Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menelusuri Jejak Khilafah di Nusantara (bagian kelima)

Menelusuri Jejak Khilafah di Nusantara (bagian kelima)
Snouck Hurgronje menyambut Pangeran Saud di Leiden University, 1936. Sumber foto: Wikimedia Commons
"HAMBA YANG TAAT INI AKAN MENURUT APAPUN YANG SRI BAGINDA TITAHKAN KARENA RAKYAT HAMBA YANG BERIMAN YANG SUDAH 25 TAHUN DITINDAS OLEH KEKERASAN BELANDA YANG LALIM…” (SULTAN ACEH ALAUDDIN MUHAMMAD DAUD SYAH KEPADA SULTAN ABDÜLHAMID II, 1898).
Perkataan diatas adalah kutipan surat Sultan Aceh Alauddin Muhammad Daud Syah kepada Sultan Abdülhamid II menurut terjemahan Snouck Hurgronje dalam Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, (Jakarta: INIS, 1990, seri khusus INIS Jilid II), hal. 256-257.
Menelusuri Jejak Khilafah di Nusantara (bagian kelima)
Snouck Hurgronje
Mengenal Snouck Hurgronje
Christiaan Snouck Hurgronje lahir di Tholen, Oosterhout, 8 Februari 1857 dan meninggal di Leiden, 26 Juni 1936 pada usia 79 tahun. Dia adalah seorang sarjana Belanda budaya Oriental dan bahasa serta Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Lahir di Oosterhout pada tahun 1857, ia menjadi mahasiswa teologi di Universitas Leiden pada tahun 1874. Ia menerima gelar doktor di Leiden pada tahun 1880 dengan disertasinya 'Het Mekkaansche feest' ("Perayaan Mekah"). Ia menjadi profesor di Sekolah Pegawai Kolonial Sipil Leiden pada 1881.

Snouck, yang fasih berbahasa Arab, melalui mediasi dengan gubernur Khilafah Utsmani di Jeddah, menjalani pemeriksaan oleh delegasi ulama dari Mekkah pada tahun 1884 sebelum masuk. Setelah berhasil menyelesaikan pemeriksaan diizinkan untuk memulai ziarah ke kota suci muslim Mekkah pada 1885. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dia adalah salah satu sarjana budaya Oriental Barat pertama yang melakukannya.

Sebagai wisatawan perintis, ia adalah orang langka asal Barat yang berada di Mekkah, tetapi memeluk budaya dan agama dengan penuh gairah sehingga ia berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa ia masuk Islam.

Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg.

Pada tahun 1889 ia menjadi profesor Melayu di Universitas Leiden dan penasehat resmi kepada pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dia menulis lebih dari 1.400 makalah tentang situasi di Aceh dan posisi Islam di Hindia Belanda, serta pada layanan sipil kolonial dan nasionalisme.

Sebagai penasehat J.B. van Heutsz, ia mengambil peran aktif dalam bagian akhir (1898-1905) dari Perang Aceh (1873-1913). Ia menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh dan memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka.

Kesuksesannya dalam Perang Aceh memberinya kekuasaan dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial sepanjang sisa keberadannya di Hindia Belanda, namun seiring dengan sarannya yang kurang diimplementasikan, ia memutuskan kembali ke Belanda pada 1906 Kembali di Belanda Snouck melanjutkan karier akademis yang sukses.

Menelusuri Jejak Khilafah di Nusantara (bagian kelima)
Panglima besar angkatan perang Belanda, Jenderal J.H.R. Kohler tewas ditembak oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873
Perang Aceh dipimpin Ulama Islam

Pada masa penjajahan Belanda, Snouck Hurgronje dimintai nasihat terkait perlawanan rakyat Indonesia, yang terutama gencar muncul dari Aceh. Hurgronje memang sengaja dikirim ke Aceh untuk mempelajari gerakan politik rakyat di tanah yang dijuluki Serambi Mekkah itu.

