Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENELUSURI JEJAK SABDA PUAN, TIARAP ?

Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila," yang diunggah Puan,
Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Kata adalah bahasa untuk mengungkapkan pikiran yang ada didalam benak. Kata juga menjadi sarana untuk mengabarkan suasana batin.

Penggunaan kata, selain untuk menyampaikan apa yang ada dalam benak dan batin seseorang, juga ditujukan agar kata mampu menyambung harapan, menunaikan hajat, menyampaikan keinginan. Jadi, selain wajib memilih 'kata yang tepat' juga wajib memeriksa tafsiran pihak yang diujar. Dalam aspek ini, seorang pengujar kata tak boleh bersikap etnosentris.

Kalimat "Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila," yang diunggah Puan, secara subjektif bisa dipahami :

Pertama, harapan Puan agar Cakada dukungan PDIP didukung dan dimenangkan. Dimana, kemenangan Cakada PDI-P dimaknai dengan tafsiran paksa sebagai kemenangan Pancasila.

Kedua, keluhan atas kekalahan PDIP selama ini di Sumbar. Karenanya, ungkapan Puan bisa juga dimaknai sebagai 'pengingat' agar masyarakat mendukung Pancasila yang maknanya adalah mendukung Cakada PDI-P.

Ketiga, pesan internal PDIP agar lebih solid dalam memenangkan Canada di Pilkada Sumbar, dengan menjadikan Pancasila sebagai ruh untuk mengikat internal dan meraih dukungan eksternal.

Namun, nampaknya Puan kurang apik membungkus motif dan misi partai, dengan pilihan bahasa agitasi yang keliru. Ujaran "Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila," justru ditafsirkan oleh Publik Sumbar sebagai pernyataan yang meragukan komitmen Sumbar, mempersoalkan sikap dan pilihan politik serta tradisi intelektual Sumbar, juga yang paling sensitif adalah dipahami sebagai konfirmasi kebencian terhadap syariat Islam yang selama ini mengakar dalam tradisi Sumbar.

Belum lagi, partai politik rival termasuk yang bersama mengusung Cakada, juga memanfaatkan celah ini untuk mendepak PDIP dari partai pengusung Cakada. Jika PDIP didepak, itu artinya kue kekuasaan politik tahta Sumbar tidak akan dibagi untuk PDIP.

Semestinya, Puan mengambil pilihan kata agitasi yang menyatukan, dan mengikat masyarakat Sumbar sebagai bagian dari PDIP dan Cakada yang diusungnya. Meskipun, tetap menyelipkan misi partai pada bahasa agitasi.

"Kita bersyukur Sumbar telah berada di garda terdepan sebagai daerah yang menelurkan tokoh yang membela Pancasila, sebagaimana Bung Hatta mendukung Bung Karno dalam mendirikan dan memimpin Republik ini. Kita juga berdoa, semoga Sumbar makin erat dan mendukung Pancasila agar perjuangan Bung Hatta dapat dilanjutkan oleh putra daerah Sumbar sebagai penerusnya".

Ini adalah contoh bahasa agitasi yang pas, merealisir misi partai dalam Pilkada, sekaligus merangkul warga Sumbar sebagai bagian dari Pancasila, bagian dari PDIP. Sayangnya, kemampuan intelektual Puan nampaknya tak mampu menjangkau itu.

Saat Sabda Puan menuai kritik publik khususnya masyarakat Sumbar, Puan justru tiarap. Tak ada klarifikasi atau permintaan maaf dari Puan selaku pengajur kata, pengunggah bahasa.

Yang sibuk mengklarifikasi justru Hasto Kristiyanto, Arteria Dahlan, hingga ketua DPD PDIP Sumbar. Lha wong Puan masih ada kok yang klarifikasi orang lain ? Puan kan bisa bicara sendiri, kenapa justru sibuk membuat klarifikasi ? Apakah Puan untuk sementara Tiarap ? [].

Post a Comment for "MENELUSURI JEJAK SABDA PUAN, TIARAP ?"