Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jenderal-Jenderal Besar Dalam Islam Tak Pernah Dicopot Karena Melawan Kekufuran

sistem demokrasi yang mengecilkan peran para Jenderal. Jenderal yang mau bangkit melawan ancaman penjajahan modern ala Barat pun dipinggirkan. Sebagian Jenderal malah disibukkan oleh sistem dengan urusan yang tidak utama. Ada jenderal yang dicopot karena diduga melawan kebangkitan komunis. Selain itu, Gerakan Separatisme mendapat angin segar dengan dalih kebebasan dan HAM. Di lain sisi, pangan pun mendapatkan penanganan lebih daripada menangani pemberontakan dalam negeri.

Oleh Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional Dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Siapa yang menyangka seorang komandan elit kafir Quraisy dari Bani Makzhum yang sering melawan Kaum Muslimin masuk Islam. Sebelumnya, Khalid bin Walid ra berhasil mengalahkan Kaum Muslimin pada perang Uhud dengan memanfaatkan kecerobohan pasukan pemanah.

Namun atas hidayah Allah SWT, Khalid bin Walid ra masuk Islam sebelum futuh Makkah (Penaklukkan Makkah). Sejak saat itu Beliau selalu memenangkan lebih dari seratus perang besar. Ia pun digelari oleh Rasulullah SAW sebagai Saifullah Al Maslul (Pedang Allah yang terhunus).

Gelar ini memang pantas karena Beliau mampu mengalahkan Kekaisaran Byzantium Romawi (perang Mut'ah dan Yarmuk), Kekaisaran Persia Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah hanya dalam waktu 4 tahun (632 -636M). Sebuah prestasi yang teramat besar.

Beliau juga memenangkan Perang Yamama, Ullais, Firaz, Walaja dan Yarmuk. Selain Jenderal Khalid bin Walid ra ada 8 Jenderal Islam yang terkenal memajukan Dakwah Khilafah di dunia. Mereka antara lain adalah Shalahuddin Al Ayyubi (di Barat terkenal sebagai Saladin), Jenderal terbesar dalam Perang Salib yang membebaskan Jerusalem (Uru Salima) dari Guy The Lusignan Raja Jerusalem.

Selanjutnya, ada Jenderal Abdullah Bin Amir ra, Gubernur Busra (647-656M) jenderal Khulafaur Rasyidin (era Utsman bin Affan ra) dikenal sebagai ahli administrasi dan militer. Jenderal Amr bin Ash yang mampu menaklukkan Mesir tanpa pertumpahan darah pada era Khalifah Umar bin Khattab ra. Ia seorang politisi cemerlang, diplomat ulung, penyair profesional dan pemberantas wabah di kota Amwas Suriah dengan teknologi Lock Down.

Lalu ada Jenderal Thariq bin Ziyad yang dikenal dalam Sejarah Pembebasan Andalusia. Ia membebaskan Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya pada tahun 711M. Gibraltar sendiri berasal dari bahasa Arab Jabal Thariq (Mount of Thariq) untuk mengagungkan penaklukan Andalusia oleh sang Jenderal.

Jenderal Besar yang lain bernama Syurahbil bin Hasanah ra, Salahseorang Sahabat Nabi Muhammad SAW yang berhasil menaklukkan Suriah pada tahun 634M. Tak kalah legendaris, Jenderal Muhammad Al Fatih (Sultan Utsmani yang waktu itu masih menginduk ke Kekhilafahan Abbasiyah) yang berhasil menaklukkan Kerajaan Romawi Timur setelah berkuasa 11 Abad. Sang Sultan merubah Konstantinopel menjadi Islambul (full of Islam).

Sa'ad bin Abu Waqqas ra, Paman Nabi Muhammad SAW, yang memimpin 3000 pasukan kaum Muslimin menembus sungai dan menaklukkan 120.000 pasukan Persia. Pertempuran ini dikenal dengan sebutan Perang Qadissiyah. Dan yang terakhir adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah ra yang berhasil menyusun strategi melawan Romawi.

Semua Jenderal Besar ini menjadi Penakluk Agung (The Greatest Conquerers) karena memperjuangkan Sistem Islam. Berperang bersama KeKhilafahan dan melebarkan sayap kekuasaan Islam setelah 2 pilihan Islami (masuk Islam atau membayar Jizyah) ditolak oleh para Kaisar yang sombong. Para musuh Allah ini malah menghina Islam dan Kaum Muslimin.

Islam pun tersebar tanpa penjajahan. Warga taklukan masuk Islam dengan sukarela tanpa ada paksaan. Ini berbeda dengan inkuisisi Andalusia dimana yang menolak murtad dibunuh oleh Kerajaan Non Muslim.

Jenderal-jenderal ini Besar karena Islam. Kalaupun Jenderal Khalid bin Walid ra pernah diganti Khalifah Umar bin Khattab ra itu bukan karena perlawanan Sang Jenderal kepada Kekufuran. Jenderal Khalid diganti agar Kaum Muslimin belajar bahwa kemenangan selama ini karena Allah SWT bukan karena pribadi seseorang. Toh, Sang Jenderal dan Jenderal-Jenderal penerusnya telah berhasil menaklukkan 2/3 dunia (Sebagian Asia, Afrika dan Eropa).

Jenderal Khalid bin Walid ra pun tak merasa dibuang. Ia Jenderal yang setia kepada Islam.

Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang mengecilkan peran para Jenderal. Jenderal yang mau bangkit melawan ancaman penjajahan modern ala Barat pun dipinggirkan. Sebagian Jenderal malah disibukkan oleh sistem dengan urusan yang tidak utama.

Ada jenderal yang dicopot karena diduga melawan kebangkitan komunis. Selain itu, Gerakan Separatisme mendapat angin segar dengan dalih kebebasan dan HAM. Di lain sisi, pangan pun mendapatkan penanganan lebih daripada menangani pemberontakan dalam negeri.

Seandainya jika sistem demokrasi ditinggalkan dan beralih kepada Sistem Islam, Jenderal-jenderal Besar akan muncul dan mengusir penjajahan neo imperialisme Barat. Ketika Kapitalisme diganyang, Islam tegak rakyat pun makmur seperti masa Kekhilafahan dulu. []

Bumi Allah SWT, 24 September 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Jenderal-Jenderal Besar Dalam Islam Tak Pernah Dicopot Karena Melawan Kekufuran"