Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DEMO AMERIKA, KEVAKUMAN HEGEMONI GLOBAL DAN 'PERSIAPAN' TEGAKNYA KHILAFAH

Kegagalan peradaban Kapitalisme ini, menjadikan dunia khususnya Umat Islam berfikir ulang tentang masa depan dan kebangkitannya, yang selama ini bersandar dan digantungkan pada harapan palsu demokrasi.

Oleh : Ahmad Khozinudin
Aktivis, Anggota Hizbut Tahrir

Perkembangan demonstrasi anti rasial di Amerika, telah sampai pada babak baru. Babak, yang mengelupas dan menggores kulit palsu demokrasi dan HAM, ekspor Amerika yang paling mematikan.

Dikabarkan, dua petugas polisi Buffalo, New York, Amerika Serikat (AS) mendorong seorang pria tua hingga jatuh ke tanah selama demo menuntut keadilan untuk George Floyd. Pria 75 tahun itu jatuh hingga kepalanya berdarah.

Polisi berdalih pria tua itu tersandung dan jatuh. Namun, rekaman video yang beredar viral menunjukkan korban didorong secara kasar oleh kedua petugas.

Menurut laporan AP, Jumat (5/6/2020), sudah ada 13 orang tewas dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap selama protes menentang kebrutalan polisi dan rasisme. Protes besar itu telah memberi jalan bagi penjarahan, pembakaran, dan bentrokan yang meluas antara polisi dan demonstran.

Mantan Menhan Amerika, Jim Mattis, menyebut pelibatan militer dalam unjuk rasa itu mengingatkan dia soal perbedaan Nazi dan Amerika pada Perang Dunia II.

"Slogan Nazi untuk mengalahkan kita adalah 'Pecah Belah dan Taklukkan', sementara Amerika memiliki slogan 'Di Balik Persatuan ada Kekuatan'," ujar Mattis sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 4 Juni 2020.

Pernyataan ini disampaikan oleh Jim, karena sebelumnya Trump menyerukan kepada militer di negara bagian agar dikerahkan untuk menundukkan demonstran.

Bahkan, Kepala Kepolisian Houston, Texas, Art Acevedo, sebelumnya juga meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tutup mulut jika tak memiliki pernyataan konstruktif yang dapat menenangkan keadaan dan meredam demonstrasi anti-rasisme yang belakangan terjadi dalam sepekan terakhir.

Peristiwa ini sangat ironi, ditengah kampanye global AS tentang kebebasan berpendapat, Demokrasi dan HAM. Negara kampium Demokrasi ini tak mampu menunjukkan teladan atas nilai-nilai yang selama ini dianggap sakral dan dipaksakan Amerika menjadi nilai-nilai universal.

Amerika, tak juga bisa lepas dari mengadopsi cara-cara kekerasan, otoriter, jauh dari nilai-nilai demokrasi dan HAM yang dipasarkannya. Demo Solidaritas untuk Floyd ini, telah membuka topeng kemunafikan Amerika, Demokrasi dan HAM yang selama ini didewa-dewakan.

Satu aib sangat memalukan bagi Amerika. Demontrasi yang terjadi karena sebab rasis, Penanganan demontrasi yang otoriter dan jauh dari sifat humanis. Padahal, Amerika adalah negara kampium Demokrasi.

Wajar saja, Amerika saat ini jadi bahan olok-olok sejumlah Negara. Media Israel, Jerusalem Post, memberitakan, sejumlah negara tampak disebut 'happy' dengan kejadian tersebut.

Pada hari Senin (1/6/2020), misalnya, media Iran banyak memberitakan sejumlah kisah yang menyoroti "keruntuhan" AS dengan mengutip sumber-sumber dari Rusia.

AS menjadi negara paling kuat di dunia setelah Uni Soviet dan negara-negara sekutunya hancur berantakan pada tahun 1989. Rusia, China, Iran, dan Turki berusaha untuk bekerja sama lebih erat dan sering duduk di forum global yang tidak dihadiri AS.

Disebutkan pula, demi mengoordinasikan upaya melawan AS, negara-negara ini memiliki media pemerintah yang didanai dengan baik, seperti RT, TRT, Tasnim and Fars News Iran dan sejumlah media Tiongkok.

Perseteruan Ideologi yang Abadi

Kejadian demontrasi besar-besaran di Amerika, mau tidak mau membuka peluang Negara pesaing dari ideologi sosialisme komunisme untuk kembali eksis, berusaha mengambil alih kepemimpinan global dari Amerika dan barat.

