Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kemaksiatan Marak dalam Sistem Sekuler-Kapitalis

Di dalam negeri yang menganut sistem sekuler kapitalis seperti negeri kita ini, atas nama HAM tindakan amoral pun bisa dilegalkan

Oleh: Najmah Saiidah

Sekularisme-kapitalisme dengan paham-paham turunannya yang batil seperti liberalisme dan materialisme, memang meniscayakan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah.

Terbukti sebagaimana yang terjadi saat ini, dunia terus dilanda krisis. Mulai dari krisis politik yang membuat kehidupan masyarakat menjadi serba tidak jelas, dan krisis ekonomi yang terus membebani mayoritas keluarga muslim dengan kehidupan serba sulit.

Terlebih di saat pandemi seperti sekarang ini dan akhirnya mendorong para ibu turut bertanggung jawab menanggung beban ekonomi keluarga yang menyita energi dan waktu mendidik anak-anak mereka.

Juga krisis moral akibat merebaknya budaya hedon dan permisif yang kian menjerumuskan individu, keluarga, dan masyarakat pada kerusakan. Hingga umat terancam kehilangan generasi masa depan dan kehilangan kesempatan menjadi entitas terbaik dan terdepan (khayru ummah), akhirnya umat Islam terus menjadi bulan-bulanan dan sapi perah negara-negara kapitalis yang rakus akan sumber daya dan kekuasaan.

Potret Buram Masyarakat Sekuler-Kapitalis

Di dalam negeri yang menganut sistem sekuler kapitalis seperti negeri kita ini, atas nama HAM tindakan amoral pun bisa dilegalkan. Tidak heran jika perzinaan dan L68T semakin meningkat dari hari ke hari. Bahkan beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan berita perusahaan-perusahaan besar ikut membiayai propaganda L68T.

Seminggu lalu, Razia Pekat tim gabungan TNI-Polri mengamankan 37 pasangan ABG, Laki-lakinya umur 15 tahun, ada perempuannya umur 13. Mereka terjaring di kamar hotel hendak merayakan ulang tahun dengan cara pesta seks.

Saat terjaring razia itu, petugas juga mengamankan sekotak kondom dan obat kuat yang diduga akan digunakan pasangan ABG tersebut untuk berbuat maksiat, bahkan ditemukan ada 1 perempuan dan 6 laki-laki di satu kamar. (kompas.com)

Belum lagi, akhir-akhir ini marak kasus pemerkosaan bahkan perzinaan. Yang membuat miris dan mengerikan, kasus saat ini justru dilakukan bapak kepada anaknya, baik anak tiri maupun anak kandung!

Di Sumatera Barat beberapa waktu lalu, perzinaan dilakukan bapak dan anak kandungnya hingga anaknya hamil. Ketika diinterogasi, sang bapak mengaku karena wajah sang anak perempuannya sama dengan mantan istrinya yang merupakan ibu kandung anak tersebut, keduanya mengaku suka sama suka (kompas.com). Ada lagi bapak yang menghamili anak tirinya bahkan kemudian hendak menikahinya.

Sudah sedemikian rusaknya masyarakat saat ini, akal sehat dan nalurinya sudah tertutup hawa nafsunya, aturan agama yang sudah sangat jelas diabaikan begitu saja.

Tidak hanya itu, kejahatan pun semakin meningkat. Kasus begal motor, pencurian, pencopetan, bahkan pembunuhan dengan berbagai latar belakang terus meningkat tanpa bisa dibendung. Hingga ada istri yang tega membunuh suaminya. Naudzubillahi min dzalika.

Tidak hanya semakin banyak kasus kejahatan atau tindak kriminal, lebih dari itu, tingkat kejahatannya pun lebih sadis. Lebih banyak korban berjatuhan. Serta masih banyak lagi kemaksiatan yang ada di depan mata kita, bahkan sangat transparan.

Tanpa rasa malu atau segan, pergaulan bebas merajai negeri ini, pamer aurat sudah dianggap biasa, tidak melakukan puasa atau salat wajib menjadi hal biasa, kaum laki-laki muslim berkeliaran di saat salat Jumat juga dianggap biasa.

Demikianlah potret masyarakat yang hidup dalam sistem kehidupan sekuler-kapitalis, kehidupan yang serba bebas, semaunya sendiri. Hal ini wajar terjadi dalam sistem seperti ini, mengapa?

Sistem Sekuler Kapitalis Sumber Kerusakan
Diterapkannya sistem sekuler-kapitalis yang menjadikan manfaat sebagai asas dalam kehidupan dan menjadikan kebebasan —baik kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan berperilaku di atas segalanya— merupakan biang keladi munculnya berbagai macam pemikiran dan tingkah laku menyimpang. Mereka bebas berbuat sekehendak hati mereka selama tidak mengganggu orang lain.

