Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENGAMBIL SIKAP TERHADAP DAKWAH PENEGAKKAN KHILAFAH (Meluruskan Jejak Khilafah Di Nusantara)

Oleh : W.Irvandi | Direktur Lembaga Kajian Analisis dan Pemikiran Islam (ANSPI)

Hubungan kesultanan-kesultanan yang ada di Indonesia dahulunya tidak terlepas dari hubungannya dengan pusat kekuasaan Islam di kawasan Timur Tengah, yaitu Negara Khilafah, yang pada waktu itu berpusat di Istanbul, Turki. Awalnya Islam tumbuh secara individual di Nusantara namun berkembang hingga menjadi kekuatan politik. Sebut saja Kesultanan Perak, Pasai atau Aceh, termasuk Kesultanan Johor dan Malaka yang merupakan bagian dari Nusantara.

Fakta ini adalah suatu realita politik dan sejarah yang telah tercetak dengan jelas di berbagai bentuk peninggalan sejarah ataupun buku-buku sejarah yang ditulis oleh para sejarawan. Realita politik tersebut saat ini menjadi sesuatu hal yang sensitif karena dianggap sebagai suatu ancaman dan merusak tatanan kehidupan bangsa. Apalagi ketika ada upaya untuk meluruskan kembali sejarah Khilafah di Nusantara.

Namun masalah sebenarnya adalah bahwa ada upaya untuk memberikan framing terhadap Khilafah sebagai sesuatu yang berbahaya dan membahayakan. Termasuk upaya untuk mengaburkan dan menguburkan peran Khilafah. Tujuannya adalah tentu saja agar umat islam jangan sampai terlibat dalam proyek perjuangan penegakkan Khilafah tersebut.

Hal ini dapat kita perhatikan ketika ada upaya untuk mengungkap kembali hubungan Khilafah di Nusantara melalui film dokumenter, akan tetapi tidak ada satupun media yang meliputnya. Namun ketika ada suatu masalah yang dianggap kesalahan, lantas berbagai media pun memberitakan dengan memberikan kesan bahwa proyek Khilafah itu adalah suatu kesalahan. Inlah yang disebut dengan framing.

Secara sederhana, framing adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan ketika menyeleksi isu dan menulis suatu berita atau informasi (Sobur, 2001). Framing inilah digunakan untuk membelokkan suatu realitas secara halus dengan menonjolkan pada aspek tertentu walaupun kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total. Hal ini sangat berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak. (Kriyantoro, 2006)

Walhasil, umat islam pun terbelokkan oleh penyajian tersebut. Di saat Khilafah di hancurkan, lalu ada perjuangan untuk menegakkannya kembali akhirnya diantara umat islam ada yang mau terlibat ada juga yang belum. Karena memang memperjuangkan penegakkan Khilafah saat ini adalah suatu aktivitas yang dianggap berbahaya dan mungkin para pejuangnya akan dikriminalisasikan. Inilah yang menyebabkan umat islam terbelah sikapnya lantaran peran dari suatu framing.

Isu terkait Khilafah memang akhir-akhir ini semakin ramai menjadi perbincangan. Penulis memperhatikan isu ini diawali dari kampanye salah satu ormas islam yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan mengangkat tema wajibnya penerapan syariah dan menegakkan Khilafah. Opini tentang Khilafah semakin tinggi ketika HTI dicabut BHP (Badan Hukum Perkumpulan) – nya pada tahun 2017 lalu secara sepihak oleh pemerintah.

Sikap pemerintah yang terkesan represif tersebut terus-menerus menebar teror terhadap Khilafah kepada masyarakat agar jangan sampai Khilafah ini diperjuangkan. Berbagai kebijakan dilakukan, dari program deradikalisasi, menangkal terorisme, program moderasi beragama, penguatan Pancasila melalui RUU HIP hingga menangkap para pejuang Khilafah ketika ada kesempatan. Ditambah lagi pemberitaan di berbagai media yang terus menyudutkan perjuangan Khilafah.

Akhirnya tokoh-tokoh umat dan sikap umat islam pun terbelah, ada yang membela Khilafah namun ada juga yang belum mau, karena khawatir dengan ancaman. Apalagi di saat perjuangan Khilafah terdapat kekeliruan didalamnya, bukan berupaya untuk memperbaiki namun malah menyalahkan perjuangan tersebut. Semakin membenarkan framing bahwa Khilafah tidak cocok di Indonesia. Mengapa hal ini terjadi? Karena perjuangan penegakkan Khilafah belum dianggap sebagai perjuangan yang benar.

Muncul juga beberapa ungkapan misalnya, “bukan Khilafah milik kelompok tertentu yang kita perjuangkan”. Kalau begitu Khilafah yang bagaimana yang akan kita perjuangkan? Ada juga yang mengatakan, “Indonesia sudah Khilafah”, kalau sudah Khilafah maka seharusnya wajib menerapkan syariah. Yakni, mengharamkan bunga bank karena riba, menerapkan sanksi dan hukum peradilan dalam islam, mengambil kembali sumber daya alam untuk dikelola secara mandiri, hingga memutus hubungan apapun dengan negara-negara penjajah serta membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan dengan jihad.

Oleh karena itu penting bagi umat islam untuk meyakini dan memahami bahwa perjuangan ini adalah perjuangan yang benar berdasarkan petunjuk Kitabullah dan Sunnah. Maka dari itu, benarkah Khilafah ini suatu hal yang membahayakan? Dan benarkah Khilafah tidak cocok di Indonesia yang plural ini? Terlebih lagi mengatasnamakan ulama Nusantara menyatakan sudah sepakat dengan NKRI?

Berikutnya kalau memang Khilafah ini tidak cocok dan dianggap mengancam dan membahayakan Indonesia, maukah kita berhenti dan menguburkan perjuangannya? Dan menyepakati bahwa sistem demokrasi di Indonesia sudah benar sampai kapanpun? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kita pasti bisa dan mudah untuk mejawab serta akan tepat dalam bersikap bila kita tahu perjuangan ini benar atau salah.

Apabila disuruh memilih tentulah pilihan yang layak dan pantas adalah untuk terus memperjuangkan penegakkan Khilafah sebagai sistem pemerintahan yang menggantikan sistem demokrasi saat ini. Karena tidak mungkin Khilafah sebagai ajaran Islam membawa keburukan apalagi membahayakan. Terlebih lagi Khilafah adalah ajaran islam yanga berdasar kepada petunjuk dari Rasulullah saw dan para sahabat ra. Kalaupun ada penerapan yang keliru, itulah manusia tidak luput dari kesalahan.

Termasuk juga apabila ada kesalahan dalam memperjuangkannya maka perlu di perbaiki dan diluruskan kembali, disinilah pentingnya nasehat menasehati dalam kebenaran dan tetap dalam kesabaran bagaimana agar berjuang dengan metode yang benar. Dan tidak akan berhasil suatu perjuangan jika tidak bersama umat untuk memperjuangkannya bersama-sama dan semoga Allah memberikan keistiqomahan tersebut dan memberikan pertolongan-Nya. Salah satu bentuk perjuangannya adalah meluruskan kembali jejak Khilafah di Nusantara.

Wallahu’alam

Oleh : W.Irvandi | Direktur Lembaga Kajian Analisis dan Pemikiran Islam (ANSPI)

Post a Comment for "MENGAMBIL SIKAP TERHADAP DAKWAH PENEGAKKAN KHILAFAH (Meluruskan Jejak Khilafah Di Nusantara)"