Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ISLAMOFOBIA MENYERANG ISLAM, SYARIAH DAN KHILAFAH

sikap Islamofobia kembali terjadi di Eropa. Munculnya majalah satir Prancis, Charlie Hebdo, yang kembali mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad

Oleh : W.Irvandi

Tidak kurang dari satu bulan sikap Islamofobia kembali terjadi di Eropa. Munculnya majalah satir Prancis, Charlie Hebdo, yang kembali mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad. Dan penerbitan itu untuk menandai dimulainya persidangan bagi terduga pembantu penyerangan kantor majalah tersebut pada 2015. (Beranda Islam, 2/9/2020)

“Kami tidak akan pernah pasrah. Kami tidak akan pernah menyerah,” tulis editor Laurent Sourisseau dalam kutipan di halaman depan majalah yang akan dipublikasikan dalam versi cetak pada Rabu (2/9), waktu setempat. Di sisi lain Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengatakan dirinya tidak mempunyai kapasitas untuk menghakimi keputusan Charlie Hebdo tersebut. Dia menyebut Prancis mempunyai kebebasan berekspresi.

Tidak jauh berbeda yang dilakukan oleh kelompok sayap kanan Denmark juga berbuat hasil dari Islamofobia yaitu membakar Al-Qur’an di Swedia, Kamis 10 September 2020 lalu. Sebagaimana dikutip dari Beranda Islam (16/9), tindakan ini menyusul aksi provokatif Islamofobia yang serupa terjadi sebelumnya.

Kelompok ekstremis asal Denmark itu, Stram Kurs, membakar kitab suci umat Muslim selama berunjuk rasa di Rinkeby, Stockholm. Mereka telah meminta izin kepada polisi untuk membakar Alquran, tetapi permintaan itu ditolak. Rombongan Stram Kurs tiba di Rinkeby pada Kamis pagi untuk berunjuk rasa. (Beranda Islam, 16/9/2020)

Bulan Agustus lalu, pendukung Rasmus Paludan, pemimpin ekstrimis sayap kanan, juga membakar sebuah Alquran di Kota Malmo, Swedia Selatan. Insiden itu telah menyebabkan sejumlah petugas polisi terluka dan 10 orang ditahan, Polisi juga melarang Paludan memasuki Swedia selama dua tahun. Berulang kali penghinaan terhadap Islam terjadi di Eropa, yang mengaku sebagai negara-negara penganut paham kebebasan. Namun, Islamofobia masih menjadi pemahaman dan berulang kali tidak sejalan dengan prinsip kebebasan yang dianut.

Sejak pasca peristiwa tragedi WTC 11 September 2001 di New York dan seruan peperangan terhadap terorisme, komunitas Islam seolah-olah menjadi bagian isu penting untuk selalu dibicarakan. Komunitas Islam dipandang sebagai penyebab segala permasalahan dan secara stereotip mereka menjadi sasaran tuduhan tersebut. Pasca serangan tersebut Amerika sampai mengeluarkan daftar pendatang yang dicurigai potensial sebagai teroris berlaku mulai tanggal 1 Oktober 2002. (Mordiningsih, 2004)

Namun permasalahannya bukan hanya sekedar tindakan terorisme, akan tetapi stereotip terhadap Islam dan umatnya senantiasa sebagai tertuduh dan dianggap selalu menjadi biang masalah. Tuduhan tanpa bukti apalagi argumentasi jelas merupakan bentuk prasangka buruk dan sebagai suatu ancaman terhadap Islam. Hal ini merupakan bagian dari sikap phobia yaitu ketakutan karena muncul dari prasangka.

Sebagaimana yang didefenisikan tentang phobia adalah sesuatu yang dianggap sebagai bentuk khusus ketakutan. Kecemasan dalam phobia dialami apabila seseorang menghadapi objek atau situasi yang ditakuti atau dalam antisipasi akan menghadapi kondisi tersebut. Sebagai tanggapannya, orang menunjukkan tingkah laku penghindaran yang merupakan ciri utama semua phobia (De Clerq dalam Mordiningsih, 2004).

Pertanyaannya mengapa Islam harus ditakuti? Karena Islam disebut-sebut sebagai pengganti kekuatan Nazi maupun komunis yang mengandung gambaran tentang invasi dan infiltrasi. Namun saat ini juga Islam sebagai perlawanan terhadap Sekuler-Kapitalis yang sedang mendominasi dunia pasca runtuhnya Uni Soviyet. Dominasi kapital yang berbentuk neo-kolonialisme inilah yang mendapatkan perlawanan tajam dari Islam.

