Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Djoko Tjandra Dan Harun Masiku Lebih Gampang Ditangkap Dalam Sistem Islam

sistem Islam sangat kuat mencegah para pejabat untuk korupsi. Negara akan meniru sistem Umar bin Khattab yang mengaudit kekayaan awal dan akhir pejabat. Sehingga jika ada indikasi korupsi, negara akan menindak pejabat tersebut.

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Djoko Tjandra berhasil ditangkap setelah memanasnya perbincangan masyarakat tentang fotonya bersama Jaksa Pinangki beredar di media sosial (Tribunnews.com,2/8). Djoko Tjandra (DT) adalah salahsatu lambang koruptor kuat yang menjadi buron selama 11 tahun.

Saking lamanya menjadi buronan sehingga ada kesan tak mungkin ditangkap lagi. Salahsatu kesaktian DT adalah pernah mengurus E-Ktp di Jakarta. Lalu dengan mudahnya terbang kembali ke luar negeri.

DT adalah pengusaha besar yang memiliki bisnis di tiga negara Indonesia, Papua Nugini dan Australia. Pada tahun 1999, DT mampu menyerap dana korupsi sebanyak Rp.274 miliar yang ditransfer ke rekening pribadinya (wikipedia.org). Saking kaya koruptor ini mampu menyewa pesawat untuk terbang ke luar negeri.

Itu lah DT yang ditangkap setelah mampu mengatur pertemuannya dengan seorang jaksa. Jaksa itu malah sukarela mendatangi DT. Apa motif dan tujuan jaksa itu sehingga mau saja berhubungan dengan seorang buronan korupsi?

Lain lagi dengan Harun Masiku (HM) yang telah menjadi buronan KPK dalam kasus PAW anggota DPR. HM hingga saat ini belum juga tertangkap.

Mungkin cara menangkap HM adalah menunggu foto HM bersama dengan salahsatu oknum pejabat. Itu untuk mendapatkan petunjuk. Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) menduga bahwa HM telah meninggal dunia (jika tidak ingin dikatakan tewas).

Alasannya nomer HP nya pun tak diketahui dan tak bisa pula dilacak. HM telah menjadi super buronan yang sampai hari ini tak mampu dideteksi oleh teknologi secanggih apa pun.

Bahkan jika CIA dan FBI turun tangan pun, diprediksi tak akan mampu menangkap HM. Mengapa para koruptor susah ditangkap?

Karena sistemnya sistem demokrasi. Sistem demokrasi melindungi para koruptor. Koruptor istimewa di mata demokrasi.

Koruptor yang berbasis pengusaha kapitalis mempunyai banyak dana untuk membeli hukum. Koruptor yang menjadi anggota dewan punya bekingan yang kuat dari pengusaha.

Walhasil para koruptor menjadi sangat susah ditangkap. Kalau pun ditangkap sanksinya tak seberat besarnya kriminalitasnya.

Ini berbeda dengan sistem Islam yang merupakan musuh alami sistem demokrasi. Dalam sistem Islam tidak dikenal kong kali kong dengan pengusaha kapitalis. Pengusaha Kapitalis diperkaya oleh demokrasi karena mereka memiliki hak untuk menguasai kekayaan milik negara dan milik umum.

Sedangkan dalam Islam, setiap orang dilarang untuk menggunakan modalnya menguasai SDA dan kekayaan negara lainnya. Sehingga penguasaha kapitalis tak bisa kaya karena menjajah.

Mereka pun tak bisa menyuap para pejabat negara. Sebaliknya sistem Islam sangat kuat mencegah para pejabat untuk korupsi. Negara akan meniru sistem Umar bin Khattab yang mengaudit kekayaan awal dan akhir pejabat. Sehingga jika ada indikasi korupsi, negara akan menindak pejabat tersebut.

Hasilnya, para pejabat akan takut melakukan korupsi. Selain itu SDA dikelola oleh negara, hasilnya untuk masyarakat dan sebagiannya bisa untuk menaikkan gaji pejabat sehingga mereka sejahtera dan konsen mengurus masyarakat. Mereka tak akan ada niat untuk korupsi.

Kalau pun ada korupsi dalam sistem sebaik itu, sistem hukum Islam sangat kuat. Lembaga peradilannya tak dapat dibeli dan didikte. Hakim Islam akan menangkap koruptor dengan cepat dan gampang.

Hakim Islam tak mudah ditekan penguasa. Pernah dalam Sejarah Islam, Hakim/Qadhi Syuraih mampu menyelesaikan sengketa kepemilikan baju besi antara Khalifah dan orang Yahudi.

Hakim Syuraih memenangkan orang Yahudi dan menolak kesaksian putera Khalifah, Hasan bin Ali ra. Khalifah kalah, warga Yahudi menang.

Warga Yahudi ini pun jujur dia lah yang mengambil baju besi Khalifah dan dia masuk Islam setelah melihat keadilan Islam. Logikanya begini kalau kepada Khalifah saja Lembaga Peradilan mampu mengadili perkaranya apalagi kasus korupsi para pengusaha atau pejabat tentu lebih mudah. Karena mereka dibawah kekuasaan Khalifah.

Semoga masyarakat mampu mengganti sistem demokrasi ini dengan sistem Islam. Sehingga tak ada masyarakat yang sakit hati karena hak-haknya diambil para Koruptor. []

Bumi Allah SWT, 3 Agustus 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Djoko Tjandra Dan Harun Masiku Lebih Gampang Ditangkap Dalam Sistem Islam"