Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

AGENDA BUSUK DIBALIK NEW NORMAL

Jokowi yang mengatakan, rakyat harus mulai membiasakan diri hidup berdamai dengan Corona ternyata bukan hisapan jempol belaka, meskipun rakyat sangat berharap bahwa itu hanyalah lelucon presiden sebagaimana lelucon-lelucon lainnya.

Oleh: Mu’adz Al Hafidz
(Analis Geopolitik Sekolah Peradaban)

“New normal”, biasa juga disebut “new normal life” bukan lagi sekedar wacana. Psikolog Yuli Budirahayu mengatakan, “new normal” adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, namun dengan menerapkan protokol kesehatan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19. (dara.co.id/26/5).

Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan protokol pencegahan bagi pekerja dan aparatur sipil negara (ASN) yang mesti bekerja di kantor atau lokasi kerja lainnya, untuk mencegah penularan virus corona pada situasi normal baru (new normal) pandemi Covid-19.

Protokol tersebut tertuang dalam sejumlah surat edaran, seperti  Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020, Surat Edaran Nomor HK.02.01/Menkes/334/2020, dan Surat Edaran Nomor HK.02.01/Menkes/335/2020.

"Tempat kerja sebagai lokus interaksi dan berkumpulnya orang merupakan faktor risiko yang perlu diantisipasi penularannya," katanya di Jakarta, Sabtu (23/5), seperti dikutip dari laman resmi Kemenkes. (CNNIndonesia/26/5).

Protokoler pencegahan Covid 19 untuk kondisi New Normal akan diawasi langsung aparat TNI dan Polri untuk menjamin bahwa rakyat betul-betul telah menjalankannya sebagaimana seharusnya.

Rencananya pendisiplinan ini awalnya akan diadakan di empat provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Gorontalo.

“Pada tahap pertama aparat akan melaksanakan pendisiplinan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Gorontalo. Mudah-mudahan tahap pertama bisa berjalan baik akan kami atur pusat perbelanjaan yang kapasitas tadinya 1.000 orang akan kami izinkan 500 orang saja dan kami awasi,” kata Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari Republika.co.id, Selasa (26/5).

Statement Jokowi yang mengatakan, rakyat harus mulai membiasakan diri hidup berdamai dengan Corona ternyata bukan hisapan jempol belaka, meskipun rakyat sangat berharap bahwa itu hanyalah lelucon presiden sebagaimana lelucon-lelucon lainnya.

Mungkin sebagian orang telah memprediksikan kondisi ini akan terjadi, melihat bagaimana kacau balaunya kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah dalam penanganan pandemi ini. Dari awal terlihat rezim ini tidak siap dan mempersiapkan diri melawan Corona, hingga pandemi ini hadir, semuanya panik, dan malah sibuk mengamankan kepentingan masing-masing.

Dengan memberlakukan kondisi new normal, secara tidak langsung pemerintah mengumumkan kekalahannya dalam menghadapi pandemi ini. Negara tak memiliki “nafas” yang panjang dalam bertahan dari serangan Corona.

Dengan lumpuhnya aktivitas ekonomi, tentunya membawa beban yang sangat berat bagi rezim ini. Kita bisa lihat dari data statistik sebagaimana yang dikatakan Kepala BPS Suhariyanto mengatakan secara kuartalan atau dibandingkan dengan kuartal IV/2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 2,41 persen. (Bisnis.com/5/5)

Seruan untuk memberlakukan New Normal, ternyata bukan inisiatif dari pemerintah Indonesia sendiri. PBB telah mencanangkan konsep “new normal” sebagai formula dan peta jalan bagi solusi persoalan dunia hari ini.

Dimuat dalam lamannya melalui artikel tertanggal 27 April 2020 bertajuk “A New Normal: UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after Covid-19” (New Normal: Peta jalan yang diletakkan PBB bagi peningkatan ekonomi dan penyelamatan lapangan pekerjaan setelah Covid-19).

Dinyatakan, “Kondisi ‘normal yang dulu’ tidak akan pernah kembali, sehingga pemerintah harus bertindak menciptakan ekonomi baru dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak”

Bahkan, “new normal” telah ditetapkan PBB sebagai kerangka kerja dunia, dan dipromosikan untuk suatu kehidupan baru yang lebih baik.