Dari masa tinggalnya di Aceh mulai Juli 1891 sampai Februari 1892, dikutip dari "Christian Snouck Hurgronje: History Of Orientalist Manipulation Of Islam – Analysis", Snouck menyusun laporan intelijen dengan satu poin penting: Perlawanan di Aceh tidak benar-benar dipimpin oleh Sultan, seperti yang selalu dipikirkan Belanda, namun oleh ulama-ulama Islam.

Snouck mengatakan tidak mungkin bernegosiasi dengan para ulama. Ideologi Islam yang menentang penjajahan telah tertanam kuat dalam pemikiran mereka. Maka yang dianjurkan Snouck kepada pemerintah Belanda bukan lah melobi ulama, melainkan langsung menggunakan cara-cara kekerasan.

Menurut Snouck, kekerasan terhadap ulama akan sangat ampuh membungkam mereka dari menyampaikan ajaran-ajaran soal jihad, negara Islam, dan konsep Politik Islam lainnya; dan ke depannya hanya bicara soal Hari Akhir dan ritual ibadah.

Sarannya tersebut awalnya diabaikan pemerintah Belanda. Penyerangan tetap dipusatkan pada Sultan. Namun sampai tahun 1896, Aceh belum bisa ditaklukkan. Hingga akhirnya Belanda mengubah taktik dengan mengangkat jenderal Joannes Benedictus Van Heutsz sebagai gubernur Hindia Belanda. Van Heutsz kemudian menunjuk Snouck menjadi penasihatnya.

Surat Sultan Aceh kepada Khalifah

Pada Maret 1898, Snouck Hurgronje yang bekerja sebagai Penasihat Urusan Pribumi dan Arab di Batavia melaporkan kepada Gubernur Jenderal bahwa ia berhasil menyabotase surat menyurat antara Mehmed Kamil Bey dan Sultan Aceh yang baru Alauddin Muhammad Daud Syah. Dalam suratnya, Sultan Aceh Daud Syah memohon kepada Sultan Abdülhamid II untuk mengirimkan bala bantuan militer guna menghadapi kelaliman kafir Belanda, bahkan dirinya sampai mengancam Khalifah apabila permintaan tersebut diabaikan.

Beliau menulis,
"Hamba adalah salah seorang penguasa Islam dan semua rakyat hamba adalah kaum Muslimin yang beriman. Bagaimana mereka lalu dapat menerima bahwa rohaniawan-rohaniawan datang ke negeri mereka untuk mengajarkan agama Nasrani? Karena semua sebab itulah hamba sekarang bebas dari tanggungjawab dan menyerahkannya kepada Sri Baginda, Amir Al-mu'minin dan Khalifah Kaum Muslimin.

Jika Sri Baginda tidak menolong hamba dan agama Islam, semua hal itu akan menimpa Sri Baginda pada Hari Kiamat dalam perjumpaan dengan Perantara orang-orang yang berdosa (yaitu Muhammad) dan ketika itu ia akan (menghilangkan) kecemerlangan amir al-mu’minin dari nama Sri Baginda. Sebab, Sri Baginda telah melalaikan kepentingan kaum Muslimin yang telah meringkuk di bawah tangan kaum penindas dan juga melalaikan agama Allah serta syariat Rasul-Nya (Shallallahu Alaihi wa Sallam).”


Sayang sekali, surat Sultan Aceh tersebut tidak pernah sampai ke tangan Sultan Abdülhamid II, melainkan jatuh ke tangan Snouck. Karena harapan yang ditunggu dari Khilafah tak kunjung datang, Sultan Aceh Muhammad Daud Syah mencari bantuan dari penguasa lain seperti kepada Kaisar Jepang yang pada 1905 baru saja memenangkan perang melawan Rusia, dimana “Rusia direndahkan sampai ke debu”.[]

Oleh: Achmad Mu'it

Referensi dari Berbagai Sumber

Post a Comment for "Menelusuri Jejak Khilafah di Nusantara (bagian kelima)"