Rusia dan China adalah representasi Negara inti yang berhaluan Sosialis Komunis, namun dengan beberapa inovasi pemikiran guna menjawab kegagalan ideologi sosialisme menghadapi masalah ekonomi, yang menyebabkan Uni Soviet runtuh pada tahun 1991.

Adapun Iran dan Turki, adalah Negara satelit yang akan mengikuti orbit Negara pesaing Amerika sepanjang sejalan dengan kepentingan nasionalnya. Dalam isu "kepemimpinan" dunia (baca : Hegemoni), Iran dan Turki memiliki kepentingan yang lebih sejalan dengan Rusia dan China, ketimbang Amerika.

Hal inilah, yang mendorong Iran dan Rusia membantu penuh rezim penjagal Basar Asyad, yang membantai kaum muslimin di Suriah. Sementara Turki, hanya diam menyimak, sambil mengamati adakah invasi militer Rusia dan Iran mengganggu suku Kurdi. Jika tidak, Turki akan khusuk mendiamkan kaum muslimin di Suriah di bombardir Rusia dan Iran, termasuk dijagal oleh milisi Syiah yang didukung penuh rezim Asad dan Iran.

Amerika, dalam kasus Suriah satu pandangan dengan Rusia dan China Tentang haramnya kemunculan kekuasaan Islam yang diperjuangkan para Mujahidin di Suriah. Namun, Amerika juga tak mau Rusia mengambil kendali penuh atas Suriah. Karenanya, Amerika bersikap mendua.

Satu sisi, seolah mengecam rezim Bashar Assad dan memberi dukungan kepada kaum revolusioner di Suriah. Disisi yang lain, Amerika membiarkan invasi militer Suriah terhadap rakyatnya sendiri yang didukung Rusia dan China, membantai rakyat, membantai kaum muslimin di Suriah.

Demonstrasi di Amerika, sengaja dimanfaatkan oleh negara-negara berhaluan idelogi Sosialis dan Negara satelit yang mengekornya, untuk mencuri dan mengambil alih kendali hegemoni Amerika atas dunia. Apalagi, jika demo ini berujung Krisis politik dan Pemakzulan Presiden Trump.

Krisis politik internal Amerika, akan menguras energi Amerika untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dalam negeri, dan akan kehilangan sejumlah energi dan skala prioritas atas isu kepemimpinan global.

Apalagi, situasi global yang sedang terjadi Pandemi, menyebabkan Amerika menghadapi krisis internal yang kompleks. Persoalan politik dan persoalan Pandemi.
Krisis politik dan persoalan Pandemi ini sudah pasti berimbas pada masalah Ekonomi Amerika.

Saat ini, rasio utang Amerika terhadap PDB mencapai hampir 80% bahkan sebelum pandemi virus Corona melanda. Rasio itu dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata historis.

Sekarang, utang nasional AS meledak karena Washington dipaksa untuk menyelamatkan ekonomi AS dari guncangan terbesar yang pernah ada. Departemen Keuangan AS mengatakan berencana akan meminjam sekitar US$ 3 triliun atau setara Rp 45 kuadriliun pada kuartal ini saja. Angka itu hampir enam kali lipat dari rekor utang AS sebelumnya pada 2008.

Jika masalah pandemi, krisis politik tidak segera diatasi, bisa saja Amerika berpotensi menjadi Default State. Satu diksi yang mustahil terjadi di era sebelumnya, namun sangat potensial terjadi di era Trump.

Nampaknya, situasi Amerika serikat yang sulit inilah yang dibaca sebagai peluang oleh Rusia, China dan sekutunya, untuk membuat koalisi bersama dalam rangka merebut "tahta kerajaan dunia" dari kepemimpinan Amerika dan barat, ke tangan Kendali Negara berhaluan sosialisme.

Potensi Kemunculan Khilafah

Jauh sebelum terjadinya Pandemi, termasuk krisis sosial dan politik di Amerika akibat demontrasi Floyd, pada bulan Desember tahun 2004, National Intelelligence Council’s (NIC) pernah merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”.

Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020:

1. Davod World: Digambarkan bahwa 15 tahun ke depan Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.

2. Pax Americana: Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax Americana-nya.

3. A New Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat.

4. Cycle of Fear (Munculnya lingkaran ketakutan). Di dalam skenario ini, respon agresif pada ancaman teroris mengarah pada pelanggaran atas aturan dan sistem keamanan yang berlaku.

Akibatnya, akan lahir Dunia ‘Orwellian’ ketika pada masa depan manusia menjadi budak bagi satu dari tiga negara otoriter.