Sebagaimana dinyatakan sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres. “Kerangka kerja PBB menanggapi langsung persoalan sosial-ekonomi akibat Covid-19: Tanggung jawab bersama, solidaritas global, dan tindakan mendesak bagi orang-orang yang membutuhkan, mengimbau agar melindungi pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian untuk menggerakkan pemulihan masyarakat dan ekonomi yang aman sesegera mungkin secara berkelanjutan, setara gender, dan netral karbon –yang lebih baik daripada “normal yang dulu”.(AfricaRenewalnews/27/4).

Sejalan dengan fungsi PBB, World Health Organization (WHO), underbow PBB di bidang kesehatan, telah memberikan dukungan resmi melalui News Release 15 Mei 2020 bertajuk “Local epidemiology should guide focused action in ‘new normal’ Covid-19 world”.

Dinyatakan, “Di tengah peningkatan kasus Covid-19 sementara negara-negara di wilayah WHO Asia Tenggara secara bertahap melonggarkan penguncian (lockdown), maka WHO hari ini mengatakan bahwa penilaian yang cermat terhadap epidemiologi lokal harus menjadi panduan tindakan dalam memerangi virus di masa yang akan datang.”(who.int/15/05).

Dengan pemberlakuan New Normal, kita dapat menarik satu kesimpulan, bahwa Pemerintah Indonesia, bahkan Dunia telah menyerah menghadapi Corona. Demi menyelamatkan ekonomi yang porak-poranda diterjang Corona, nyawa rakyat pun tak mengapa jadi tumbal.

Syaikh Al ‘Aaalim Taqiyuddin An Nabhani rahimahullah, dalam tulisannya berjudul Al Hadharah Al Islamiyah, kitab An Nizhamul Islam, “Oleh karena itu tidak akan ditemukan dalam peradaban Barat nilai moral, atau nilai spiritual, atau nilai kemanusiaan, kecuali nilai materi saja”.

Inilah wajah Kapitalisme yang sesungguhnya, tidak akan penah kita jumpai kebaikan didalamnya selain kepentingan ekonomi. Kerakusan akan materi dan harta benda jadi karakter utama Kapitalisme.

New normal diberlakukan, pun mengenyampingkan pendapat sains. Segala sesuatu yang menghalangi kepentingan ekonomi akan diabaikan. Hal ini telah membuat kekhawatiran para ahli memuncak, khususnya ahli kesehatan. Seperti Anthony S Fauci, dokter ahli penyakit menular dan direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease.

Ia menentang langkah Trump yang membuka kembali sekolah dan ekonomi saat wabah sedang mengganas, dan menyatakan kepada sejumlah gubernur negara bagian, “Ada risiko nyata bahwa Anda akan memicu wabah yang mungkin tidak dapat anda kendalikan”.(FinancialExpress.com).

Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia atau IDI, Mohammad Adib Khumaidi, berpendapat bahwa saat ini terlalu cepat untuk mengambil langkah new normal. Untuk masuk new normal, pemerintah harus memiliki indikator dan kriteria berbasis data penanganan corona secara medis dan epidemiologis.

Inilah karakter busuk Kapitalisme yang juga menjadi ciri dari New Normal. Jadi, new normal tidak lain hanyalah topeng Kapitalisme dengan karakter busuknya yang membiarkan pandemi meluas (herd immunity), demi memuaskan kerakusan materi (terbebas dari tekanan resesi ekonomi).

Artinya, negara semakin tidak peduli terhadap kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat. Di saat yang bersamaan setiap orang harus berjuang lebih berat lagi mengurusi kehidupannya, berhadapan dengan kerakusan korporasi dan agenda hegemoni yang difasilitasi negara di tengah keganasan wabah.

Hanya kepada Islamlah umat manusia dapat berharap untuk terbebas dari ancaman pandemi Covid 19, sebab Islam menjadikan nyawa manusia sebagai sesuatu yang sangat berharga, yang wajib dilindungi oleh negara. Bukan sebagai komoditas yang berharap keuntungan materi dari pelayanan kesehatan.

Olehnya itu pelayanan kesehatan adalah sesuatu yang gratis, tak ada beban biaya bagi tiap rakyat yang menjalani pengobatan. “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Lebih jauh, bahwa keberhasilan Islam dalam memimpin peradaban dunia telah terukir dengan tinta emas sejarah umat manusia.

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”.(ibid)

Pada gilirannya, peradaban Islam (Khilafah) akan membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah SWT.

Post a Comment for "AGENDA BUSUK DIBALIK NEW NORMAL"