilmu-ilmu yang menambah pengetahuan tentang Islam seperti; konsep, ide, dan hukum-hukum Islam; bahasa Arab; sirah Nabi SAW, ulumul Qur’an, tahfizh al-Qur’an, ulumul hadist, ushul fiqih, dll.

Ketiga, menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi dengan baik, seperti ilmu kedokteran, kimia, fisika, biologi, pertanian, pertenakan, penerbangan, teknik, industri makanan, pangan, dll.

Sistem pendidikan Islam memposisikan pendidikan sebagai kebutuhan pokok seluruh rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Oleh karena itu, negara menjamin setiap rakyatnya, baik laki-laki dan perempuan untuk menikmati proses pendidikan sampai perguruan tinggi tanpa memungut biaya. Demikian pula kesehatan dan keamanan, diberikan secara cuma-cuma kepada setiap individu rakyat, karena merupakan kebutuhan pokok seluruh rakyat. (Abdurrahman Al Maaliki, 1963).

Pada masa-masa kejayaan dan puncak keemasannya, Daulah Khilafah Islamiyyah mampu melahirkan banyak ilmuwan muslim berkaliber internasional yang telah menorehkan karya-karya luar biasa dan bermanfaat bagi umat manusia. Pada saat berjayanya peradaban Islam semangat pencarian ilmu sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Semangat pencarian ilmu yang berkembang menjadi tradisi intelektual secara historis dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi’it tabiin dan para ulama yang datang kemudian dengan merujuk pada sunnah Nabi Muhammad SAW.

Fakta sejarah mencatat, pada masa Khilafah Abbasiyah terjadi pencapaian yang cemerlang di dunia Islam di bidang sains dan teknologi. Di mana Baghdad mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Secara politis, para khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi.

Contohnya, pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid. Pada masa pemerintahannya, ia banyak mendirikan sekolah, yang salah satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, sebagai pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.

Terjadinya perkembangan lembaga pendidikan pada masa Harun Al Rasyid mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Pada masa pemerintahan Abbasiyah juga lahir para imam mazhab hukum yang empat : Imam Abu Hanifah (700-767 M); Imam Malik (713-795 M); Imam Syafi’i (767-820 M) dan Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M).

Pada masa-masa permulaan perkembangan kekuasaan, Islam telah memberikan kontribusi kepada dunia berupa tiga jenis alat penting yaitu paper (kertas), compass (kompas) and gunpowder (mesiu). Penemuan alat cetak (movable types) di Tiongkok pada penghujung abad ke-8 M dan penemuan alat cetak serupa di Barat pada pertengahan abad 15 oleh Johann Gutenberg, menurut buku Historians’ History of the World, akan tidak ada arti dan gunanya jika Bangsa Arab tidak menemukan lebih dahulu cara-cara bagi pembuatan kertas.

Pencapaian prestasi yang gemilang sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang dilakukan pada zaman Daulat Abbasiah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan muslim yang mashur dan berkaliber internasional seperti: Al-Biruni (fisika, kedokteran); Jabir bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism) pada ilmu matematika; Al-Kindi (filsafat); Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi); Abu Ali Al-Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik; Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd (Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi). Mereka telah meletakkan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Sejarah telah membuktikan bahwa kontribusi Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantahkan. Bahkan bermula dari dunia Islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi (penyebaran, penularan) dan proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya diliputi oleh masa ‘the Dark Ages’ mendorong munculnya zaman renaissance di Eropa.

Melalui dunia Islam-lah mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Menurut George Barton, ketika dunia Barat sudah cukup masak untuk merasakan perlunya ilmu pengetahuan yang lebih dalam, perhatiannya pertama-tama tidak ditujukan kepada sumber-sumber Yunani, melainkan kepada sumber-sumber Arab.

