Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Duka Masamba : Kesabaran, Peringatan Dan Tanggung Jawab Negara

Saat ini rakyat Masamba sangat butuh uluran bantuan yang Ikhlas untuk meringankan beban mereka,. Trauma psikologis, kehilangan harta benda dan jiwa dari anggota keluarga, tentu menjadi pukulan yang sangat melukai bagi naluri kemanusiaan rakyat Masamba. Karena itu Negara harus hadir meringankan beban penderitaan rakyat Masamba.

Oleh : Mariana, S.Sos : (Pemerhati Sosial dan Politik )

Duka kemanusiaan yang terjadi di Masamba Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan adalah sederet kisah pilu yang melanda negeri ini. Perhatian yang sangat tulus tentu dibutuhkan oleh rakyat masamba yang tertimpa bencana banjir bandang, bukan hanya itu tanggung jawab dan peran Negara sangat penting untuk membangun semangat rakyat masamba selain tentunya pembangunan kembali infrastruktur dan bangunan yang rusak akibat musibah banjir.

Saat ini rakyat Masamba sangat butuh uluran bantuan yang Ikhlas untuk meringankan beban mereka,. Trauma psikologis, kehilangan harta benda dan jiwa dari anggota keluarga, tentu menjadi pukulan yang sangat melukai bagi naluri kemanusiaan rakyat Masamba. Karena itu Negara harus hadir meringankan beban penderitaan rakyat Masamba.

Dilansir oleh KOMPAS.com, Curah hujan tinggi yang terjadi sejak beberapa minggu terakhir menyebabkan banjir bandang di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Senin( 13/7/2020). Akibat terjangan banjir tersebut, ribuan rumah warga diketahui rusak dan tenggelam. Dari laporan sementara yang dihimpun Kompas.com pada Selasa (14/7/2020), banjir tersebut juga menyebabkan belasan orang tewas dan puluhan orang hilang.

Seyogianya tangisan pilu Masamba menjadi tangisan bagi kita semua. Derita, duka, dan penyesalan adalah bukti bahwa manusia tetaplah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, maka hikmah dari banjir Masamba adalah:

Pertama: Kesabaran, dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Rabb Alam semesta, manusia dan kehidupan. Banjir Masamba adalah ujian bagi orang- orang yang beriman, untuk menaikkan derajat dan nilai dihadapan Allah SWT dan sebagai pembuktian mana orang yang ikhlas menerima Qadha atau ketetapan Allah dan mana orang yang sibuk larut dalam duka dan menyalahkan takdir Allah.

Karena itu ketika musibah terjadi kita dituntut untuk bersabar dan dilarang untuk berputus asa. Sabar yang dimaksud adalah menyerahkan segala sesuatunya pada Allah semata dan berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Kesabaran menuntut pengendalian emosi dari beban psikologis yang dirasakan, meski sangat berat tapi setidaknya hal itu sedikit melepaskan rasa frustasi dari meratapi nasib.

Upaya yang harus dilakukan setelah musibah adalah bergerak untuk membantu orang-orang disekitar yang tertimpa musibah, Sebab belum tentu bantuan akan segera datang, hal yang paling bermanfaat yang dilakukan setelah tertimpa musibah adalah mencari tempat yang aman untuk ditempati sementara sebelum datangnya bantuan, bersegera mencari bantuan yang terdekat atau menghubungi keluarga jika akses komunikasi belum terputus, dll.

Inilah wujud sabar sesungghnya, jadi sabar itu bukan pasrah dan menyerah tetapi menyerahkan dengan totalitas segala urusan kepada Allah Swt dan melakukan ikhtiar untuk bangkit dari keterpurukan. Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah : 155 -156: “ Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “ Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”.

Kedua: Menjadi Bahan Introspeksi atau Perenungan. Sudah sepatutnya rasa takut dimiliki oleh manusia ketika kemaksiatan seolah menjadi biasa. Padahal bisa jadi musibah yang menimpa manusia adalah peringatan akibat dosa yang dilakukan. Mengabaikan syariat Pencipta, tetap berpengang teguh pada hukum-hukum kufur yang nyata bertentangan dengan aturan Pencipta, merasa nyaman dan santai ketika tidak diberlakukannya hukum-hukum Allah bahkan menganggap enteng segala kemaksiatan dan kezaliman yang ada. Allah SWT berfirman dalm QS Asy-Syura ayat 30: “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, …”

Akibat keserakahan manusia alam pun diporak-poranda, hutan sebagai tempat habitat dan ekosistem berbagai jenis flora dirusak oleh tangan manusia yang tak bertanggung jawab bahkan dijadikan lahan industri akibatnya hutan kehilangan fungsi aslinya yakni sebagai lahan resapan air yang mampu untuk menahan banjir ataupun tanah longsor.

