Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pseudo Science (Bagian Kedua)

Dr. Erwin Permana. Konsultan Riset dan Dosen Universitas Pancasila

Tulisan sebelumnya 
Adapun terkait dengan kesimpulan Penelitian Pew Research Center (dipublikasi pada bulan Juli, 2020) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu negara maka masyarakatnya semakin tidak religius. Hal ini tidak terlepas dari realitas dunia pendidikan hari ini yang dikungkung oleh sesuatu yang disebut "metode ilmiah".

Saat ini, hasil riset apapun tidak dapat diterima jika tidak melalui serangkaian uji ilmiah. Metode ilmiah sudah dianggap seperti Tuhan. Hasil penelitian ilmiah sudah seperti wahyu Tuhan. Saking mapannya metode ilmiah hingga tidak sedikit ilmuwan hari ini yang tidak percaya kepada Tuhan.

Stepen Howking misalnya, pada bukunya 'The Grand Design' yang diterbitkan pada 2010, Hawking mengklaim bahwa "Tidak perlu kekuatan ilahi yang bisa menjelaskan tercipta dan mengatur semesta". Bahkan dengan pongah Howking pernah menyatakan bahwa "kita akan tahu segala sesuatu yang Tuhan akan tahu, jika benar-benar Tuhan ada".

Lebih jauh lagi, dia juga menyangkal keberadaan Surga dan Neraka dan menganggapnya hanyalah sebuah dongeng bagi mereka yang takut mati. Saat ini, dipersemayamannya di Westminster Abbey, Howking sudah bisa menyaksikan surga dan neraka secara live.

Bersama-sama dengan Charles Darwin ilmuwan legendaris Inggris lainnya, yang dimakamkan ditempat yang sama. Yang juga sama-sama tidak percaya Tuhan. Dengan menyaksikan Surga dan Neraka secara langsung maka akal mereka sudah puas.

Howking mirip dengan para pendahulunya di bidang yang sama, seperti  Georges Lemaitre dan Edwin Hubble  yang menjelaskan teori terbentuknya alam semesta dengan teori Big Bang secara ilmiah. Sebagian kalangan mencoba "meminjam" teori Big Bang untuk membenarkan keyakinan bahwa proses penciptaan ada, sehingga bisa disimpulkan bahwa Tuhan ada. Namun jika ditelisik lebih jauh hasil penelitian mereka sama saja.

Teori Big Bang, berusaha menjelaskan proses terbentuknya alam semesta karena suatu ledakan dahsyat. Ledakan ini kemudian menghasilkan berbagai elektron dan proton. Selanjutnya, muncullah gas helium dan gas hidrogen. Proses selanjutnya gas yang panas tersebut mengalami penggumpalan kemudian penebalan.

Menurut penggagas teori Big Bang, dari poses kejadian inilah terbentuk planet, bumi, bintang, tata surya dan semua yang ada di jagad raya ini.

Jika ditarik kesimpulan, mirip dengan kesimpulan stephen Hawking, peran Tuhan tidak ada. Semua terjadi dengan sendirinya sesuai hukum alam. Materi-materi yang ada di alam ini semuanya berjalan sesuai "kehendak" hukum alam yang bersifat tetap. Bukan kehendak siapa-siapa.

Maka seperti yang disimpulkan oleh Pew Research Center, semakin tinggi tingkat pendidikan suatu negara yang itu berarti "level ilmiah" negara tersebut semakin tinggi. Maka kepercayaan kepada Tuhan makin rendah bahkan hilang.

Hal ini karena memang metode ilmiah sekali-kali tidak akan pernah mengantarkan manusia sampai pada Tuhan. Karena memang tujuan awal penciptaan metodologi Ilmiah adalah untuk melakukan percobaan terhadap realitas terindera yang bersifat laboratoris kemudian ditarik kesimpulan baru tentang hakekat benda itu.  Sehingga kesimpulan hasil penelitian ilmiah adalah kesimpulan tentang hakekat benda/makhluk bukan kesimpulan tentang hakekat Tuhan.

Mendudukkan Metode Ilmiah

Metode ilmiah sesungguhnya salah satu metode menemukan pengetahuan. Namun bukan satu-satunya metode. Metode ilmiah merupakan metode tertentu dalam pengkajian yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas dari sesuatu melalui jalan percobaan (eksperimen).

Jika seorang peneliti telah berhasil memperoleh kesimpulan dari suatu eksperimen, maka kesimpulannya merupakan kesimpulan ilmiah yang secara ilmiah tunduk pada penelitian dan penelaahan. Kesimpulan tersebut akan tetap menjadi kesimpulan ilmiah hingga datang penelitian ilmiah lain yang membuktikan kekeliruannya.

