Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RESESI EKONOMI, HANYA ISLAM SOLUSI

Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, melihat negara tetangga Singapura sudah menelan pil pahit akibat pandemi

Oleh: N. Vera Khairunnisa

Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, melihat negara tetangga Singapura sudah menelan pil pahit akibat pandemi. (www. detik. com, 18/02/20)

Seperti apa tanda sebuah negara mengalami resesi?

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menjelaskan, resesi dapat dilihat masyarakat dari beberapa tanda, antara lain pendapatan yang menurun, kemiskinan bertambah, penjualan khususnya motor dan mobil anjlok, dan sebagainya. Bagi perbankan, bukti resesi adalah meningkatnya angka kredit macet alias non performing loan (NPL). Sementara, di Pemerintah bukti resesi juga dapat dilihat dengan meningkatnya angka utang luar negeri. (www. detik. com, 18/02/20)

Melihat ancaman resesi di depan mata, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi benar terjadi. (www. detik. com, 19/07/20)

Benarkah ancaman resesi ini akibat dari adanya pandemi semata? Tepatkah menghadapi krisis hanya dengan meminta masyarakat berhemat?

Memang betul, pandemi corona sangat berdampak pada anjoknya ekonomi. Sebagai negara yang memiliki hubungan kuat dengan Cina dan negara-negara yang terdampak Corona, pertumbuhan ekonomi Indonesia terancam melambat. Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia akan menyusut tajam sebab negara-negara yang mengalami pandemi Corona merupakan tujuan utama ekspor Indonesia.

Sektor pariwisata Indonesia yang melibatkan berbagai industri seperti transportasi, perhotelan, dan restoran juga melambat. Apalagi Cina merupakan penyumbang wisatawan asing terbanyak ke dua setelah Malaysia. Jumlah wisatawan asing pada bulan Januari anjlok 8 persen (BPS, 2020).

Pelambatan ekonomi Cina dan negara-negara utama lainnya membuat industri manufaktur domestik ikut terpukul. Pasalnya, industri Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor. Berhentinya operasi sejumlah pabrik bahan baku di Cina membuat pasokan industri Indonesia ikut tersendat.

Di sisi lain, anggaran untuk penanganan masalah Corona yang tidak sedikit, sudah menyedot APBN bahkan sampai memangkas anggaran lain. Maka wajar jika pandemi Corona menyebabkan ekonomi Indonesia terancam mengalami resesi.

Namun, jika kita hendak menengok ke belakang, jauh sebelum mencuatnya virus Corona, ancaman resesi ekonomi global tahun ini sebenarnya telah diprediksi tahun lalu. Hanya saja, seperti penjelasan di atas, wabah Corona membuat ancaman tersebut semakin nyata dan dekat.

Lantas jika bukan karena Corona semata, apa yang menjadi penyeban utama ancaman resesi?

Para pakar ekonomi Islam menyebutkan bahwa penyebab ancaman resesi yang sesungguhnya adalah akibat penerapan sistem kapitalisme sekulerisme. Sistem ini telah berhasil melahirkan para pelaku ekonomi yang serakah, individualis, hedonis, berlaku curang, dan sebagainya. Semuanya itu merupakan perilaku buruk yang dilarang dalam Islam. Gaya hidup hedonis yaitu upaya menghindari penderitaan dengan mencari kesenangan, menumpuk-numpuk harta kekayaan misalnya. Diperingatkan oleh al-Qur’an dalam QS at-Takatsur [102]: 1-8.

Dalam situasi pandemik seperti sekarang pun, masih saja banyak pihak yang berusaha mencari keuntungan, meski harus mengorbankan nyawa banyak orang.

Selain itu, kapitalisme sekulerisme dengan politik demokrasinya selalu erat dengan politik uang. Hal ini menjadi faktor lahirnya korupsi. Milyaran bahkan triliyunan uang negara dirampas oleh koruptor. Parahnya, sistem buatan manusia ini pun menyebabkan para pelaku korupsi sulit tersentuh.

