Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Demokrasi Ladangnya, Kapitalisme Musimnya, Koruptor Panenannya

Pemimpin yang dibiayai para cukong akan melahirkan korupsi kebijakan
Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Menarik sekali apa yang disampaikan Mahfud MD terkait korupsi kebijakan. Misalnya 92 persen calon kepala daerah dibiayai cukong (Nasional.Tempo.co,11/9/2020). Pemimpin yang dibiayai para cukong akan melahirkan korupsi kebijakan (CNN Indonesia, 11/9/2020).

Korupsi telah menjangkau sebagian besar wilayah Indonesia (kalau tak mau dikatakan semua). Menjadi semacam "pandemi" yang lebih mengerikan daripada virus Corona.

Banyak kepala daerah yang terjaring OTT KPK. Begitu juga banyak anggota dewan yang diperkarakan KPK.

Besaran dana yang dikorupsi juga bukan main kepalang. Korupsi BLBI mencapai Rp.2.000 T, Century 6,7 T, dan masih banyak lagi. Kalau ditotal semua kasus korupsi seIndonesia bisa membuat rakyat Indonesia jantungan.

Pertanyaannya mengapa semua ini bisa terjadi? Semakin membesarnya korupsi tidak terlepas dari sistem demokrasi yang menjadi lahan basahnya.

Banyak calon penguasa yang dimodali cukong adalah hal yang biasa dalam demokrasi. Cukong memberikan bantuan modal kampanye sedangkan sebagian penguasa terpilih akan melunasinya dengan membebaskan proyek sang cukong di dalam negeri.

Cukong adalah lambang kapitalisme. Pertarungan antar calon penguasa yang dimodali besar-besaran sama juga dengan pertarungan antar cukong. Siapa yang menang dialah yang akan menguasai SDA beserta kebijakan-kebijakan politisnya.

Kong kali kong antar banyaknya penguasa terpilih dengan cukong inilah yang menghasilkan korupsi kebijakan. Banyak proyek yang berbau KKN pun terjadi. Hanya tim cukong penyukses kampanye yang akan dipilih untuk memenangkan proyek tersebut.

Korupsi pun marak sehingga tidak heran kalau aparat hukum mendapatkan banyak tugas untuk memberantas KKN. Biasanya hanya kasus kecil saja yang bisa diproses secara cepat. Itu pun belum tentu semua bisa tuntas.

Korupsi mega skandal seperti BLBI misalnya sampai detik ini belum ditemukan titik terangnya. Karena cukong di balik skandal ini sangat lah besar. Menjatuhkan Raksasa kapitalis dalam sistem demokrasi hampir mustahil dilakukan.

Inilah yang disebut dalam ilmu politik bahwa demokrasi adalah ekspor Amerika Serikat paling mematikan. Sebab ketika demokrasi diterapkan, koruptor semakin kaya dan sulit disentuh hukum. Sebab mereka punya kekuasaan dan mengendalikan lembaga hukum.

Maka mau tidak mau kalau mau menghapus korupsi atau meminimalisirnya semaksimal mungkin adalah dengan mengganti sistem.

Ketika Demokrasi berubah menjadi Khilafah tentu praktik cukong tidak akan ada. Sebab yang memegang kebijakam adalah Khalifah dan orang-orang yang Beliau tunjuk. Pemilu untuk memilih Khalifah pun hanya 3 hari sehingga bebas biaya kampanye.

Para gubernur pun langsung ditunjuk oleh Khalifah sehingga tidak ada peluang untuk bekerjasama dengan para cukong dalam rangka saling memperkaya.

Undang-undang pun tak bisa dipesan karena bukan buatan manusia. Undang-Undang dalam Islam sederhana saja karena langsung diambil dari Al Qur'an, Al Hadis, Ijmak para Sahabat dan Ijtihad.

Kalau pun ada yang korupsi akan diberi sanksi tegas. Pencegahan bisa dilakukan ala Khalifah Umar bin Khattab ra yang menghitung kekayaan awal dan akhir pejabat sehingga pejabat takut melakukan praktik korupsi. SDA diambil alih oleh negara dan keuntungannya dimaksimalkan untuk umat. Walhasil Khilafah akan menjadi sistem ekspor Islam yang paling menghidupkan semua wilayah di dunia. []

Bumi Allah SWT, 19 September 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Demokrasi Ladangnya, Kapitalisme Musimnya, Koruptor Panenannya"