Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Terungkap! Ini Alasannya Mengapa Khilafah Disebut “Bahaya Laten”

foto spanduk bertuliskan “Awas! Bahaya Laten Khilafah” dan tulisan senada yang diduga dipasang di berbagai tempat strategis di Cirebon viral di medsos

Foto-foto spanduk bertuliskan “Awas! Bahaya Laten Khilafah” dan tulisan senada yang diduga dipasang di berbagai tempat strategis di Cirebon viral di medsos. Mengapa bisa muncul spanduk seperti itu? Siapa di balik para pemasang spanduk itu? Wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo mengungkap ciri-cirinya kepada Host Follback Dakwah Kholid Mawardi dalam acara Bincang Media Umat Edisi 5: Jejak Khilafah di Nusantara, Siapa Bisa Bantah? (Membedah Tabloid Media Umat edisi 271 'Jejak Khilafah di Nusantara, Siapa Bisa Bantah?'), Ahad, 9 Agustus 2020 di kanal Youtube Follback Dakwah. Berikut petikannya.

“Jejak Khilafah di Nusantara, Siapa Bisa Bantah?” Emang Ada yang Bisa Membantah?

Ya, yang bisa bantah jelas tidak ada, karena begitu jelas jejaknya, begitu erat kaitannya antara khilafah dengan Nusantara.

Saya kutip jawaban Ustadz Tengku Zulkarnain waktu saya wawancara untuk Tabloid Media Umat edisi 271 ini, Ada enggak sih hubungan antara berbagai kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Islam? Dengan tegas beliau menjawab, “Hubungan negeri-negeri Nusantara yang dikuasai 200-an sultan dari Aceh sampai Raja Ampat Papua itu tidak bisa dipisahkan dengan Khilafah Islamiyah. Orang-orang yang mencoba memisahkan adalah orang-orang yang tidak tahu malu atau buta sejarah.”

Meskipun tak bisa dibantah, tetapi memang upaya membantah secara sistematis oleh orang-orang tak tahu malu dan didukung oleh orang-orang buta sejarah itu ada, bahkan terus menerus dilakukan. Caranya dengan mengubur jejak-jejak khilafah di Nusantara. Bila jejaknya terlalu besar untuk dikubur diupayakan dibikin kabur. 

Contoh Upaya Mengubur?

Terus menerus dikembangkan wacana Islam Nusantara, seraya mengembangkan propaganda memusuhi khilafah. Seolah-olah khilafah adalah barang yang baru di Nusantara dan sangat membahayakan negeri kita tercinta ini, negeri Muslim terbesar sedunia.

Akidah kita Islam, khilafah adalah ajaran Islam di bidang pemerintahan yang lahir dari akidah Islam. Kok bisa-bisanya kita menganggap ajaran Islam berbahaya?

Sepertinya rezim dan para pengusung wacana Islam Nusantara sangat paranoid, sangat ketakutan yang berlebihan sehingga halu menganggap khilafah sebagai ancaman. Padahal khilafah adalah ajaran Islam yang bila ditegakkan akan membuahkan rahmat bagi segenap alam.

Tapi anehnya, mereka yang mewacanakan Islam Nusantara ini sangat wellcome dengan demokrasi. Padahal jelas-jelas demokrasi merupakan jejak penjajah. Melalui demokrasi, penjajah menjebak kaum Muslimin agar tidak menerapkan syariat Islam secara kaffah dengan dalih tidak sesuai Pancasila. Dampaknya muncul berbagai kerusakan di negeri ini.

Kejamnya lagi, apa pun masalahnya tetap saja khilafah yang dianggap berbahaya dan menganggap kelompok Islam yang mendakwahkan kewajiban menegakkan khilafah sebagai biang keroknya.

Padahal sudah jelas-jelas bukan akidah Islam dengan sistem pemerintahan khilafah yang ditegakkan di negeri ini saat ini. Secara de facto dasar negara ini saat ini adalah akidah sekularisme dengan sistem pemerintahan demokrasinya. Para penyelenggaranya pun tak sedikit yang mempertontonkan kezaliman, tidak amanah, gemar berbohong dan sebagian keciiil sekali di antaranya tertangkap KPK. Kenapa khilafah dan para pengemban dakwah Islam yang dipersalahkan?

