Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

#GueBersamaHRS, Kami Bersama Ulama

pernyataan tertulis bersama dari FPI, GNPF Ulama, dan PA 212 seperti dilihat, Selasa (28/7/2020). Pernyataan tertulis itu didapat detikcom dari Ketum PA 212 Slamet Maarif yang berbunyi,  "Bersyukur kepada Allah SWT dengan mengucapkan alhamdulillah atas tidak terbakarnya poster dengan foto IB HRS saat berupaya dibakar oleh gerombolan Neo PKI pada saat Aksi, ini menunjukkan kebesaran Allah SWT dan Karomah IB HRS."

Massa yang berunjuk rasa di depan gedung DPR merusak, bahkan mencoba membakar poster imam besar Front Pembela Islam (FPI) HRS. FPI dkk mengecam tindakan tersebut.

Berikut pernyataan tertulis bersama dari FPI, GNPF Ulama, dan PA 212 seperti dilihat, Selasa (28/7/2020). Pernyataan tertulis itu didapat detikcom dari Ketum PA 212 Slamet Maarif yang berbunyi,  "Bersyukur kepada Allah SWT dengan mengucapkan alhamdulillah atas tidak terbakarnya poster dengan foto IB HRS saat berupaya dibakar oleh gerombolan Neo PKI pada saat Aksi, ini menunjukkan kebesaran Allah SWT dan Karomah IB HRS."

FPI dkk menyebut aksi tersebut sebagai tindakan tak bermoral. Mereka menyebut kelompok massa itu sebagai 'neo-PKI'.(detiknews.com, 28/7/2020)

Tentu saja peristiwa tersebut membuat geram umat Islam dimanapun dia berada. Lebih-lebih kelompok ini berani berbuat dengan mengatasnamakan rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia yang mana? Rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam. Manusia yang sholatnya bolong-bolong saja masih hormat jika bertemu dengan Ulama. Rakyat Indonesia yang mempunyai Iman dan adab kesopanan pasti cinta Ulama, sayang Ulama, memuliyakan Ulama.

Lihatlah bagaimana para narapidana di dalam rutan tempat Habib Bahar ditahan , walau bertato dan bertampang sangar tetapi para napi ini masih cinta dan hormat kepada keturunan Nabi. Hanya manusia tidak beriman dan tidak percaya Tuhan yang berani menghina keturunan Nabi.

Disamping upaya pembakaran poster Ulama yang gagal, mereka juga meneriakkan bahwa 27 Juli 2020 adalah hari perlawanan kepada ajaran Khilafah. Kebencian yang dipertontonkan kaum sekuler liberal terhadap Islam, ajaran, simbol, Rasul-Nya dan keturunan Rasul semakin memprihatinkan di negeri ini.

Islam selalu dijadikan sasaran tembak, sasaran adu domba. Ulamanya menjadi sasaran fitnah hingga sasaran kebencian. Dan parahnya perbuatan penistaan ini disaksikan oleh aparat kepolisian yang berjaga tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya padahal jumlah massa mereka sedikit (lebih banyak polisi yang berjaga daripada massa yang berdemo). Ironis memang.

Mengapa Negara selalu dan selalu membiarkan narasi-narasi menghinakan ajaran Islam ataupun penistaan terhadap terhadap Ulama? Jadi benarlah adanya dugaan bahwa rezim hari ini rezim anti-Islam. Pengakuan cinta pada Nabi dan keturunan Nabi hanyalah klaim dusta penguasa semata. Diduga rezimlah yang sejatinya memelihara dan memproduksi orang-orang sekularis yang anti terhadap ajaran Islam.

Banyak kasus diadukan. Berkali-kali laporan penistaan agama tak digubris dan akhirnya menguap begitu saja, sebagaimana kasus Ade Armando, Abu Janda dan yang terbaru kasus Denni Siregar yang juga tak kunjung diselesaikan oleh pihak kepolisian.

Lagi-lagi, mengapa Negara tidak menganggap penting persoalan ini?
Lantas, apa yang harus dilakukan umat untuk menuntaskan persoalan ini? Cukupkah hanya menyeret pelaku ke meja hijau lalu masalah selesai? Dapatkah undang-undang yang ada membela umat Islam, Ulama dan Rasul-Nya, sementara sistem dan undang-undangnya sendiri tak ‘taat’ agama?

Manakala pelakunya Muslim atau organisasi Islam, penindakannya begitu cepat. Sebaliknya, jika pelakunya pendukung rezim, dibiarkan melenggang. Bahkan narasi-narasi penghinaan terhadap Islam, ajaran, simbol, Ulama dan Rasul-Nya tidak akan dianggap mengganggu jika umat tidak terus menerus menuntut hingga berdemo berjilid-jilid yang diikuti hingga 13 juta massa di Monas demi menuntut keadilan.

