Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENGHABISKAN WAKTU UNTUK DAKWAH

Meniti jalan dakwah, bukan soal lama atau sebentar, bukan soal menang atau kalah, tapi soal ketaatan dan keistiqomahan. Dakwah, menuntut pengembannya senantiasa meniti jalannya, tidak berpaling atau menyimpanginya, meskipun hanya sehelai rambut

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Meniti jalan dakwah, bukan soal lama atau sebentar, bukan soal menang atau kalah, tapi soal ketaatan dan keistiqomahan. Dakwah, menuntut pengembannya senantiasa meniti jalannya, tidak berpaling atau menyimpanginya, meskipun hanya sehelai rambut.

Dakwah, menuntut dirimu, menghabiskan waktu, menghabiskan tenaga, menghabiskan pikiran, menghabiskan harta, menghabiskan usia, untuk selalu Istiqomah menapakinya. Dakwah, menuntut dirimu tidak berpaling, baik karena harta, kekuasaan, atau berbagai kemaslahatan dari sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan.

Dakwah tak menuntut mu selalu terjaga. Ada kalanya, kau boleh rehat, menepi, untuk melakukan kontemplasi, mengumpulkan energi, untuk kembali bergelut, menceburkan diri di derasnya gelombang samudera dakwah. Dakwah, memberimu waktu untuk tersenyum, mengingat atas semua kebahagiaan dan rasa syukur, dan selalu menuntunmu untuk tetap sabar dan ikhlas menapaki berbagai ujian dan gangguan.

Jika pikiranmu mulai melemah, ragamu terasa ringkih, semangatmu tak lagi membara, kembalilah pada ingatan akhirat. Akhirat, tempat kembali dan keinginan kuat untuk bertetangga bersama Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dakwah, adalah jalan yang dahulu ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabat. Jika ingin bertetangga dengan Rasulullah SAW dan para sahabat di Surga, tentulah didunia harus melakukan amalan yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dakwah adalah ladang, tempatmu menebar benih dan merawat pepohonan. Dakwah, adalah tempat dimana dirimu terus terlena kehabisan waktu, hingga akhirnya Allah SWT menjemputmu, diladangmu, disaat keasyikan mu dalam dakwah.

Dakwah, tidak membutuhkanmu. Tapi dirimulah yang membutuhkan dakwah, untuk mengumpulkan perbendaharaan amal, agar dirimu kelak menerima catatan amal dengan tangan kananmu. Di jalan Dakwah, ujungnya kelak adalah saat dimana engkau menghembuskan nafas, dan tak akan bisa menghirupnya lagi. Itulah kematian, kematian karena dakwah.

Dakwah itu indah, mengasyikkan, membahagiakan. Resiko menghadapi represifme penguasa zalim, itu biasa. Tak ada yang tak indah, dari setiap hikmah yang mampu dipetik dari dakwah.

Menyusuri lika-liku, menerjang rintangan, menghadapi tantangan, melakukan pertarungan, semuanya itu adalah bagian dari pernak-pernik dakwah. Tak ada yang perlu dirisaukan dalam dakwah.

Ya memang, ada yang ditangkap, ada yang dipenjara, ada yang dialienasi dari masyarakat, ada yang diftinah, ada yang diputus penghidupannya, hingga yang sekedar diancam dan diintimidasi. Semua itu tak boleh menyurutkan langkah, apalagi memalingkan diri dari dakwah.

Para penguasa zalim hanya bisa mengancam, mengintimidasi, memutus pekerjaan, memutus bisnis, menangkap, atau memenjarakan. Tapi mereka, tak akan mampu memutus rezeki, tak akan mampu menerobos benteng perlindungan dari Allah SWT, dan tak mampu membeli Neraka untuk menempatkan pengemban dakwah agar menjadi penghuninya.

Tengoklah kisah sahabat, diantaranya kisah perjuangan Bilal bin Rabah. Ketika Mekah diterangi cahaya agama Islam yang dibawa Rasulullah yang agung, beliau Sholallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid.

Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Tak mudah jalan bagi Bilal memeluk akidah Islam. Bilal merasakan penganiayaan hebat dari orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. 

Namun, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, Bilal bin Rabah tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang sulit ditunjukkan oleh siapa pun.

Bilal tak memiliki pelindung, baik kerabat atau jaminan suku tertentu. Bilal adalah bagian dari orang-orang yang tertindas (mustadh’afin), dari kalangan hamba sahaya dan budak, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. 

Kafir Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas Bilal sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti dakwah Muhammad SAW.

Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian Bilal, lalu memakaikan baju besi dan membiarkan Bilal terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai disitu, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh Bilal sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Selain Bilal, ada juga Sumayah ibu dari Amar bin Yasir yang juga dari kalangan keluarga tertindas, disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang. Abu Jahal  membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung… , dan gugurlah Sumayah sebagai Syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Itulah, kisah ujian para sahabat dalam mempertahankan akidah Islam. Ujian itu, tak ada bandingannya dengan berbagai ujian dakwah yang kita hadapi.

Ujian kita, saat ini, generasi abad ini, jauh lebih ringan ketimbang ujian yang dihadapi Rasullullah SAW dan para sahabat. Karena itu, selalu kariblah dengan kitab siroh, baca berulang-ulang kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat. Niscaya, dada akan lega dan perasaan sempit akan segera sirna.

Demikianlah, Rasulullah SAW dan para sahabat telah menghabiskan waktu untuk dakwah Islam, rela lelah berpeluh dan menanggung ujian dalam dakwah. Sebagai umat Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kita juga menghabiskan waktu untuk dakwah. [].

Post a Comment for "MENGHABISKAN WAKTU UNTUK DAKWAH"