Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Negara Abai, Tenaga Medis Minim Proteksi

dokter, perawat, pekerja laboratorium, hingga petugas kebersihan, terutama di rumah sakit rujukan, mereka bagaikan prajurit yang dengan segala kebisaan dan kerelaan menjadi ujung tombak dalam melawan, menahan, sekaligus membunuh virus mematikan itu.

Oleh : Norma Rahman, S.Pi (Guru SMKN 1 Pomalaa, Kolaka)

Jika virus korona (covid-19) diibaratkan musuh perang, tidak salah lagi, garda paling depan dalam peperangan itu ialah para tenaga kesehatan. Dari dokter, perawat, pekerja laboratorium, hingga petugas kebersihan, terutama di rumah sakit rujukan, mereka bagaikan prajurit yang dengan segala kebisaan dan kerelaan menjadi ujung tombak dalam melawan, menahan, sekaligus membunuh virus mematikan itu.

Sesungguhnya, dengan posisi tersebut, mereka ialah kelompok yang paling berisiko terpapar covid-19. Mengapa? Karena hanya para petugas paramedis inilah yang setiap hari, bahkan mungkin setiap menit, yang harus berinteraksi langsung dengan pasien. Sekalipun mereka memakai setelan baju pelindung, masker, dan kacamata khusus, hal itu tidak membuat risiko mereka menjadi kecil. Kerja mereka melampaui kewajaran. Ketika masyarakat diimbau untuk melakukan gerakan menjaga jarak sosial (social distancing), mereka malah tak boleh berjarak dengan pasien covid-19. Ketika masyarakat umum diminta untuk mulai bekerja dari rumah, belajar dari rumah, bahkan beribadah di rumah, itu sama sekali tidak berlaku bagi tim medis yang justru harus terus berada di rumah sakit.

Hebatnya, hampir tidak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka. Mereka tetap bekerja amat keras dan maksimal di tengah menyebarnya virus korona yang mungkin saja menyerang mereka. Pengabdian, dedikasi mereka untuk kesehatan dan keselamatan rakyat begitu nyata. Bukan kaleng-kaleng, kalau kata anak muda sekarang. Mereka bertaruh nyawa dalam arti yang sebenar-benarnya. Akan tetapi, ketiadaan suara keluhan itu yang barangkali membuat peran mereka kadang terlupakan, alih-alih masalah ini terselesaikan dengan baik, tak sedikit tenaga medis yang malah tidak mendapat tunjangan, THR perawat honorer dipotong bahkan ada yangdirumahkan karena RS daerah kesulitan dana.

Dilansir tempo.co, Anitha yang merupakan seorang perawat mengaku tak mengetahui apa alasan belum cairnya insentif. Namun menurut Anitha, para perawat sangat memerlukan insentif itu, terlebih mereka yang mendapatkan pemotongan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri. “Banyak teman-teman yang di RS swasta yang memberikan kabar enggak dapat THR,” kata Anitha. Janji tunjangan yang di berikan pemerintah yang tak kunjung cair, ternyata juga menjadi problem karna tak semua mendapatkan dana insentif tersebut. Padahal tak sedikit para tenaga medis dan relawan yang rela menjadi garda terdepan demi jiwa yang lain dan mengorbankan dirinya serta hubungan dengan keluarga yang semakin terbatasi. Waktu, tenaga dan daya ia curahkan untuk menangani pasien terdampak wabah pandemi. Parahnya, di lain sisi seorang perawat Jadi Garda Terdepan Perangi Covid-19, Gaji dan THR Perawat hononer malah di potong hingga insentif tunjangan tak diberikan atau hanya ucapan terimakasih.

Mengenai besaran biaya untuk para tenaga medis maupun besaran biaya untuk penanganan pasien itu diatur berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) HK.01.07/MENKES/238/2020 Tentang Petunjuk Teknis Klaim Penggantian Biaya Perawatan Pasien Penyakit Infeksi Emerhing Tertentu Bagi Rumah Sakit Yang Menyelenggarakan Pelayanan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Aturan lain yang mengikat terkait honor tenaga medis dan pemberian insentif telah sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.02/2019 tentang Biaya Standar Masukan Tahun 2020, dan sejalan dengan Pergub Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Biaya.