Kemudian persekusi dan kriminalisasi terus dilakukan kepada siapa saja, kelompok mana saja yang dianggap mendukung khilafah.

Jadi bukan hanya mengubur tetapi di atas kuburan itu mereka ingin membangun persepsi bahwa khilafah adalah barang baru, bukan saja asing tetapi sangat berbahaya dan tak ada kaitannya dengan kabaikan di Nusantara. Begitulah salah satu upaya mengubur jejak khilafah di Nusantara. Keji sekali.

Contoh Upaya Mengaburkannya Apa?

Upaya mengubur jejak khilafah di Nusantara ini selalu mengalami kegagalan. Karena jejak khilafah di Nusantara itu sangat nyata, ada di mana-mana. Ketika jejak yang satu dikubur, jejak yang lain masih terlihat jelas. Mereka berupaya mengubur terus, tetapi sampai detik ini, mereka tak sanggup mengubur semua jejak tersebut, karena saking banyaknya jejak yang masih tersisa. Sehingga siapa pun tak bisa menyanggah, tak bisa membantah bahwa ada kaitan yang sangat erat antara khilafah dan Nusantara.

Akhirnya mereka mengaburkannya. Salah satu contoh terbaru adalah dengan menulis spanduk “Awas! Bahaya Laten Khilafah”. Nah, jelas kata “laten” itu menunjukkan khilafah pernah ada di Nusantara ini, bahkan berbagai kesultanan di Nusantara ini secara terang benerang menginduk pada khilafah. Jadi kata “laten” tersebut merupakan pengakuan atas kegagalan mereka untuk mengubur jejak khilafah.

Tapi Mengapa Di Depan Kata “Laten” Itu Ditulis “Bahaya”?

Itulah yang saya maksud sebagai pengaburannya. Karena tak bisa mengubur jejak khilafah dengan sempurna, maka bagian-bagian lainnya yang tampak, dikaburkan, contohnya dalam spanduk yang dipasang di Cirebon tersebut dikaburkan dengan kata “bahaya”.

Bahaya bagi siapa? Bagi orang Islam tentu khilafah tidak berbahaya sama sekali, justru tegaknya kembali itu sangat dirindukan. Karena dengan khilafahlah, Islam dapat diterapkan secara kaffah, tanpa khilafah, banyak hukum Islam yang terbengkalai. Sehingga bukan hanya fardhu khilafah, ulama muktabar malah ada yang menyatakan khilafah adalah tajul furudh, alias mahkota kewajiban. Dengan penerapan syariat secara kaffah itulah maka akan terwujud rahmat bagi sekalian alam.

Bagi Non Muslim Apakah Khilafah Berbahaya?

Tidak, karena khilafah tidak pernah memaksa orang kafir masuk Islam. Orang kafir yang mau menjadi warga negara khilafah justru diperlakukan sangat baik. Mereka disebut ahlul dzimmah atau kafir dzimmi. Sebagaimana orang Islam, mereka pun sekolah dan berobat gratis. Kehormatan mereka, harta mereka, nyawa mereka dilindungi. Mereka pun diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing.

Jadi Bahaya bagi Siapa dong?

Ya kalau dipikir-pikir tentu saja menjadi bahaya bagi koruptor, pezina, pemabuk, pejudi, rentenir, antek penjajah, pengusa zalim dan pelaku maksiat lainnya. Karena dalam Islam mereka semua wajib ditindak tegas. Sedangkan khalifah bertugas menerapkan Islam secara kaffah termasuk menindak tegas mereka secara hukum, bahkan sampai hukuman mati lho, apa enggak menjadi bahaya laten bagi mereka? Ha… ha… ha...[]

Sumber reportase: https://www.youtube.com/watch?v=HdTzN_HdIhs

Post a Comment for "Terungkap! Ini Alasannya Mengapa Khilafah Disebut “Bahaya Laten”"