Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

OBJEKTIVITAS DAKWAH (Sebuah Catatan Bagi Yang Suka Nyinyir Dakwah Islam Milenial)

Felix Siauw

Beberapa waktu ini beredar status yang mempermasalahkan dakwah seorang da’i muda keturunan Tionghoa. Saya sebut da’i muda, karena dari segi ilmu dan usia, yang bersangkutan memang belum selevel ulama sepuh yang kaya akan ilmu keIslaman. Akan tetapi, kita mesti jujur cara dakwahnya yang inovatif betul-betul diterima di semua lapisan milenial. Sebuah segmen yang sangat gemuk jika kita andaikan segmen itu adalah pangsa pasar dalam dunia bisnis.

Tak hanya milenial, bahkan kalangan artis yang memulai ‘hijrah’ pun, masuk dalam jangkauan ‘pasar’ da’i muda tersebut. Terakhir bertemu dengan da’i muda itu, mungkin sekitar tahun 2009 saat diminta mengisi salah satu kampus di kota kami. Setelah itu tidak terlalu mengikuti perkembangan popularitas da’i tersebut, baru saat beliau membuat video tausiyah bareng ustadz Abdul Somad sekitar 2019, kembali saya memperhatikan beliau.

Kembali ke topik, tentang komentar miring segelintir pihak mengenai da’i muda penulis buku Udah Putusin Aja itu, saya sendiri cukup bingung, sebab ketika menonton video tausiyah di hadapan artis yang dipersoalkan, kalau dicermati sebetulnya tidak ada masalah. Hanya sekedar tausiyah penguatan keimanan, melalui pendekatan pengalaman pribadi dan retorika logis, lalu kesadaran tentang eksistensi sang Pencipta melalui fenomena keunikan ciptaan Allah, serta agar senantiasa memeluk dan menjalankan ajaran Islam. Itu esensi ceramahnya, jadi apa yang salah?

Jika dicermati, konten materi atau tausiyah tersebut, substansinya sesuai dengan keterangan para ulama. Misalnya dalam Jala’ al-Afham bi Syarh ‘Aqidah al-Awam (h. 22-23) disebutkan tentang dalil eksistensi sang pencipta dapat dipahami melalui keberadaan ciptaannya:

يجب على كل مكلف أن يعرف من صفات الله تعالى الواجب في حقه و هو: ما لا يتصور في العقل عدمه ... وهو عشرون صفة مفصلة كالتالي: الوجود بمعنى ثبوت الشيء و تحققه واجب له تعالى لذاته لا لعلة أي أن غيره لم يؤثر في وحوده تعالى، أما الوجود غير الذاتي كوجودنا فهو بفعله تعالى، و الدليل على ذلك وجود هذه المخلوقات، و لو لم يكن سبحانه و تعالى ما كان شيء من الخلق، قالى تعالى: أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ. وسئل أعرابي عن الدليل فقال البعرة تدل على البعير و الروث على الحمير وآثار الأقدام على المسير، فسماء ذات أبراج و أرض ذات فجاج و بحار ذات أمواج أما تدل على الصانع الحكيم القدير العليم؟

Setiap mukallaf harus mengetahui sifat Allah ta’ala yang wajib bagi-Nya, sifat wajib artinya akal tidak akan mengakui ketiadaan sifat ini. Sifat ini ada dua puluh, salah satunya sifat wujud yang bermakna terbukti dan pasti adanya, sifat wajib ini ada karena Allah itu sendiri, bukan karena alasan lain, artinya selain Allah semisal mahkluk tidak mempengaruhi eksistensi-Nya, sedang keberadaan selain-Nya seperti keberadaan kita dipengaruhi oleh perbuatan-Nya. Bukti eksistensi-Nya adalah keberadaan makhluk, karena seandainya tidak ada pencipta maka makhluk pun tentu tidak ada. Karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Mengapa mereka tidak memikirkan tentang kejadian diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya” (QS. Ar-Rum: 8). Seorang Arab pedalaman ditanya mengenai bukti adanya Allah, dia menjawab: Kotoran unta menunjukkan adanya unta, kotoran keledai menunjukkan adanya keledai, dan jejak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan. Maka langit itu memiliki bintang, bumi mempunyai hamparan, dan laut memiliki ombak. Bukankah semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui?