Berdasarkan aturan tersebut, dokter spesialis akan diberikan Rp 15 juta, dokter umum dan dokter gigi akan diberikan Rp 10 juta. Bidan dan perawat akan diberikan Rp 7,5 juta dan tenaga medis lainnya Rp 5 juta. Kemudian juga akan diberikan santunan kematian sebesar Rp 300 juta. Sedangkan tak sedikit para dokter yang berguguran di saat berjuang memberikan pelayanan penanganan malah minim jaminan dan perlindungan pemerintah. Banyak hal melatar belakangi ini. Salah satunya adalah kelangkaan APD (Alat Pelindung Diri) yang dipakai oleh dokter. Alhasil mereka memakai APD seadanya. Jas hujan murah berbahan kantong kresek, masker kain yang tidak standar dan tanpa memakai google, hingga mereka membuat google dari mika. Ini menjadi salah satu sebab meninggalnya mereka. Karena alat perlindungan diri tidak mereka dapati. Negara minim proteksi dan tidak memberikan jaminan fasilitas.

Pahlawan berjas putih yang terikat sumpah sejatinya telah menolong dengan sukarela. Mereka berjibaku menyelamatkan pasien, kadang kurang tidur, haus tak bisa minum, bahkan telat makan. Harusnya apresiasi luar biasa diberikan kepada dokter yang menjadi garda terakhir penanganan Covid-19, juga kepada dokter yang tetap praktek mengobati pasien non Covid, namun juga ikut terpapar corona. Tetapi faktanya, Rezim abai dan tak segan para tenaga kerja medis malah di pulangkan dan hak mereka tidak segera di tuntaskan. Tak ayal jika pada akhirnya memang banyak tenaga medis yang mengeluh, kecewa bahkan marah dengan tindak lamban rezim yang malah membuat boomerang dalam segala aspek sehingga terjadi pembangkangan rakyat untuk tidak patuh terhadap aturan penguasa yang disebabkan imbas penguasa sendiri yang acuh terhadap problematika rakyatnya.

Kembali Kepada Islam

Sistem kesehatan Islam sebagaimana sistem kehidupan Islam secara keseluruhan dipersiapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai penyelamat kehidupan umat manusia dalam kondisi apa pun, saat terjadi wabah maupun tidak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya pada Alquran Surah Al-Anbiya’ [21]: 107, yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam;” Alquran Surah As-Saba[34]: 28, yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”

Di dalam islam, jangankah gugurnya para tenaga medis, nyawa seorang muslim saja begitu berharga di mata Islam. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Berkaca pada sistem Islam di era keemasan. Betapa, Islam menjadi garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan dan ditanggung sepenuhnya oleh negara. Bahkan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena mindset pemimpin dalam islam senantiasa di sandarkan pada hukum syara’ yakni pemimpim adalah pelayan rakyat.

Tengok bagaimana kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel. Beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit untuk memberikan makanan dan asupan gizi terbaik untuk para pasien yang sakit, gizi dan jaminan di rumah sakit sangat di perhatikan dalam sistem islam, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga punya perhatian besar kepada pasien.

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahu 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan di tengah-tengah pemikiran dan perasaan yang di sandarkan pada aturan syara’. Nabi SAW bersabda bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya.

Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana. Sehingga mindset yang muncul dalam diri tenaga medis adalah mindset melayani tak semata-mata hitung-hitungan materi. Dan sehingga yang menjadi tumpuan harapan adalah semata keridhoan Allah dan amanah dalam menjalankan tugasnya. Karna negara telah menjamin kebutuhan rakyatnya begitu pula masalah kesehatan dan tenaga medis di dalamnya.

Islam memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi garda terakhir wabah dengan diberlakukannya karantina wilayah. Ini semata-mata dilakukan untuk mencegah semakin merebaknya wabah. Maka wabah tak akan sempat menjadi pandemi. Dengan terpusatnya wabah di satu wilayah saja, memudahkan para tenaga medis untuk fokus dan segera memberikan penanganan. Selain itu, Islam menjamin sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik dan berkualitas tinggi. Mindset menjaga nyawa telah menjadikan penguasa di era keemasan untuk menjaga aset tenaga medisnya. Sehingga dapat dipastikan sarana perlindungan diri seperti APD akan dipenuhi. Sehingga tak akan banyak tenaga medis yang dikorbankan.

Sungguh tenaga medis yang menjadi garda terdepan berdiri tegak menangani wabah yang tak ayal nyawa menjadi taruhannya, adalah suatu tindak mulia layaknya mujahid yang dengan gagah memerangi musuh dan melindungi tertumpahnya jiwa dari yang lainnya, maka sudah selayaknya kita memuliakan dan memberi penghargaan atas korban & jasa nya. Dan ketika mereka berhasil menyelamatkan nyawa manusia, kita pun mendapatkan pahalanya, tanpa mengurangi pahala mereka. Wallahu a’lam.

Post a Comment for "Negara Abai, Tenaga Medis Minim Proteksi"