Berharap pada rezim untuk menuntaskan masalah penistaan ini, jelas tidak bisa. Karena rezim tidak melihat agama sebagai sesuatu yang penting.

Sistem Sekuler Menyuburkan Lahirnya Para Penista Agama

Hukum yang dipakai dalam sistem sekuler saat ini tidak mampu memberikan keadilan dan efek jera bagi pelaku penghinaan serta mengatasinya dengan tuntas.

Banyak produk hukum di negeri ini yang tumpang tindih. Belum lagi, pasal penistaan agama di RUU KUHP berpeluang multitafsir lantaran tidak ada definisi yang jelas mengenai penistaan agama.

Sementara di sisi lain, penegakan hukum seringkali tidak memenuhi rasa keadilan. Adanya wacana regulasi baru terkait RUU Perlindungan Ulama, Tokoh Agama, dan Simbol-simbol Agama juga tak luput dari pro dan kontra.

Dengan kata lain, jika undang-undang yang ingin diubah masih dalam kerangka sistem buatan manusia, tidak mungkin menyelesaikan masalah ini.

Syariat Islam Memberantas Penista Agama

Butuh perubahan sistemis dengan mencabut akar masalah, yakni sekularisme, kemudian ditegakkan sistem yang menjalankan seluruh aturan dan nilai yang berasal dari Allah Swt. dan Rasul-Nya, yakni sistem Khilafah.

Khilafah akan menghilangkan masalah penghinaan terhadap Islam dari hal yang paling mendasar: kebodohan akan agama dan kedengkian.

Semua ini sepatutnya menyadarkan umat bahwa sistem perundangan di negara ini tidak akan mampu menegakkan keadilan kepada umat Islam. Malah, hukum yang ada juga tidak akan membela umat Islam ketika agama Islam, Rasul Saw. dan keturunannya dihina.

Langkah Umat

Perasaan adalah perkara yang penting dalam menggerakkan umat. Namun perasaan ini akan terhenti apabila tidak ada faktor yang mencetuskannya.

Dalam video penghinaan terhadap keturunan Nabi Saw, umat Islam disatukan dengan perasaan benci, geram, marah, tidak terima kepada pihak yang menghina keturunan Rasulullah Saw., namun apalah daya umat Islam belum disatukan dengan pemikiran dan peraturan yang benar, hanya bisa menyeru kepada pihak berkuasa untuk menyeret penghina keturunan Rasulullah Saw. segera diadili dan dihukum. Persoalannya, dengan hukuman apa?

Seharusnya umat Islam berpikir dengan cara yang Islami dengan kembali merujuk bagaimana pandangan Islam dalam perkara hukum bagi penghina Nabi Saw. dan keturunan Nabi.

Orang yang menghujat Rasulullah saw. adalah orang yang mencela, mencari-cari kesalahan, menganggap pada diri Rasul saw. ada kekurangan; mencela nasab (keturunan) dan pelaksanaan agamanya; juga menjelek-jelekkan salah satu sifatnya yang mulia; menentang atau menyejajarkan Rasulullah saw. dengan orang lain dengan niat untuk mencela, menghina, mengerdilkan, menjelek-jelekkan, dan mencari-cari kesalahannya. Orang seperti ini termasuk orang yang telah menghujat Rasul saw.. (Lihat Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi Tarif Huquq al-Musthafa, hlm. 428).

Bagi seorang Muslim, hukum menghina Rasul dan keturunan Nabi jelas haram. Menjadikan pelakunya tergolong murtad (keluar dari Islam). Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwa hukuman bagi penghina Islam, Allah Swt. dan Rasul-Nya adalah hukuman mati jika tidak mau bertobat.

Jika pelaku bertobat, gugurlah hukuman mati atas dirinya, hanya saja negara tetap memberikan ‘pelajaran’ kepada pelaku sesuai dengan ketetapan Khalifah, dengan memperhatikan tingkat penghinaannya.

Ash- Shaidalâni (w. 427H), ‘ulama dari kalangan Syafiyah, menyatakan bahwa pencaci Allah dan Rasul-Nya, jika bertobat, tobatnya diterima dan tidak dihukum mati, namun tetap diberi ‘pelajaran’ dengan dicambuk 80 kali (Mughni al-Muhtâj, 5/438).

Dengan hukuman yang tegas, orang yang berpenyakit dengki dalam hatinya tidak akan sempat menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Karenanya, umat Islam bukan hanya sekadar mendesak agar penghina keturunan Nabi Saw. segera dihukum. Sudah saatnya umat turut memberi peringatan tegas kepada pemerintah agar berhukum dengan hukum Allah Swt.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Post a Comment for "#GueBersamaHRS, Kami Bersama Ulama"