Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pseudo Science (Bagian Pertama)

Oleh: Dr. Erwin Permana.  Konsultan Riset dan Dosen Universitas Pancasila

Menarik untuk mencermati hasil riset Pew Research Center yang berjudul "The Global God Divide" yang dipublikasi beberapa waktu.  Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara sebanyak 38.426 orang di 34 negara. Survey dilakukan pada tahun 2019, hasilnya dipublikasikan pada bulan Juli 2020.

Riset tersebut menemukan bahwa ada hubungan terbalik antara PDB per kapita dengan persepsi publik terhadap kepercayaan pada Tuhan dan moralitas. Dalam risetnya, Pew Research Center menyimpulkan bahwa semakin kaya dan berpendidikan suatu negara maka rakyatnya menjadi kurang religius. Sebaliknya, yang memerlukan kepercayaan pada Tuhan adalah negara-negara berkembang.

Indonesia, Nigeria, Tunisia, Filipina, Kenya, India, Afrika Selatan, Brasil dan Lebanon masuk kedalam kelompok negara yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan tinggi. Indonesia menjadi negara teratas dalam hal kepercayaan kepada Tuhan. Adapun negara-negara dengan PDB tinggi seperti Swedia, Netherland, Australia, UK, Frence masuk kedalam kelompok negara yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan yang rendah.

Secara kasat mata tersaji dalam riset tersebut bahwa antara kemajuan ekonomi dengan kepercayaan pada Tuhan terdapat trade-off. Dunia harus memilih jika menginginkan kemajuan ekonomi maka sisihkan kepercayaan pada Tuhan. Jika kepercayaan pada Tuhan menjadi yang utama, resikonya ketinggalan secara ekonomi. Mendapatkan keduanya seakan menjadi hal yang mustahil.

Jika tidak berpikir jernih, kita dibuat terpana oleh hasil riset ini. Ditolak tapi begitulah kenyataannya. Diterima, konsekuensinya menyisihkan agama dari kehidupan.

Namun jika ditelisik lebih jauh, hasil penelitian ini nampak sumir. Sebab memang secara langsung tidak ada hubungan antara keyakinan beragama dengan kemajuan ekonomi. Kemajuan ekonomi tidak masuk dalam wilayah keyakinan. Keyakinan apa saja bisa meraih kemajuan ekonomi. Bahkan tidak percaya Tuhan sama sekalipun juga bisa meraih kemajuan ekonomi.

Bukankah dunia pernah menyaksikan kemunculan negara adidaya  Uni Soviet, yang dibangun diatas ideologi Komunisme dengan pilar dasarnya adalah atheis. Dimasanya, Uni Soviet merupakan pesaing utama AS dalam segala bidang, termasuk ekonomi.

Artinya, suatu negara bisa mencapai kemajuan ekonomi bahkan menjadi adidaya walaupun tidak percaya Tuhan sama sekali. Jika saat itu dilakukan riset serupa maka kesimpulannya adalah jadilah ateis kalau mau maju.

Kemajuan ekonomi itu merupakan wilayah perbuatan. Jika ingin kaya maka berusahalah. Sedangkan keyakinan merupakan wilayah hati dan perasaan. Orang yang memiliki moral baik maka hati dan perasaannya menjadi tenang. Moral yang baik tidak berhubungan secara langsung dengan penambahan rekening yang bersangkutan. Karena yang menambah rekening adalah hasil usaha.

Hasil usaha ditentukan oleh ketekunan, kedisiplinan, profesionalitas yang bersangkutan. Juga ditentukan oleh iklim bisnis, regulasi pemerintah apakah mempermudah atau mempersulit orang berusaha; kesempatan kerja yang inklusive, dll. Melakukan penelitian terhadap faktor-faktor tersebut di negara-negara maju kemudian diadopsi di negara berkembang, akan lebih bermanfaat.

Oleh karena tidak ada hubungan secara langsung antara keyakinan dan kemakmuran. Maka, menjadi tidak rasional menganalisis sesuatu yang tidak punya hubungan. Memaksanakan penelitian semacam itu, hasilnya adalah pseudo science. Yakni, sience palsu yang tidak melahirkan kontribusi kebaikan apapun terhadap kehidupan selain kekisruhan.

Teori ekonomi menjelaskan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan PDB berdasarkan pendekatan pengeluaran adalah total konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih suatu negara.

Maka melakukan penelitian terhadap semua faktor tersebut jauh lebih konstruktif. Bagaimana pola konsumsi, pola investasi, pengeluaran pemerintah dan pola ekspor negara maju untuk bisa direplikasi di negara berkembang.

Atau melakukan penelitian pada dimensi yang lebih luas. Misalnya, apa hubungan PDB dengan tingkat pemerataan pendapatan di tengah masyarakat? Apa hubungan PDB dengan kepedulian terhadap sesama manusia/bangsa lain? Apa hubungan PDB dengan tingkat stress? Apa hubungan PDB dengan pergaulan hedonisme yang merusak tatanan sosial?

Dengan begitu dunia jadi bisa mengetahui apakah perhitungan PDB itu berguna atau tidak. Inilah yang disebut dengan riset yang bermanfaat.

Namun, jika membicarakan Islam, bukan berarti Islam hanya berisi tentang keyakinan/iman saja. Islam berisi keyakinan/iman dan sekumpulan konsep tentang kehidupan. Termasuk konsep yang mengatur tentang ibadah, ekonomi, politik, sosial, budaya, sanksi pidana dan peradaban lainnya.

Hanya saja umat Islam hari ini mengambil  sebagian kecil yakni yang menyangkut keyakinan/iman dan menjalankan sebagian kecil aspek ibadah. Sedangkan aspek ekonomi, politik, sosial, budaya sanksi pidana dan peradaban lainnya tidak.

Konsep ini pernah diterapkan ribuan tahuan semenjak zaman Nabi Muhammad, hingga tahun 1924. Dan berhasil manaungi manusia dari berbagai suku, bangsa dan agama dalam wilayah yang membentang luas.

Hal ini mudah terlihat dari buku-buku sejarah termasuk yang ditulis sarjana Barat sendiri, seperti Philip K Hitti, Arnold J Tonybee, dll. Secara jujur mereka mengakui keagungan peradaban Islam. Segala kekaguman tersebut terangkum melalui Robert Briffault dalam bukunya The Making of Humanity menyatakan, “Tidak ada kemajuan Eropa melainkan ia berhutang budi kepada Islam dan peradaban Islam dan diarahkannya dengan positif".

Beruntung pada masa keemasan Islam tersebut tidak dilakukan penelitian yang mencoba menghubungkan secara langsung antara keyakinan/iman dengan kemajuan peradaban. Sehingga, rasionalitas berfikir manusia senantiasa terpelihara dan terhindar dari pseudo sience!. []

Oleh: Dr. Erwin Permana.
Konsultan Riset dan Dosen Universitas Pancasila

Post a Comment for "Pseudo Science (Bagian Pertama)"