Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengapa Aborsi Terus Membengkak Dalam Demokrasi?

Dalam demokrasi segala jenis perzinahan dan pergaulan bebas dilindungi asal suka sama suka tidak bisa diproses hukum. Kebebasan untuk meraih materi sebanyak-banyaknya membuat banyak pasangan menganggap mempunyai anak sebagai beban ekonomi dan karir. Sangat sedikit yang melakukan aborsi karena alasan syar'i semisal menyelamatkan nyawa sang Ibu.
Oleh Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Sebuah rumah yang dijadikan klinik aborsi di Jl. Percetakan Negara III, Senen, Jakpus dibongkar oleh aparat penegak hukum karena melakukan praktik aborsi ilegal sejak 2002 (18 tahun lamanya beraksi). Sejak tahun 2017 saja, Klinik tak berizin di Jakpus itu sudah mengaborsi 32 ribu janin (lihat detiknews, 26/9/2020).

Selain itu, dokter dan bidan yang melakukan aborsi tidak memiliki kompetensi dan sertifikasi sebagai tenaga pembantu medis. Klinik ini juga melibatkan beberapa calo yang mencari klien untuk bisa mendapatkan layanan aborsi.

Calo-calo ini memiliki peran yang sangat besar bagi klinik karena mereka pro aktif mencari klien (baca: mangsa). Lewat sebuah website, para calo menyertakan nomer hpnya untuk dihubungi. Mereka menghubungkan para klien dengan klinik-klinik aborsi yang ada di Jakarta.

Calo yang berhasil melakukan aksinya mendapatkan fee 50%. Selain itu, Klinik aborsi di Senen, Jakpus, ini ketahuan telah mengaborsi 903 bayi yang kemudian dimusnahkan di dalam septic tank menggunakan bahan kimia (Solopos.com).

Jumlah kasus aborsi (apapun alasannya) di Indonesia cukup besar mencapai 2,3 juta kasus per tahun. 30% kasus aborsi dilakukan oleh remaja (kompas.com, 19/2/2009 dan Penelitian Guttmacher Institute,17/2/2020).

Penelitian ini mengungkap ada 37 aborsi pada 1.000 wanita usia produktif reproduksi (15-49 tahun) setiap tahun di Indonesia. Kebanyakan wanita yang melakukan aborsi karena tidak ingin punya anak lagi.

Beberapa wanita lainnya melakukan aborsi karena ingin meneruskan pendidikan sebelum menikah. Sementara empat persen lainnya melakukannya untuk menjaga kesehatan fisik.

Penemuan klinik aborsi ilegal di Senen Jakpus ini bisa jadi hanya fenomena puncak gunung es. Baru puncaknya yang kelihatan, bagian bawahnya bisa jadi lebih besar. Yang ditemukan aparat baru sebagian kecil, yang lebih banyak belum terendus.

Apapun alasannya aborsi merupakan kegiatan yang dilarang menurut hukum Islam kecuali untuk alasan syar'i. Alasan syar'i misalnya ketika kelahiran normal yang dinanti-nantikan ternyata ada masalah kesehatan. Dokter dan orangtua harus memilih antara menyelematkan nyawa bayi atau ibu kandungnya.

Kalau seperti ini alasannya, aborsi dibolehkan dalam Islam demi menjaga keselamatan sang Ibu. Bukan merupakan dosa besar. Namun yang terjadi dalam sistem demokrasi, aborsi telah menjadi perkara yang lazim dan banyak dipraktikan apa pun alasannya.

Menggugurkan janin karena alasan tidak syar'i seperti hamil diluar nikah atau pergaulan bebas adalah tindakan tercela. Mengaborsi bayi karena dianggap beban ekonomi bagi keluarga dan dikhawatirkan mengganggu karier pasutri adalah dosa besar dan bisa dianggap tindakan kriminalitas dalam Islam.

Apa salah janin itu? Demokrasi lah yang membuat kasus aborsi terus saja membengkak di Indonesia. 2 juta kasus per tahun berarti dalam 10 tahun ada 20 juta janin yang dibunuh.

Dalam demokrasi segala jenis perzinahan dan pergaulan bebas dilindungi asal suka sama suka tidak bisa diproses hukum. Kebebasan untuk meraih materi sebanyak-banyaknya membuat banyak pasangan menganggap mempunyai anak sebagai beban ekonomi dan karir. Sangat sedikit yang melakukan aborsi karena alasan syar'i semisal menyelamatkan nyawa sang Ibu.

Ini berbeda dengan Sistem Islam (Khilafah) yang menutup segala jenis perzinahan dan mempermudah pernikahan. Bagi yang ingin menikah akan dinikahkan oleh negara bahkan difasilitasi seperti zamannya Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Lapangan kerja pun dibuka sebesar-besarnya bagi warga negara. Anak-anak mereka beserta keluarganya diberikan jaminan kesehatan dan pendidikan gratis sehingga tidak terbesit bagi orang tua untuk mengaborsi janinnya karena khawatir dengan biaya pendidikan dan kesehatan di masa depan.

Khilafah akan mengambil alih SDA yang dikuasai kapitalis. Keuntungan dari SDA sudah melimpah untuk membahagiakan keluarga warga negara. Sehingga peluang untuk aborsi tak syar'i bisa diminimalkan.

Inilah perbedaan dua sistem. Semoga kita tersadarkan akan dampak buruk demokrasi dan segera menerapkan sistem baru yang lebih memanusiakan manusia yakni Khilafah. []

Bumi Allah SWT, 28 September 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Mengapa Aborsi Terus Membengkak Dalam Demokrasi?"