Bersamaan dengan itu, lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kaffah menjadi salahsatu faktor utama kenapa kondisi ini bisa terjadi.

Islam telanjur dipahami sebatas ritual saja, hingga tak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam konteks individu, keluarga, maupun dalam interaksi masyarakat dan kenegaraan.

Ajaran Islam ritual yang dikukuhi mayoritas masyarakat lambat laun kehilangan power sebagai penuntun dan pembeda antara hak dan kebatilan.

Dengan minimnya pemahaman Islam kaffah, tak sedikit individu muslim mengalami disorientasi hidup, hingga mereka mudah menyerah pada keadaan bahkan terjerumus dalam kemaksiatan.

Penerapan Islam Kaffah Penjaga Umat dari Kemaksiatan

Berbeda dengan kapitalisme yang terbukti telah gagal memberikan ketenteraman dan keamanan bagi manusia, Islam memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia sehingga memberikan ketenteraman bagi manusia, karena Islam berasal dari Allah SWT, Pencipta manusia, yang Maha Mengetahui apa yang tepat untuk manusia.

Islam telah memberikan aturan yang sangat lengkap yang menjaga manusia dari kerusakan, baik untuk individu, masyarakat, maupun bangsa.

Islam diturunkan Allah memang sebagai rahmat bagi seluruh alam, firman Allah SWT: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (TQS al-Anbiyaa’[21]: 107)

Rahmat Islam hanya bisa dirasakan ketika ajaran Islam secara kaffah diterapkan dalam kehidupan, bukan hanya sebatas teori yang dipelajari dalam kajian akademis, juga bukan sekadar penerapan hukum yang bersifat parsial.

Ajaran Islam harus dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh. Sehingga akan mewujudkan ketenteraman bagi seluruh manusia.

Islam mengharuskan umat Islam untuk terikat dengan aturan dari Allah SWT dan Rasul-Nya, tanpa kecuali. Islam sebagai aturan kehidupan yang diturunkan Allah SWT merupakan aturan yang paripurna, yang menyelesaikan setiap persoalan manusia secara menyeluruh, tuntas, dan sempurna.

Dalam Islam, yang halal jelas dan yang haram pun jelas. Tetap, tidak akan lekang oleh waktu. Tidak tergantung pada pendapat penduduk bumi, misal jika Allah menetapkan haram untuk perbuatan zina, maka akan tetap haram sampai hari kiamat nanti, meski penduduk bumi menentangnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

وَلا تَقرَبُوا الزِّنىٰ ۖ إِنَّهُ كانَ فٰحِشَةً وَساءَ سَبيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al Isra[17]: 32)

Demikianlah Islam, Allah al-Khaliq al-Mudabbir —Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur— telah menurunkan aturan-Nya untuk umat manusia agar bisa hidup dengan tenang, tenteram, dan sejahtera, karena aturan Islam sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia.

Islam mengatur seluruh aspek kehidupan tanpa kecuali. Syariat telah memerintahkan kita umat manusia untuk terikat dengan segala yang datang dari Islam. Jika kita melanggarnya, maka kita telah bermaksiat kepada Allah SWT, naudzubillahi min dzalika.

Karena itu, solusi satu-satunya tak lain adalah mengembalikan aturan kepada Sang Pencipta Allah SWT, dengan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dan membuang jauh-jauh sistem sekuler-kapitalis yang rusak dan merusak.

Di sinilah urgensi dakwah membangun kesadaran, bahwa Islam bukan cuma agama ritual tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Di sini pulalah peran penting para ulama, orang-orang yang memiliki ilmu –termasuk para mubalig dan mubaligah, para pengemban dakwah untuk melaksanakan peran dan fungsi sentralnya di tengah-tengah umat.

Tidak sekadar memberikan tausiyah ke tengah-tengah umat, tetapi harus benar-benar menyadarkan umat bahwa saat ini umat dalam keadaan terpuruk karena tidak menerapkan Islam.

Selanjutnya menanamkan pemahaman Islam ideologi dan menuntun untuk melaksanakan aturan Islam secara kaffah, agar umat dengan sendirinya tergerak berubah dan bergerak bersama mengubah kondisi umat dan berjuang bersama menegakkan Islam secara sempurna.

Sehingga kelak umat Islam kembali menjadi umat terbaik di antara seluruh umat manusia di muka bumi ini. Wallahu a’lam bishshawwab.[Mnews]

Post a Comment for "Kemaksiatan Marak dalam Sistem Sekuler-Kapitalis"