Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kepemimpinan Di Tangan Siapa?

Kepemimpinan Di Tangan Siapa?

Penulis : Sri Rahayu ( aktivis muslimah )

Aksi spontan cukup mencengangkan dan diluar dugaan telah dilakukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) pada saat acara audiensi dengan para dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya dan Jawa Timur.

Bu Risma tiba-tiba lari berhamburan sambil menangis dan bersujud di kaki ketua IDI di Balai Kota Surabaya, Senin, 29 Juni 2020. Kontan aksi ini sangat menyita perhatian publik. (Liputan6, 30 Juni2020)

Apa yang dilakukan Bu Risma pun sempat menjadi bahan perbincangan luas. Diantaranya Hendri Satrio (pengamat komunikasi politik) mengatakan cara menyikapi persoalan sebaiknya tidak seperti itu, tapi dengan kebijakan yang bisa mengubah jauh lebih baik. Bahkan Kirdi Putra mengatakan bahwa sujud itu bukan pertama kali dilakukan oleh Bu Risma. Cara seperti itu mungkin membuat simpati dan mengetuk hati sehingga yang dia sampaikan didengar masyarakat Surabaya. (TVOne, 29/06/2020).

Realitas diatas mencerminkan begitu berat dan membuat pusing tanggungjawab dan amanah di pundak pemimpin. Tanggungjawab besar yang tak bisa dianggap main-main. Lantas bagaimana pandangan Islam tentang kepemimpinan?

Allah telah menempatkan amanah kepemimpinan itu pada pria. Bukan pada perempuan. Allah yang menciptakan manusia Allah juga yang paling tahu mana yang terbaik buat manusia.

Sebagai Dien yang kamil dan syamil, Islam telah mengatur semua perkara hidup kita dengan tuntunan yang jelas.

Islam, Dien (agama) yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Saw yang di dalamnya mengatur secara sempurna, paripurna dan menyeluruh tentang :

Pertama : hubungan kita dengan Allah ( ibadah, akhlaq dll).
Kedua : hubungan kita dengan diri kita sendiri ( makanan, minuman, pakaian dll).
Ketiga : mengatur hubungan kita dengan manusia yang lain.

Dalam aspek ketiga inilah syariat Islam mengatur dalam banyak hal. Seperti sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem sosial/ pergaulan, sistem sanksi (uqubat), kesehatan, keamanan, politik dan sistem pemerintahan/ kepemimpinan.

Pada masing -masing ranah tersebut, syara' juga telah menempatkan sekumpulan hukum yang jelas dan manusia tinggal memahami hukum dan faktanya untuk kemudian mengkaitkannya dan melaksanakan. Karena Allah maha tahu bahwa akal manusia diciptakan hanya mampu menjangkau yang bisa diinderanya saja. Yaitu meliputi alam semesta, kehidupan dan manusia. Hal ghaib tak mampu dijangkaunya.

Semua hukum syariat yang datang dari Allah di jamin pasti memberikan kebaikan, ketenangan kebahagiaan dan keberkahan dunia dan akhirat.

Tentang kepemimpinan, syara telah menetapkan wilayah ini khusus untuk para pria. Sebagaimana dalam Al Qur'an QS An Nisaa : 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar."

Untuk kepemimpinan dalam rumah tangga wajib ditangan laki-laki. Bagaimana dalam kepemimpinan di luar rumah tangga? Seperti wanita sebagai bupati, walikota, gubernur bahkan presiden?

Menyikapi persoalan diatas,


Allah Subhanahu wata'ala telah menjelaskan kepemimpinan dalam rumah tangga adalah kewenangan pria. Karena Allah SWT telah menetapkan kelebihan pada pria dalam beberapa taklif (pembebanan hukum) seperti kekuasaan dan pemerintahan, imam dalam shalat, wali dalam pernikahan dan hak menjatuhkan talak dalam perceraian.

Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa untuk kepemimpinan dalam rumah tangga saja di tangan pria, apalagi kepemimpinan yang lebih besar cakupannya. Tentu lebih-lebih lagi mengharuskan di tangan pria. Hal ini sebagaimana dalam kaidah syara min babil aula (keutamaan yang lebih utama).

Rasulullah ﷺ ketika mendengar bahwa putri Kisra diangkat menjadi pemimpin, Beliau bersabda, " tidak akan pernah beruntung suatu kaum ketika menyerahkan kepemimpinannya pada wanita." Sabda Rasulullah ﷺ tersebut semakin menegaskan bahwa kepemimpinan hanya diperbolehkan di tangan pria. Larangan /keharaman pemimpin wanita itu sangat tegas dengan adanya ancaman "tidak akan pernah beruntung".

Ketegasan ancaman dan larangan perempuan menjadi pemimpin, sangat jelas. Dan kita sebagai manusia biasa yang beriman kepada Allah tak ada pilihan lain selain hanys tunduk pada syariatNya. Karena semua yang datang dari Allah pasti membawa kebaikan dan keberkahan pada kita.

Apalagi realitas itu nyata, kita melihat dengan jelas bahwa tanggungjawab pemimpin sangat berat. Perempuan takkan kuat. Tindakan ekspresif yang ditunjukkan oleh Bu Risma itu adalah salah satu dari sekian banyak ketidakmampuan perempuan menjadi pemimpin. Banyak sekali batasan-batasan yang niscaya dilanggar saat mengemban amanah itu. Misal tentang kewajibannya di dalam rumah saja ada sekumpulan aturan yang sangat menjaga perempuan. Kalaulah suami dan anak-anaknya meridhai sang ibu keluar rumah mengurusi urusan rakyat. Tentu banyak pula perkara diluar sana yang batasan- batasannya telah ditentukan syara. Misalnya harus membuat hukum atau ketetapan atau kebijakan pemimpin. Karena syara telah menetapkan pemimpin itu harus laki-laki maka perempuan membuat kebijakan untuk pengurusan rakyat tak boleh dilakukan. Karena itu kewenangan pria.

Terlebih lagi campur baur laki-laki dan perempuan dan komunikasi intens dengan staf serta relasinya, tentu tak bisa dihindari.

Demikianlah ketika syara menetapkan kewenangan kepemimpinan itu harus pada pria maka Allah paling mengetahui kemashlahatan untuk manusia. Menyerahkan amanah dan tanggungjawab kepemimpinan hanya ditangan pria adalah kewajiban. Dan ketika sudah memiliki pemimpin pria, maka tinggal tersisa satu persoalan, yaitu sistem pemerintahan apa yang diterapkan. Kebahagiaan hidup yang sangat kita dambakan hanya ilusi jika masih menerapkan sistem pemerintahan demokrasi warisan Voltair dan teman-temannya. Kehidupan baldatun thayyibatun warabbun ghafur tentu hanya terwujud dengan menerapkan sistem pemerintahan yang diwariskan nabi. Wallahu a'lam bishawab.[]

Post a Comment for "Kepemimpinan Di Tangan Siapa?"