Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jejak Khilafah Di Nusantara

Pada masa keberadaan negara khilafah, terutama kekhilafahan Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul, Turki, tidak bisa dipungkiri bahwa khilafah turut membantu kesultanan-kesultanan Islam dalam mengusir para penjajah dari bumi Nusantara.

Oleh: Mita Nur Annisa (Pemerhati Sosial)

Syariat Islam pernah diterapkan di Indonesia sejak masuknya Islam pada abad ke-7 M. Di kawasan Aceh saja, Islam pernah hidup dan diterapkan di dalam institusi politik sekitar 1000 tahun, yaitu sejak berdirinya kesultanan Aceh sampai runtuhnya kesultanan Aceh. Belum lagi kita melihat sejarah Islam yang ada di bagian pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Ternate, Tidore, dan Papua. Semuanya menunjukkan bahwa sejarah Nusantara tidak lepas dari Islam. Hingga masa keemasan Nusantara ada pada masa kesultanan-kesultanan Islam, sebelum kedatangan kolonialis yang memecah belah dan menghancurkan kehidupan masyarakat Nusantara.

Ajaran Islam telah memompa semangat perlawanan jihad fisabilillah ketika Nusantara didatangi oleh para pendatang Eropa yang notabene merupakan kolonialis (kaum penjajah). Diawali dengan kedatangan Portugis, VOC Belanda, Inggris, sampai masa pendudukan Jepang sejak tahun (1602-1945 M).

Pada masa keberadaan negara khilafah, terutama kekhilafahan Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul, Turki, tidak bisa dipungkiri bahwa khilafah turut membantu kesultanan-kesultanan Islam dalam mengusir para penjajah dari bumi Nusantara.

Pengakuan terhadap kebesaran pengaruh negara khilafah ini dibuktikan dengan adanya sepucuk surat yang dikirimkan oleh Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Bani Umayyah.

“Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang istrinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahmya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan Tuhan-Tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.”

Ini adalah surat yang dikirimkan Srindravarman pada tahun 100 H (718 M) kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khalifah Bani Umayah Raja Sriwijaya Jambi yang bernama yang meminta dikirimkan da’i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan Sribuza Islam. Sayang, pada tahun 730 M, Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha. (Ayzumardi Azra mengutip dari Ibnu Abi Rabbih, Jaringan Ulama, 2005, cet II, Prenada Media, hal 27-29)

Ini memperjelas bahwa khilafah benar-benar pernah diterapkan di Nusantara dengan kekhilafahan yang berpusat di Turki Utsmani. bukan sebuah ilusi atau dongeng belaka dengan didukung fakta sejarah yang membuktikan khilafah pernah ada.

Kita sebagai umat muslim harus berupaya mencari dan menggali jejak yang hilang serta mengembalikan kepada umat Islam, agar umat menyadari bahwa Islam pernah diterapkan. Dan semoga segera tegak kembali yang menunjukkan kemuliaan dan keluhurannya di muka bumi.

Wallahu ‘alam bishawwab

Post a Comment for "Jejak Khilafah Di Nusantara"