Bencana banjir bisa juga diakibatkan karena Kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan sungai dari segala jenis sampah, pun dengan daerah resapan air sangat penting agar tidak terjadi alih fungsi lahan menjadi bangunan pertokoan, perusahaan industri dan pemukiman penduduk, disamping harus memperhatikan lahan hijau atau lahan terbuka, bahkan tata kelola ruang juga menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan agar tidak menimbulkan dilema bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, banjir bukan hanya menyangkut musibah karena intensitas hujan yag cukup tinggi, tetapi bisa juga terjadi karena ulah manusia.

Karena itu manusia harus memperbanyak doa dan berdzikir memohon ampun pada Allah dan memohon agar musibah dapat segera berlalu, berdoa dan dzikir akan dapat menentramkan hati dari kegelisahan dan putus asa, selanjutnya bertaubat atas dosa dan kesalahan yang dilakukan tentu dengan taubatan nasuha yakni taubat yang sesungguh-sungguhnya, menyesali dosa yang dilakukan, berhenti berbuat dosa dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi dosanya di masa datang. Segala bentuk bencana alam merupakan bukti kemahakuasaan Allah SWT, Karena itu manusia harus menyadari betapa manusia itu sangat lemah dan tidak berdaya dihadapan kemahakuasaan Allah.

Ketiga: Tanggung Jawab Negara. Bencana yang dialami oleh rakyat adalah tanggung jawab Negara, Negara harus hadir dalam hal ini penguasanya untuk meringankan beban rakyatnya. Sebagaimana kisah kepemimpinan dalam islam, ketika ada rakyat yang gelisah karena musibah yang menimpanya maka penguasa islam tidak dapat tidur dan makan dengan tenang, bahkan kepala Negara lah yang langsung terjun mengurusi keperluan rakyatnya, penguasa sangat sabar dan telaten mengurusi rakyat, sebab penguasa Islam yang menerapkan aturan Islam sangat paham bahwa dia adalah pelindung rakyatnya dan diakhirat kelak penguasa akan diminta pertanggung jawaban terhadap rakyat yang diurusnya.

Karena itu apabila ada penguasa yang sibuk berleha-leha, makan enak dan tidur nyaman sementara rakyatnya menjerit kelaparan dan tidur tidak nyaman, maka sama saja penguasa telah menyia-nyiakan amanah kekuasaannya. Apalagi dalam sistem demokrasi penguasa dipilih untuk menjalankan amanah rakyat, kekuasaan yang diemban adalah bentuk kepercayaan rakyat untuk dapat mengurus kebutuhan rakyat.

Bencana masamba harusnya direspon cepat oleh penguasa dengan mengirimkan bantuan terkait keperluan rakyatnya kalaupun penguasanya tidak dapat turun langsung maka harusnya ada satuan tugas atau departemen bencana untuk mengurusi daerah yang tertimpa musibah alam. Apabila tidak direspon cepat maka bisa jadi korban yang berjatuhan justru akan semakin banyak, bukan hanya karena derasnya air yang dapat mengahanyutkan tapi karena kelaparan, penyakit, kedinginan, dll. Jangan biarkan Masamba menanggung deritanya sendiri, karena Masamba adalah bagian dari negeri ini maka sudah sepatutnyalah penguasa turun tangan membantu rakyatnya.

Hal yang terpenting kedepannya adalah memikirkan agar bencana banjir tidak terulang kembali tentunya perhatian terpenting itu ada pada pejabat yang berkuasa misalnya terkait dengan penataan pemukiman penduduk yang berada di daerah bantaran sungai, kontur tanah di daerah dataran rendah, pemakaian air tanah, infrastruktur misalnya drainase, dengan menjaga hutan dan rawa agar tidak terjadi alih fungsi menjadi mall, gedung-gedung perkantoran, toko, dll, karena itu daerah resapan air harusnya tetap dijaga agar tidak beralih fungsi, hal ini karena daerah resapan air dapat mencagah terjadinya banjir, dan tentu itu semua adalah tanggung jawab penguasa dalam mengatur ketertiban rakyatnya dengan memberikan solusi yang dapat menentramkan hati rakyat dan tidak melukai keberadaan mereka sebagai manusia. Wallahu a’lam(***)

Post a Comment for "Duka Masamba : Kesabaran, Peringatan Dan Tanggung Jawab Negara"