Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Masa Depan Libanon Cerah Bersama Khilafah

ledakan besar menghantam ibukota Libanon

Oleh : Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Libanon berduka. Dua ledakan besar menghantam ibukota Libanon. Ledakan ini menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai 4.000 orang pada Selasa Malam waktu setempat (Reuters, 5/8).
Lebih lanjut lagi media internasional reuters memberitakan bahwa penyebab ledakan adalah meledaknya 2.700 ton amonium nitrat, sebuah bahan kimia untuk pembuatan bom. Sejumlah besar amonium nitrat itu tersimpan dalam sebuah gudang di pelabuhan sejak 2014.

Dari video yang beredar di medsos, ledakan di Beirut menyerupai ledakan bom atom hiroshima Jepang. Asap yang mengepul membentuk gambar cendawan dan dentuman bom yang merusak bangunan serta meninggalkan trauma tersendiri bagi warga Libanon.

Libanon sendiri banyak menghadapai masalah seperti keruntuhan ekonomi dan korupsi. Selain itu sempat terjadi perang Saudara selama 15 tahun (1975-1990).

Libanon bukan daerah yang asing bagi Kaum Muslimin. Libanon pada zaman sekarang rusak karena diterapkannya ideologi kapitalisme di kawasan Timur Tengah. Setelah Arab Spring keadaan negeri ini semakin memburuk.

Keberadaan milisi Hizbullah yang didukung oleh Iran sering dimanfaatkan oleh AS untuk mengamankan kepentingan Israel di Timur Tengah.

Hizbullah hingga kini belum mampu menaklukan Israel walaupun terkenal lebih kuat dan canggih daripada militer Libanon. Padahal alusistanya didukung oleh militer Iran.

Dulu pernah terjadi perang 6 hari milisi Hizbullah melawan Zionis Israel. Seperti diberitakan milisi Hizbullah mampu memukul mundur Israel dari tanah Libanon.

Semua mengakui Hizbullah. Namun sayang kekuatan Hizbullah hanya sebatas di negerinya. Belum mampu untuk membebaskan Palestina dari Cengkraman penjajah Kafir Zionis Israel.

Sekarang kondisi Libanon diperkirakan semakin memburuk pasca ledakan amonium nitrat. Semakin lemah dalam bidang ekonomi. Dan inilah yang diinginkan oleh AS dan Zionis Israel.

Mereka menginginkan agar tak ada satu pun negeri di Timur Tengah yang bangkit. Mereka juga ingin adanya persatuan Kaum Muslimin yang dimulai di kawasan Timur Tengah wa bil khusus Syam.

Padahal Syam dulu adalah bagian dari Khilafah Islam. Provinsi Syam terdiri dari 4 negara yakni Palestina, Suriah, Lebanon dan Yordania.

Syam dibebaskan oleh Komandan Khalid bin Walid ra dalam perang Yarmuk. Kaisar Romawi berhasil diusir dari Syam ke Konstantinopel. Syam berada di bawah kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab ra kala itu.

Syam menjadi provinsi strategis dengan Damaskus sebagai ibukota Kekhilafahan Umayyah. Dari sini Khilafah Umayyah meluaskan wilayah Islam ke seluruh dunia.

Syam (termasuk Libanon) adalah wilayah yang makmur di masa Khilafah. Dan berpotensi menjadi ibukota Khilafah yang kedua sesuai hadis Rasulullah SAW bahwa Syam adalah wilayah yang pantas menjadi ibukota umat akhir zaman.

Ini terbukti dengan besarnya konspirasi AS menjegal kebangkitan Khilafah di daerah Kinanah baik itu Suriah, Palestina, Libanon, Yordania dan Mesir.

Perang terus berkecamuk di Suriah dan Palestina. Sedangkan penguasa Mesir, Yordania dan Libanon berada dalam kendali AS.

AS menganggap daerah Syam tidak boleh bangkit. Jika Syam bangkit berarti prediksi NIC akan terkabulkan. Khilafah bisa tegak di antara Palestina, Suriah, Libanon atau Yordania yang akan menyatukan negeri-negeri kaum Muslimin. Khilafah akan membasmi zionis Israel, mencabut pengaruh Iran dan mengusir AS dari Arab Saudi. Sebagaimana diketahui AS mulai kepayahan mengurus perang di Suriah, Irak dan Afganistan.

Libanon akan kembali makmur tanpa kemiskinan dan korupsi. Libanon akan kembali kaya karena terpengaruh dengan sistem ekonomi Islam.

Negeri ini akan menjadi pusat peradaban dunia seperti dulu dan melibas hegemoni Barat di dunia Islam.

Semoga janji Allah SWT akan terwujud dalam waktu dekat ini. []

Bumi Allah SWT, 5 Agustus 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Masa Depan Libanon Cerah Bersama Khilafah"