Mengenai wajibnya konsisten, memeluk dan memegang teguh ajaran Islam, hal ini pun bukan hal baru karena memang demikian menurut para ulama, misalnya Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) rahimahullah menyatakan:

يجب وجوبا محتما ﻋﻠﻰ ﻛﺎﻓﺔ ﺍﻟﻤﻜﻠﻔﻴﻦ أي جميعهم ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻰ ﺩﻳﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ و هو شهادة أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله و الإقرار بما جاء به من عند الله ﻭﺍﻟﺜﺒﻮﺕ أي الملازمة ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻭﺍﻡ أي بلا انقطاع إلى الموت على الإسلام. عن علي رضي الله عنه أنه قال تمام النعمة الموت على الإسلام. ﻭﺍﻟﺘﺰﺍﻡ أي قبول ﻣﺎ أي شيء ﻟﺰﻡ أي ثبت ﻋﻠﻴﻪ أي كافة المكلفين ﻣﻦ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ و هي ما بينه الله تعالى لنا على لسان نبيه مما يتعلق بأفعال المكلفين

Sangat wajib bagi seluruh mukallaf tanpa kecuali memeluk ajaran Islam, yakni bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mengakui ajaran yang dibawanya berasal dari Allah; seorang mukallaf mesti konsisten senantiasa memegang teguh ajaran Islam hingga wafat. ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Kenikmatan yang sempurna adalah mati memeluk Islam”; seluruh mukallaf juga mesti terikat yakni menerima segala hukum Islam yang berkaitan dengan perbuatan yang Allah jelaskan melalui lisan Nabi-Nya. (Mirqah ash-Shu’ud at-Tashdiq fi Syarh Sulam at-taufik, h. 9).

Mendudukkan Da’i dan ‘Alim

Sebagian pihak tidak proporsional ketika berbicara dakwah dan kajian ilmu-ilmu Islam, padahal keduanya ada proporsinya masing-masing. Sebab yang satu berbicara seruan ajaran Islam sebagai sebuah kewajiban yang melekat pada diri seorang muslim, berdasarkan dalil-dalil tentang dakwah, nasihat, dan amar ma’ruf nahi munkar. Sedangkan kajian ilmu-ilmu keIslaman berbicara soal konsekuensi atas kewajiban memahami beragam dalil syariah dengan seluruh karakteristiknya, yang merupakan domain para alim ulama di bidangnya, dimana kewajiban ini bersifat kolektif representatif.

Maka dari itu, jika kita berbicara dakwah dalam konteks nasihat, peringatan dan seruan untuk menjalankan ajaran Islam, tentu muslim manapun boleh melakukannya, tidak perlu menunggu menjadi seorang ‘alim, meskipun jika dia ‘alim tentu lebih utama. Selama memiliki akidah yang lurus dan pemikiran Islam yang benar, maka seorang muslim wajib berdakwah, menyampaikan ajaran Islam, amar ma’ruf nahi mungkar, memberi nasihat sesama muslim dan yang semisal itu. Imam al-Qurthubi (w. 671 H) rahimahullah menyampaikan beberapa pesan tabi’in:

وقال الحسن لمطرف بن عبد الله: عظ أصحابك، فقال إني أخاف أن أقول ما لا أفعل، قال: يرحمك الله! وأينا يفعل ما يقول! ويود الشيطان أنه قد ظفر بهذا، فلم يأمر أحد بمعروف ولم ينه عن منكر. وقال مالك عن ربيعة بن أبي عبد الرحمن سمعت سعيد بن جبير يقول: لو كان المرء لا يأمر بالمعروف ولا ينهى عن المنكر حتى لا يكون فيه شيء، ما أمر أحد بمعروف ولا نهى عن منكر. قال مالك: وصدق، من ذا الذي ليس فيه شي!

Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata kepada Mutharrif bin Abdillah: “Berilah sahabat-sahabatmu nasihat!”, Mutharrif menjawab: “Aku khawatir memberi nasihat yang aku sendiri tidak melaksanakannya”. Lalu al-Hasan al-Bashri merespon: “Semoga Allah merahmatimu, siapa di antara kita yang melaksanakan semua nasihat yang disampaikannya! sungguh setan ingin menjebak dengan ini, sehingga akhirnya tidak ada seorang pun yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar”. Imam Malik menyampaikan riwayat dari Rabi’ah bin Abi Abdurrahman yang mendengar Sa’id bin Zubair berkata: “Seandainya yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar hanya dilakukan orang yang sempurna, maka tidak ada satu pun orang yang melakukan itu”, Imam Malik setuju: “Itu benar, memangnya siapa yang sempurna!”. (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, I/367- 368).

Namun jika berbicara kajian ilmu-ilmu Islam tertentu yang memerlukan keahlian, maka hal ini berlaku spesifik dalam domainnya para ‘alim, dan jelas tidak bisa sembarang orang menyampaikan. Ilustrasinya, siapapun boleh menyampaikan atau mendakwahkan kebenaran al-Qur’an sebagai kalamullah, bahwa al-Qur’an bukanlah rekayasa manusia. Tetapi untuk menyampaikan beragam penjelasan nahwu, balaghah, tafsir dan istinbath hukum dari al-Qur’an maka tentu tidak boleh sembarang orang, harus seorang ‘alim di bidang tersebut. Begitu pula untuk menyampaikan atau mendakwahkan bahwa seorang muslim wajib menjadikan perbuatan, ucapan dan taqrir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan, seruan ini boleh dilakukan oleh siapapun. Tetapi untuk menyampaikan kepada umat, mana khabar atau hadits yang shahih, mana yang dhaif dan kotradiktif, bahkan penelusuran makna atau istinbath hukum dari riwayat atau matan yang ada, tentu tidak bisa sembarang orang, harus seorang ‘alim di bidang tersebut. Dan begitu seterusnya ilmu-ilmu keIslaman lainya.

Setelah jelas proporsi da’i dan ‘alim, yang tak kalah penting adalah cara pandang kita dalam melihat kebenaran. Terkadang sebelum kita mendengar dan mencermati sebuah konten materi ilmu atau dakwah, persepsi yang tidak produktif sudah lebih dulu muncul, dan memvonis seseorang berdasarkan prasangka belaka. Misalnya, hanya karena seorang da’i atau ‘alim tersebut bukan dari golongan atau kelompok kita, terkadang kita kurang objektif. Demikian sebaliknya, hanya karena seorang da’i atau ‘alim tadi berasal dari golongan atau kelompok kita, terkadang konten materi atau dakwah yang disampaikan, meskipun salah selalu saja dicari alasan pembenaran. Memang objektivitas terkadang terasa sangat berat. Karena itulah Ubay bin Ka’ab (w. 29 H) radhiallahu ‘anhu memberi nasihat:

اقبل الحق ممن جاءك به وإن كان بعيدا بغيضا واردد الباطل على من جاءك به وإن كان حبيبا قريبا

Terimalah kebenaran yang datang padamu meski bersumber dari orang jauh yang kau benci, dan tolaklah kebatilan yang sampai padamu meski bersumber dari orang dekat yang kau cintai. (Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, IX/ 121).

Demikian penjelasan sederhana ini, semoga kita semua senantiasa di tolong Allah, untuk selalu menapaki jalan kebenaran, dan jika suatu saat kita tergelincir dalam kesalahan, semoga Allah kembali meluruskan kita semua. Imam Ahmad (w. 241 H) rahimahullah berdoa:

اللهم من كان من هذه الأمة على غير الحق وهو يظن أنه على الحق، فرُده إليه حتى يكون على الحق حقا

Yaa Allah siapa saja dari umat ini yang berada di atas kebatilan, padahal dia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikanlah dia pada kebenaran, sehingga benar-benar di atas kebenaran. (Al-Bidayah wa an-Nihayah, X/363).

Tak lupa saya ucapkan, salam hangat untuk ustadz Felix Siauw. Wallahu’alam.

Yan S. Prasetiadi

Purwakarta, 12 Dzul Qa’dah 1441 H.

Post a Comment for "OBJEKTIVITAS DAKWAH (Sebuah Catatan Bagi Yang Suka Nyinyir Dakwah Islam Milenial)"