Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rasisme Di Jantung Kapitalisme

Rasisme Di Jantung Kapitalisme

Oleh: Susi Firdausa

Dunia kembali terguncang. Di tengah upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di berbagai negara, dunia menggeliat marah menyuarakan tuntutan atas tindakan sewenang-wenang petugas polisi terhadap salah satu warga kulit hitam di Minneapolis, Amerika Serikat, hingga mengantarkan pada kematiannya. Peristiwa yang terjadi pada 25 Mei itu telah menyulut gelombang aksi demonstrasi di berbagai penjuru bumi. Tidak hanya di daratan Amerika, aksi protes telah meluas hingga ke Eropa.

Adalah George Floyd, seorang warga Minneapolis yang meninggal di TKP akibat ulah tiga polisi setempat yang menindihnya dengan lutut selama kurang lebih 8 menit. Meski pria kulit hitam itu telah beberapa kali mengatakan tidak bisa bernafas, namun polisi tidak juga menghentikan aksinya hingga Floyd meregang nyawa.

Jika mengikuti berita negeri paman sam, kasus kematian warga kulit hitam yang mengalami kekerasan petugas polisi muncul hampir setiap hari. Mayoritas korban ini tidak melakukan kesalahan berarti. Mereka mendapat perlakuan sewenang-wenang seperti itu hanya karena ras kulit mereka yang hitam.

Dilansir BBC, Jumat (29/5/2020), kasus rasisme di AS memang sudah tidak mengherankan lagi. Bahkan, rasisme di sana masih menjadi momok utama.

Di negara yang menyuarakan demokrasi dan hak asasi manusia ini, nyatanya telah mengebiri hak mendapatkan perlakuan yang sama secara hukum bagi warga kulit hitam. Rasisme di negara yang mengklaim diri sebagai polisi dunia itu pada dasarnya adalah status quo dari keterasingan domestik, dehumanisasi, kriminalisasi dan teror. Tidak ada kaitannya dengan persoalan imigrasi atau pun kebangsaan. Bahkan rasisme menjadi bagian sistemik dari perundang-undangan negara bagian atau federal yang mengkodifikasi praktek perbudakan yang tidak manusiawi menjadi hukum resmi negara. Meski praktek perbudakan manusia telah dihapuskan, tetapi hukum yang mirip dengan kode budak terus menindas warga kulit hitam di benua ini.

Kesuksesan Barack Obama memenangkan pemilu presiden dua kali periode pun tak mampu menghapus diskriminasi ini. Meski banyak kalangan merasa ada kemajuan selama masa kepemimpinannya. Saat itu, media sosial tampil memperjuangkan keinginan masyarakat kulit hitam.

Di bawah kepemimpinan Donald Trump, kembali terjadi berbagai jenis kekerasan rasisme seperti sebelumnya. Pemerintah federal pun setali tiga uang dengan presidennya, acuh tak acuh dalam memyikapi berbagai insiden yang menimpa warganya. Di masa ini, media sosial berperan meningkatkan kesadaran tentang ketidakadilan ini dan membantu menciptakan gerakan Black Lives Matter sebagai tagar atas kematian Floyd.

Bahkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Li Jian, sebagaimana dilansir AFP, Senin (1/6/2020), menyebut rasialisme terhadap minoritas di AS merupakan penyakit kronis masyarakat Amerika. Situasi terkini menunjukkan parahnya persoalan rasialisme dan kekerasan polisi di AS.

Menengok Sejarah Kejam Rasisme di Eropa

Pada kenyataannya, praktek rasisme tidak hanya terjadi di benua Amerika. Adanya perbudakan dan perilaku tak manusiawi orang-orang kulit putih terhadap kulit hitam telah lama terjadi di Eropa. Di antaranya yang paling populer adalah apa yang disebut sebagai "Human Zoo" yang populer di Eropa dan Amerika pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Human Zoo adalah pertunjukan suku asli Afrika, Asia dan Amerika Selatan di sebuah kandang, selayaknya kebun binatang. Suku-suku asli dari luar Benua Biru dengan warna kulit, budaya dan gaya hidup yang sangat berbeda telah menarik para pengusaha sirkus dari Eropa. Kebun binatang manusia merupakan etalase untuk menunjukkan klaim bahwa strata orang kulit putih lebih tinggi dan lebih beradab daripada orang kulit berwarna.

