Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bukan Subsidi, Islam Beri Solusi Tuntas

Bukan Subsidi, Islam Beri Solusi Tuntas

Di lansir dari CNBC pada 25/6/2020, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mendapati penyaluran subsidi energi kepada masyarakat tak tepat sasaran.

Kepala BKF Febrio Kacaribu menjelaskan, ada tiga jenis subsidi energi yang disalurkan kepada masyarakat, yakni subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, subsidi gas elpiji 3 kg, dan subsidi listrik.

Berdasarkan catatan BKF, subsidi yang disalurkan kepada masyarakat saat ini tidak menyasar kepada golongan 40% masyarakat miskin.

"Artinya, orang yang seharusnya mendapatkan, malah tidak mendapatkan [subsidi]. Ini tidak tepat sasaran dan memang terjadi pemborosan," kata Febrio di ruang rapat Banggar DPR, Kamis (25/6/2020).

Beredar kabar juga pemerintah mencabut subsidi elpiji 3 kilogram (kg) mulai Juli 2020 sehingga harga akan naik Rp 35 ribu.

Cek fakta Liputan6.com menelusuri klaim pemerintah cabut subsidi Elpiji 3 kg, dengan menghubungi pihak PT Pertamina (Persero) selaku badan usaha yang ditugaskan pemerintah dalam menyalurkan elpiji 3 kg bersubsidi, pada 8/6/20.

Vice President Coorporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menyatakan, Pertamina belum mendapat perintah dari pemerintah terkait pemotongan subsidi elpiji 3 kg. "Itu kewenangan pemerintah, saya belum pernah dengar, nggak ada (kebijakan pemotongan subsidi Elpiji 3 kg)," kata Fajriyah saat berbincang dengan Liputan6.com.

Memang seringkali kita mendapati berita Pemerintah akan cabut subsidi entah itu nyata atau hanya omongan belaka. Rakyat jadi korban karena khawatir jika subsidi benar dicbut biaya kehidupan makin mahal.

Subsidi menurut KBBI bermakna bantuan keuangan kepada pihak tertentu, yang umumnya dilakukan pemerintah. Subsidi juga didefinisikan sebagai mekanisme pembayaran oleh pemerintah kepada perusahaan atau rumah tangga untuk mencapai tujuan tertentu yang membuat mereka dapat memproduksi atau mengonsumsi produk dalam kuantitas lebih besar atau harga lebih murah.

Istilah subsidi sangat akrab di telinga kita. Namun, meski akrab, kata ini kurang bersahabat. Masalahnya, yang sering kita dengar justru Pemerintah akan mencabut subsidi suatu barang atau jasa dengan macam-macam dalih sehingga harganya naik. Walhasil, rakyat tidak makin sejahtera, tetapi malah makin sengsara.

Dalam sistem Kapitalisme, subsidi merupakan salah satu instrumen pengendalian tidak langsung. Grossman dalam Sistem-Sistem Ekonomi (1995) menerangkan bahwa dalam sistem Kapitalisme terdapat dua macam pengendalian ekonomi oleh pemerintah, yaitu pengendalian langsung dan tidak langsung.

Pengendalian langsung adalah kebijakan yang bekerja dengan mengabaikan mekanisme pasar, contohnya embargo perdagangan dan penetapan harga tertinggi suatu barang. Adapun pengendalian tidak langsung adalah kebijakan yang bekerja melalui mekanisme pasar, misalnya penetapan tarif serta segala macam pajak dan subsidi. (Grossman, 1995), suaraislam.id (19/1/20).

Subsidi terkait dengan persoalan peran negara dalam ekonomi, terutama dalam pelayanan publik (public service). Kapitalisme memandang subsidi dari perspekstif intervensi pemerintah atau mekanisme pasar, Islam memandang subsidi dari perspektif syariah, yaitu kapan subsidi boleh dan kapan subsidi wajib dilakukan oleh negara.

Jika subsidi diartikan sebagai bantuan keuangan yang dibayar oleh negara maka Islam mengakui adanya subsidi dalam pengertian ini. Subsidi dapat dianggap salah satu cara (uslub) yang boleh dilakukan negara (Khilafah), karena termasuk pemberian harta milik negara kepada individu rakyat yang menjadi hak Khalifah.

Namun, dalam kondisi terjadinya ketimpangan ekonomi, pemberian subsidi yang asalnya boleh ini menjadi wajib hukumnya, karena mengikuti kewajiban syariah untuk mewujudkan keseimbangan ekonomi. Hal ini karena Islam telah mewajibkan beredarnya harta di antara seluruh individu dan mencegah beredarnya harta hanya pada golongan tertentu.

Sebagaimana firma Allah SWT: “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.” (QS al-Hasyr [59] : 7).

Pada akhirnya, sebagai rakyat kita harus tunduk kepada pemerintah dengan segala kebijakan yang diambil atas dasar keyakinan bahwa pemerintah tidak akan berlaku zalim kepada rakyatnya, sekalipun jika kita berbeda pendapat.

Subsidi yang tujuan awalnya distribusi kekayaan dan peningkatan kesejahteraan justru menjadi tali pencekik leher rakyat miskin menjadi semakin miskin dan ketimpangan kekayaan semakin melebar. Wallahu a'alam. []

Oleh : Khoirotiz Zahro V, S.E. (Aktivis Muslimah Surabaya)

Post a Comment for "Bukan Subsidi, Islam Beri Solusi Tuntas"