Padahal, korupsi diharamkan dalam Islam (Lihat: QS al-Maidah [5]: 38; QS an-Nisa’ [4]: 29; QS Ali Imran [3]: 161; QS Hud [11]: 85. Larangan korupsi juga dicatat dalam beberapa hadis. Misalnya, hadis yang berbunyi: “Serahkanlah, bahkan jarum dan benang, karena mencuri dari rampasan adalah aib, api, dan aib pada Hari Kebangkitan bagi orang yang melakukannya.” (HR al-Baihaqi, Malik dan Ibnu Majah).

Resesi juga diakibatkan praktik ribawi yang menjadi salah satu pilar utama sistem keuangan dalam kapitalisme. Bahkan sebagian APBN negara dalam sistem ini didapatkan dari berhutang.
Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Ketika zina dan riba telah meluas di sebuah komunitas, maka mereka (penduduk) telah membiarkan hukuman Allah bagi diri mereka sendiri (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).

Faktor utama lainnya yang tidak kalah penting adalah bahwa dalam sistem kapitalisme, siapapun berhak memiliki apapun selama dia memiliki modal. Tambang emas dengan jumlah tak terbatas bisa dimiliki swasta bahkan asing. Hal inilah yang menyebabkan orang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Solusi Islam Agar Tak Terjadi Resesi

Karena penyebab resesi adalah adanya penerapan ekonomi kapitalis sekuler, maka solusinya adalah dengan mengganti sistem ini dengan sistem Islam yang sudah terbukti tahan resesi.

Pertama, para pelaku ekonomi dalam Islam mereka tidak menjadikan harta sebagai sumber kabahagiaan. Sehingga tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Dalam situasi pandemi, para konglomerat terutama dari kalangan pejabat akan berlomba-lomba menyumbangkan harta terbaiknya untuk menutupi kekurangan anggaran.

Kedua, sistem Islam mampu mencegah terjadinya korupsi. Para pejabat dipilih bukan karena praktik politik uang, namun kesadaran rakyat. Sehingga yang terpilih adalah pejabat yang amanah. Kalau pun ada pejabat yang ketahuan korupsi, maka akan dihukum dengan hukuman yang setimpal sehingga menimbulkan efek jera.

Ketiga, praktek riba yang menjadi pilar utama dalam ekonomi kapitalisme justru diharamkan dalam Islam. Sehingga negara tidak akan terjerembab dalam jeratan hutang yang tak berujung.

Keempat, kestabilan ekonomi bisa diwujudkan dengan menerapkan sistem ekonomi Islam. Dalam Islam, pengaturan ekonomi diawali dengan menata pembagian kepemilikan ekonomi secara benar. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga: kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Pembagian kepemilikan ini sangat penting agar tidak terjadi monopoli SDA oleh swasta apalagi asing.

Itulah solusi Islam dalam mencegah terjadinya resesi. Lantas, bagaimana jika resesi tetap terjadi? Islam pun mempunyai solusinya.

Solusi Islam Menghadapi Resesi

Untuk menghadapi resesi, para pemimpin dan pejabat pemerintah memberikan teladan dalam bergaya hidup hemat. Sehingga, rakyat akan mengikuti. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ketika negara yang dipimpinnya mengalami krisis yang hebat.

Pada saat itu, Khalifah Umar bersumpah untuk tidak merasakan daging dan mentega hingga orang-orang sejahtera. Para perawi sepakat, Umar benar-benar tegas dan sungguh-sungguh dalam memenuhi sumpah itu. Di antaranya, saat seloyang mentega dan satu kantong berisi susu dijual di pasar, pembantu Umar membelinya seharga 40 dirham.

Kemudian datang dan berkata kepada Umar, “Amirul Mukminin, engkau telah menunaikan sumpahmu dan semoga Allah mengagungkan pahalamu. Ada sekantong susu dan seloyang mentega dijual di pasar dan aku membelinya seharga 40 dirham.

Umar berkata, “Kau membelinya dengan harga yang mahal, bersedekahlah dengan keduanya karena saya tidak suka makan dengan berlebih-lebihan.”

Selanjutnya Umar berkata, “Bagaimana saya bisa memperhatikan kondisi rakyat bila saya tidak tertimpa apa yang menimpa mereka.”

Khalifah Umar tidak hanya memberlakukan aturan dan teladan tersebut bagi dirinya sendiri. Ia juga memberlakukan hal itu kepada keluarganya. Mereka juga harus lebih menderita dari derita yang dirasakan oleh rakyat.