Maka, kesimpulan yang dihasilkan peneliti berdasarkan metode ilmiah, bukanlah kesimpulan yang pasti/tetap meskipun kesimpulan tersebut disebut fakta ilmiah/hukum ilmiah. Kesimpulan tersebut hanya kesimpulan dugaan yang mengandung kemungkinan salah (error).

Peluang adanya kesalahan (error), di dalam metode ilmiah merupakan salah satu prinsip fundamental. Jika dalam setiap hasil temuan ilmiah kebenarannya mencapai 100%, maka berhentilah tumbuh kembang ilmu pengetahuan.

Tidak akan muncul para peneliti berikutnya yang akan menumbuhkan tunas-tunas ilmu baru yang melakukan koreksi, penyempurnaan demi penyempurnaan tiada akhir terhadap penelitian-penelitian sebelumnya. Maka keberadaan error dalam suatu penelitian ilmiah tidak bisa dipandang buruk. Sebab, melalui error itulah dipastikan lautan ilmiah seperti tak bertepi.

Misalnya, keluarnya Pluto dari anggota keluarga Planet Tata surya. Berdasarkan hasil temuan ilmiah sebelumnya Pluto bertahan selama 76 tahun sebagai bagian dari Tata Surya. Namun dengan metode ilmiah pula Pluto digugurkan sebagai bagian dari Tata Surya. Tepatnya pada Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) Ke-26 di Praha, Republik Ceko pada bulan Agustus 2006.

Contoh lain misalnya, fakta ilmiah dulu menyimpulkan bahwa atom sebagai benda terkecil dari materi, dan tidak bisa dibagi-bagi. Namun, kemudian dikoreksi. Melalui metode ilmiah sendiri, datang teori baru mengoreksi bahwa atom bisa dibagi yakni elektron, proton, dan neutron.

Fakta ilmiah saat ini menyebut, proton dan neutron menyusun inti atom, sementara elektron mengitari inti atom dalam orbit di sekelilingnya. Proton bermuatan positif. Kedepan, tidak menutup kemungkinan suatu saat akan muncul teori baru yang akan mengugurkan fakta ilmiah ini.

Contoh lain, dulu pengiriman surat dilakukan dengan menggunakan merpati pos yang sudah digagas oleh Sultan Baghdad yang bernama Nuruddin pada tahun 1146 M. Penggunannya menjadi massive pada waktu perang dunia pertama. Kemudian pengiriman surat bergeser dengan menggunakan jasa PT. Perusahaan Opsional Surat (POS) Indonesia.

Kemudian bergeser ke elektronik mail (E-mail) hingga saat ini cukup dengan menggunakan ujung jari saja di medsos maka pesan sudah sampai ketujuan.  Suatu saat nanti tidak menutup kemungkinan mengirim pesan cukup menggunakan ujung gigi saja, sambil makan pesan juga bisa terkirim ke orang-orang tersayang. Bukankah selama ini cukup terganggu makan di saat harus mengirim pesan super penting ke orang-orang tersayang?

Maka bisa dibayangkan jika metode ilmiah digunakan untuk menguji keyakinan. Hasilnya sangat beresiko, sesuatu yang disebut sebagai Tuhan bisa berganti seiring pergantian waktu. Dulu Tuhannya A, sekarang B, besok C dan lusa kembali lagi ke A bahkan besok-besoknya lagi tidak ada Tuhan.

Oleh karena itu, tidak pada tempatnya menggunakan metode ilmiah untuk menguji keyakinan/iman. Sebab wilayah keimanan itu merupakan wilayah yang bersifat pasti dan mutlak.

Wilayah keimanan merupakan wilayah yang hasilnya sedikitpun tidak boleh ada keraguan tentang eksistensi Tuhan. Sedangkan hasil temuan melalui metode ilmiah, kebenarannya sangat relative dan selalu berubah.

Maka, para peneliti harus berani dan jujur mengatakan bahwa metode ilmiah itu terbatas, seperti penciptanya yakni manusia yang mempunyai keterbatasan. Karena itu penggunaan metode ilmiah harus digunakan sesuai tabiatnya yang memiliki keterbatasan.

Jangan menjadi peneliti berdarah dingin yang dengan tanpa ampun menggunakan metodologi apa saja untuk memecahkan masalah apa saja atas nama ilmu pengetahuan. Keterbatasan metode ilmiah nampak pada dua hal. (Bersambung) [*]

Oleh :Dr. Erwin Permana | Konsultan Riset dan Dosen Universitas Pancasila

Post a Comment for "Pseudo Science (Bagian Kedua)"