Kisah paling tragis dialami Ota Benga, salah satu anggota suku asli Kongo yang mau dibawa ke AS karena dijanjikan akan disekolahkan. Benga di tempatkan dalam sebuah kandang di Kebun Binatang Bronx bersama orang utan bernama Dojong, simpanse dan seekor burung beo. Benga pun dipaksa untuk mengikir giginya menjadi tajam selayaknya binatang buas. Benga menjadi tontonan paling populer di antara anggota suku asli lainnya. Ia pun dibawa berkeliling ke kota-kota besar lainnya. Benga dieksploitasi hingga tahun 1906. Ia tak pernah kembali lagi ke Kongo. Hingga pada 1916, Benga bunuh diri dengan sepucuk pistol dalam usia 32 tahun.

Tahun 1930-an, di Jerman terdapat lebih dari 400 kebun binatang manusia. Hal serupa ditemukan juga di Paris, London, Milan, New York dan Barcelona. Kala itu bangsa Belgia mempertunjukkan suku asli Kongo, bangsa Perancis mempertontonkan orang-orang Madagaskar, dan bangsa Belanda menampilkan orang-orang Hindia-Belanda (Indonesia). Tidak jarang, para 'manusia binatang' itu harus tewas mengenaskan karena kondisi yang buruk di kebun binatang.

Meski saat ini Human Zoo sudah tak ada lagi, namun sejarah kelam manusia yang mengekspoitasi sesamanya atas dasar rasisme terlanjur tertulis dalam lembaran hitam yang tak mungkin dihapus.

Kelahiran kapitalisme yang mendorong bangsa Eropa bergerak ke luar benua untuk mendapatkan daerah jajahan telah menjadi jalan adanya praktek rasisme keji seperti ini. Imperialisme atau penjajahan telah menjadi kendaraan para pengemban kapitalisme untuk melanggengkan ideologi tak berperikemanusiaan ini. Seiring dengan keberhasilan mereka mendapatkan daerah jajahan, maka tidak hanya kekayaan alamnya yang dikeruk dan diekslpoitasi. Tetapi hingga kepada penduduk asli pun pada akhirnya ikut dikapitalisasi demi memenuhi pundi-pundi kekayaan mereka. Hingga tak ada lagi rasa kemanusiaan yang tersisa.

Begitulah watak asli ideologi ini. Disebarkan melalui jalan penjajahan, baik secara langsung maupun atas nama bantuan ekonomi. Pengembannya tak lagi peduli pada apa pun selain kemanfaatan dan keuntungan duniawi. Keberpihakan diberikan kepada siapa saja yang bisa mendatangkan keuntungan materi. Mereka itulah para pemilik modal dan konglomerat dari kalangan borjuis di negeri tempatnya berada. Maka tidak mengherankan jika ras kulit hitam di negeri Paman Sam maupun Eropa tak mendapat tempat dan perlakuan adil. Karena bagi para kapitalis, tak ada kemanfaatan yang bisa diambil dari mereka. Sungguh sebuah ideologi yang tak manusiawi.

Jika hari ini masih ada manusia yang menjunjung tinggi peri kemanusiaan, tetapi meyakini dan mengusung kapitalisme, sungguh ironis. Karena sejatinya, kapitalisme tak pernah bisa bersanding harmonis dengan keadilan dan kemanusiaan. Saatnya ia dicampakkan. Diganti dengan ideologi yang jelas-jelas memanusiakan manusia, yakni Islam.

Wallahu 'alam.

Bondowoso, 02 Juni 2020

#GerakanMenulisUntukPeradaban
#KomunitasCintaBacaTulis
#MulaiDariDiriSendiri
#MenulisMenyadarkanUmat

Post a Comment for "Rasisme Di Jantung Kapitalisme"