Diriwayatkan, suatu ketika Khalifah Umar melihat buah semangka di tangan salah satu anaknya pada tahun krisis ekonomi. Ia langsung berkata padanya, “Bagus, bagus. Hai anaknya Amirul Mukminin, kau memakan buah, sementara umat Muhammad kurus kering.

Bukan hanya langsung memberi contoh pribadi dalam bersikap dan bergaya hidup ketika tertimpa bencana agar bisa merasakan penderitaan langsung rakyatnya, Khalifah Umar juga bertobat dan mengadu kepada Allah SWT atas seluruh dosa dan kesalahan yang diperbuat selama ini.

Khalifah Umar menyampaikan khutbah di hadapan orang-orang pada masa bencana. Ia berkata, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah pada diri kalian dan dalam masalah kalian yang tidak tampak dari manusia. Saya tertimpa musibah karena kalian. Kalian juga tertimpa musibah karena saya. Saya tidak tahu apakah kemurkaan tiba karena saya, bukan karena kalian ataukah karena kalian, dan bukan karena saya ataukah karena kita semua. KemariIah, kita berdoa memohon kepada Allah agar berkenan memperbaiki hati kita, merahmati kita dan melenyapkan kemarau (bencana) dari kita.

Tidak sampai di situ, Umar pun mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat dan komprehensif. Untuk mengoptimalisasi keputusannya, Khalifah segera mengerahkan seluruh struktur, perangkat negara dan semua potensi yang ada untuk segera membantu masyarakat yang terdampak.

Dalam buku The Great leader of Umar bin Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua, diceritakan bahwa Khalifah Umar ra. langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan. Diriwayatkan dari Aslam:

"Pada tahun kelabu (masa krisis), bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar ra. menugaskan beberapa orang (jajarannya) untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, 'Hitunglah jumlah orang yang makan malam bersama kita.'
Tatkala menanggulangi krisis, bisa jadi pemerintah pusat tidak mampu menopang seluruh pembiayaan dan kebutuhan yang ada. Ini adalah hal yang lumrah saja. Bisa jadi karena kondisi kas keuangan dan faktor lain yang tidak mencukupi. Ini pun pernah dialami pada masa Khalifah Umar.

Tatkala menghadapi situasi tersebut, langkah ketiga yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dalam menyelesaikan krisis adalah dengan meminta bantuan ke wilayah atau daerah bagian Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan.

Sebagaimana yang diceritakan di dalam buku The Great Leader of Umar bin Khattab karya Dr. Muhammad ash-Shalabi, Khalifah Umar langsung bertindak cepat ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal tidak mencukupi penanggulangan krisis. Khalifah Umar segera mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan.

Petugas Khalifah Umar langsung mendatangi Amru bin al-Ash, gubernur di Mesir, “Dari hamba Allah, Umar bin al-Khaththab, Amirul Mukminin, untuk Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah padamu. Selanjutnya, tegakah kau melihatku dan orang-orang di sekitarku, sementara engkau dan orang-orang di sekitarmu hidup penuh kenikmatan? Tolonglah kami, tolonglah kami.”
Amru bin Ash membalas, “Untuk hamba Allah, Amirul Mukminin, dari Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah kepadamu. Saya memuji Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya. Selanjutnya, bantuan akan segera tiba. Untuk itu, bersabarlah. Saya akan mengirim kafilah untukmu. Yang depan berada di dekatmu, sementara yang belakang berada di dekatku. Saya berharap bisa membawa bantuan melalui laut.

Gubernur Mesir, Amru bin al-Ash mengirim seribu unta yang membawa tepung melalui jalan darat dan mengirim dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta mengirim lima ribu pakaian kepada Khalifah Umar. (Abu Umam, Cara Khilafah Mengatasi Krisis, al wa'ie. id)

Masyaallah. Luar biasanya aturan Islam. Mampu mencegah terjadinya resesi dan menanggulangi resesi sehingga tidak akan terjadi secara berkepanjangan. Membaca sejarah para pemimpin dalam khilafah, semakin membuncah kerinduan diatur oleh aturan Islam.

Post a Comment for "RESESI EKONOMI, HANYA ISLAM SOLUSI"