Menariknya, jika dikaitkan dengan situasi terkini yakni krisis politik global dan Pandemi global, maka skenario kemunculan Khilafah menjadi semakin rasional terjadi pada era saat ini.

Ada beberapa sebab yang menyebabkan Khilafah semakin potensial tegak dalam waktu dekat ini :

Pertama, dunia telah menyaksikan betapa peradaban barat Amerika yang bersandar pada idelogi Kapitalisme tak mampu mengatasi persoalan-persoalan Pandemi. Skenario pencegahan penularan dan Penanganan Pandemi yang egoistik, berbasis kepentingan nasionalistik, menyebabkan negara negara dunia saling mengisolasi diri dari Negara lainnya, dan berfokus menyelesaikan persoalan dalam negeri.

Padahal, Pandemi yang bersifat global tak mungkin dapat tuntas ditangani dengan perspektif nasional. WHO yang dianggap mampu mengkonsolidasi kepentingan dunia untuk melawan Pandemi secara global, tak mampu berbuat apa-apa.

Terakhir, Trump bahkan menyetop anggaran Amerika untuk WHO karena Anasir tudingan WHO bekerja untuk kepentingan China.

Kegagalan peradaban Kapitalisme ini, menjadikan dunia khususnya Umat Islam berfikir ulang tentang masa depan dan kebangkitannya, yang selama ini bersandar dan digantungkan pada harapan palsu demokrasi.

Umat Islam juga tak mungkin melirik Ideologi sosialisme, bukan saja karena sejarah kelam pembantaian umat manusia oleh ideologi sosialisme komunisme, keruntuhan Uni Soviet, namun saat ini Negara berhaluan sosialisme komunisme, baik Rusia maupun China terus melakukan kezaliman dan pembantaian kepada umat Islam.

Tragedi berdarah di kamp konsentrasi Uighur, juga serangan brutal pesawat-pesawat Rusia yang diarahkan kepada kaum muslimin di Suriah, menjadi bukti nyata bahwa sosialisme komunisme bukan saja memiliki cacat sejarah, namun juga karakter bawaan yang cacat, yakni anti tuhan dan memandang rendah rasa kemanusiaan.

Kedua, gerakan politik yang secara spesifik memiliki visi untuk kebangkitan Islam, mengembalikan kehidupan Islam dengan berjuang menegakkan Khilafah, semakin masif dan semakin memperoleh tempat di hati umat.

Gerakan ini, perlahan mampu bermigrasi dari gerakan kelompok politik (Hizbut Tahrir), meluas menjadi gerakan keumatan. Khilafah bukan lagi hanya diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir, tetapi juga dikehendaki dan diperjuangkan oleh seluruh umat.

Ketiga, Pandemi global dan krisis politik di Amerika, telah menyebabkan dunia terisolasi dan masing-masing negara berfokus pada masalah internal menghadapi masalah pandemi dan implikasi Pandemi yakni masalah ekonomi.

Keadaan ini menyebabkan konstelasi politik global mengalami kevakuman. Kondisi "Vakumnya" kepemimpinan global ini, dimanfaatkan Rusia dan China untuk mengambil alih peran Amerika atas Hegemoni dunia.

Sementara, bagi kaum pergerakan Islam, kondisi ini bisa dimaksimalkan untuk persiapan Penegakan khilafah, melalui penyadaran kepada umat, sekaligus mencari pertolongan (Nusroh) dari pihak-pihak yang memiliki kekuatan ditengah-tengah umat.

Perjuangan penegakan khilafah, bisa berkonsentrasi pada titik-titik penubuhan Khilafah, berkonsentrasi mengkonsolidasi dukungan Ahlun Nusroh, tanpa intervensi dan gangguan Barat dan Amerika di situasi pandemi ini.

Sampai pada tahapan persiapan yang memadai, sampai pada keyakinan akan perlindungan kekuasaan dan penerapan Islam secara kaffah dalam satu titik disuatu wilayah, sampai terjadinya baiat kepada Khalifah, maka persoalan pengumuman kepada dunia tentang telah terjadi Penegakan khilafah, telah kembali Daulah Khilafah ala Minhajin Nubuwah, persoalannya hanya tinggal menunggu waktu saja, tidak lama lagi, InsyaAllah. [].

Post a Comment for "DEMO AMERIKA, KEVAKUMAN HEGEMONI GLOBAL DAN 'PERSIAPAN' TEGAKNYA KHILAFAH"