Maka dari itu bentuk Islamofobia dimunculkan agar tetap menjaga dominasi Barat terhadap negeri-negeri Muslim, karena harus ada musuh bersama dalam mempertahankan kepentingan dan kekuasaan. Ketakutan dan kebencian terhadap Islampun berlanjut pada ketakutan serta rasa tidak suka kepada sebagian besar orang-orang Islam dan ajaran Islam khususnya Khilafah.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Bush ketika menjadi presiden AS, sebagai bentuk perlawanan terhadap terorisme "Every nation, in every region, now has a decision to make. Either you are with us, or you are with the terrorists." Dan ini merupakan perlawanan terhadap Khilafah “a totalitarian Islamic empire reaching from Spain to indonesia.” Sekaligus untuk menjaga nilai-nilai Barat.

Islamophobia inilah yang tidak dapat dipisahkan dari problema prasangka terhadap orang Muslim dan orang yang dipersepsi sebagai Muslim. Prasangka anti muslim didasarkan pada sebuah klaim bahwa Islam adalah agama “inferior” dan merupakan ancaman terhadap nilai-nilai yang dominan pada sebuah masyarakat (Abdel-Hady dalam Mordaningsih, 2004). Terlebih lagi ancaman bagi nilai-nilai barat yang diagung-agungkan yaitu kebebasan dan liberal.

Islamophobia memiliki beberapa karakteristik. Untuk memahami karakteristik ini dalam laporan Runnymede menjelaskan sebuah kunci untuk memahami perbedaan tersebut, yaitu pandangan yang terbuka dan pandangan yang tertutup terhadap Islam (open and closed views of Islam). Phobia dan ketakutan terhadap Islam yang terjadi merupakan karakteristik dari pandangan yang tertutup terhadap Islam (closed views), sementara ketidaksetujuan yang logis dan kritik serta apresiasi maupun pernghormatan merupakan pandangan yang terbuka terhadap Islam (open views). (Mordiningsih, 2004)

Dari beberapa deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa Islamophobia adalah bentuk ketakutan berupa kecemasan yang dialami seseorang maupun kelompok sosial terhadap Islam dan orang-orang Muslim yang bersumber dari pandangan yang tertutup tentang Islam serta disertai prasangka bahwa Islam sebagai agama yang “inferior” tidak pantas untuk berpengaruh terhadap nilai-nilai yang telah ada di masyarakat. (Mordiningsih, 2004)

Jadi, pandangan tertutup dan sempit inilah yang menyebabkan muncul kebencian dan ketakutan terhadap Islam. Terlebih lagi narasi-narasi terorisme dan radikal terus digulirkan untnuk menutupi bentuk perasaan kalah dan tdak mengetahui bagaimana cara untuk menang. Begitulah bagaimana gambaran Islamofobia yang terjadi, karena tidak ada lagi argumentasi untuk membantah Islam.

Islamofobia dan prasangka negatif ini juga terjadi dan muncul di Indonesia. Selain menggambarkan dan menarasikan tentang radikal, sikap mendeskriditkan ajaran Islam dan para aktivisnya khususnya yang memperjuangkan Islam kaffah yaitu berupa penerapan syariah dan Khilafah. Kita bisa mengetahui dari narasi Menag, Fachrul Razi yang sudah bersikap prasangka buruk kepada good looking hingga hafidz Quran. Hingga bentuk-bentuk persekusi kepada ormas, ulama dan para aktivis Muslim yang inign menerapkan syariah serta memperjuangkan ide Khilafah.

Pemblokiran film Jejak Khilafah di Nusantara, merupakan salah satu bentuk dari berbagai bentuk wujud Islamofobia. Ini merupakan perasaan kalah dan tidak mengetahui bagaimana cara untuk menang karena sudah kehabisan argumentasi dan alasan. Ketakutan terhadap Khilafah sebagai sesuatu yang dianggap menjadi ancaman di negeri ini.

Walhasil, Islamofobia tidak hanya terjadi di Barat namun juga terjadi di Indonesia, prasangka buruk dan negatif sehingga memunculkan phobia terhadap Islam, syariah dan Khilafah. Satu-satunya cara agar tidak terjadi Islamofobia, bersikap terbukalah untuk mendengarkan penjelasan, dan hilangkan prasangka yang buruk, kecuali karena ingin mempertahankan kepentingan kekuasaan, bisnis dan para pemilik modal (Kapitalis).[]

Wallahu’alam

Post a Comment for "ISLAMOFOBIA MENYERANG ISLAM, SYARIAH DAN KHILAFAH"