Melalui Spanyol, Sicilia dan Perancis Selatan yang berada langsung di bawah pemerintahan Islam, peradaban Islam memasuki Eropa. Bahasa Arab menjadi bahasa internasional yang digunakan berbagai suku bangsa di berbagai negeri di dunia. Baghdad di Timur dan Cordova di Barat, dua kota raksasa Islam menerangi dunia dengan cahaya gilang-gemilang. Sekitar tahun 830 M, Alfonsi-Raja Asturia telah mendatangkan dua sarjana Islam untuk mendidik ahli warisnya. Keunggulan ilmiah kaum muslimin tersebar jauh memasuki Eropa dan menarik kaum intelektual dan bangsawan Barat ke negeri-negeri pusatnya.

Tidaklah mengherankan, karena pada saat kekhilafahan Islam berkuasa saat itu Spanyol menjadi pusat pembelajaran (centre of learning) bagi masyarakat Eropa dengan adanya Universitas Cordova. Di Andalusia itulah mereka banyak menimba ilmu, dan dari negeri tersebut muncul nama-nama ‘ulama besar seperti Imam Asy-Syathibi pengarang kitab Al-Muwafaqat, sebuah kitab tentang Ushul Fiqh yang sangat berpengaruh; Ibnu Hazm Al-Andalusi pengarang kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal, sebuah kitab tentang perbandingan sekte dan agama-agama dunia, dimana bukti tersebut telah mengilhami penulis-penulis Barat untuk melakukan hal yang sama.

Semaraknya pengembangan ilmu dan pengetahuan di dunia Islam diindikasikan dengan banyaknya perpustakaan tersebar di kota-kota dan negeri-negeri Islam yang jumlahnya sangat fantastis. Sejarah mencatat, perpustakaan di Cordova pada abad 10 Masehi mempunyai 600.000 jilid buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Cairo mempunyai 2.000.000 jilid buku. Perpustakaan Al Hakim di Andalusia mempunyai berbagai buku dalam 40 kamar yang setiap kamarnya berisi 18.000 jilid buku. Perpustakaan Abudal Daulah di Shiros (Iran Selatan) buku-bukunya memenuhi 360 kamar. Sementara ratusan tahun sesudahnya (abad 15 M), menurut catatan Catholik Encyclopedia, perpustakaan Gereja Canterbury yang merupakan perpustakaan dunia Barat yang paling kaya saat jumlah bukunya tidak melebihi 1.800 jilid buku.

Dari pusat-pusat peradaban Islam yang meliputi Baghdad, Damaskus, Cordova, Sevilla, Granada dan Istanbul, telah memancarkan sinar gemerlap yang menerangi seluruh penjuru dunia terlebih Cordova, Sevilla, Granada yang merupakan bagian dari kekuasaan Islam di Spanyol telah banyak memberikan kontribusi besar terhadap tumbuh dan berkembangnya peradaban modern di dunia Barat.

Menyimak betapa besar kontribusi Islam terhadap lahirnya peradaban Islam berskala dunia terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kemajuan yang dicapai Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam. Dunia Barat sekarang sejatinya berterima kasih kepada umat Islam. Akan tetapi pada kenyataannya pihak Barat (non Muslim) telah sengaja menutup-nutupi peran besar atas jasa para pejuang dan ilmuwan muslim tersebut yang pada akhirnya terabaikan bahkan sampai terlupakan. Oleh karena itu, umat Islam perlu kembali menggelorakan semangat keilmuan para ilmuwan muslim atas sumbangsihnya yang amat besar bagi peradaban umat manusia di dunia dalam menyongsong kembali kejayaan Islam dan umatnya.

Sejarah telah membuktikan, bahwa penerapan Islam secara kaffah dalam kurun waktu 13 abad lamanya telah mampu melahirkan generasi gemilang. Saatnya mengganti kapitalisme yang telah nyata sebagai sistem kehidupan yang rusak dan merusak kembali kepada sistem pedidikan Islam yang telah mampu melahirkan generasi gemilang sebagai roda penggerak bangkitnya sebuah peradaban dalam naungan Khilafah Islamiyah. Wallahu a'lam bishshawab.

Post a Comment for "Sistem Pendidikan Islam Melahirkan Generasi Gemilang"