Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pemilihan dan Pengangkatan Khalifah Dalam Sistem Islam Hemat Biaya, Bebas Corona dan Pilkada Maut

Pemilihan pemimpin terhemat dan terbaik dalam segala aspek ada dalam Sistem Islam. Mekanisme pemilihan Khalifah sangat unik tidak menghabiskan biaya triliunan rupiah. Seperti diketahui bersama, pemilu dalam sistem demokrasi menghabiskan dana Rp.24,8 T untuk menyelenggarakan pilpres 2019 (Tirto.id). Itu baru pilpres belum pilkada dan pileg.
Oleh Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Pemilihan pemimpin terhemat dan terbaik dalam segala aspek ada dalam Sistem Islam. Mekanisme pemilihan Khalifah sangat unik tidak menghabiskan biaya triliunan rupiah.

Seperti diketahui bersama, pemilu dalam sistem demokrasi menghabiskan dana Rp.24,8 T untuk menyelenggarakan pilpres 2019 (Tirto.id). Itu baru pilpres belum pilkada dan pileg.

Padahal uang sebanyak itu bisa digunakan untuk kemaslahatan rakyat. Dana untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan tentu akan meningkat.

Berbeda dengan demokrasi, Pemilihan Khalifah hanya 3 hari sehingga tidak memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang besar untuk kampanye besar-besaran. Khalifah dipilih oleh lembaga khusus yaitu Ahlul Halli Wal Aqdi yang dibatasi maksimal 6 orang.

Ketika terpilih, Khalifah dibaiat secara in'iqod (baiat pengangkatan) dan masyarakat tinggal membaiat taat saja. Tanpa harus membentuk KPU yang menggunakan banyak dana untuk membuat surat dan kotak suara.

Ketika Khalifah menjabat, Beliau memilih para pejabat negaranya seperti Muawin Tanfidz, Muawin Tafwidh, Para Wali (Gubernur) dan Amil (Bupati).

Ini sangat hemat. Tidak perlu ada pilkada dan pileg yang hanya menambah beban biaya negara. .

Korupsi membengkak dalam demokrasi karena banyak pemimpin yang terpilih melunasi biaya kampanyenya dengan memuluskan banyak proyek. Sedangkan dalam sistem Khilafah, para pejabat akan susah korupsi karena gaji para Pejabat diperbesar dan ada audit kekayaan awal dan akhir pejabat.

Pejabat takut ketahuan korupsi. Bagi yang korupsi akan dikenakan hukuman yang sangat keras misalnya diarak keliling kota, dipenjara atau bentuk hukuman lainnya tergantung ijtihad para Qadhi (Hakim) Islam.

Pemilihan Khalifah pada masa pandemi mengikuti protokol kesehatan karena Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) saja yang beraktivitas memilih pemimpin. Rakyat tinggal mengikuti.

AHWA adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas dan kemampuan memimpin tingkat tinggi. Mereka adalah para Mujtahid ulung.

Proses pemilihan seperti ini tidak akan melibatkan kerumunan massa pemilih sehingga peluang persebaran virus bisa dicegah. Tidak ada resiko sama sekali atau ketakutan terjadinya penambahan pasien Corona karena berkumpulnya masyarakat.

Walhasil Islam adalah sistem yang maha sempurna jika diterapkan secara Kaffah. Semoga bisa terwujud dalam waktu dekat ini. []

Bumi Allah SWT, 26 September 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Pemilihan dan Pengangkatan Khalifah Dalam Sistem Islam Hemat Biaya, Bebas Corona dan Pilkada Maut"