Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ada Apa Dengan The New Normal Life ?

Penyebaran infeksi ke kelompok berisiko tinggi tak bisa dibatasi. Beberapa orang yang terinfeksi akan mengembangkan penyakit sangat parah, dan sebagian akan mati,” ungkap Paul Hunter, seorang profesor kedokteran

Penulis : Ummu Al (pengamat kebijakan publik)

Sebuah tag line baru merepresentasikan himbauan "berdamai dengan corona" yakni the new normal life, masyarakat harus tetap produktif di tengah wabah covid19 dengan mematuhi sejumlah protokol kesehatan, misalnya mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.  Himbauan ini diduga mengarah pada kebijakan herd immunity oleh sejumlah pihak.

Meskipun secara eksplisit pemerintah membantah bahwa "The New Normal Life" tidak mengarahkan pada herd immunity, fakta di lapangan tidak menunjukkan demikian. Pemerintah tidak melakukan sejumlah antisipasi, diantaranya bagaimana jika terjadi lonjakan kasus yang signifikan. Perlu terlebih dahulu disiapkan sistem kesehatan yang mumpuni, baik rumah sakitnya maupun tim di lapangan yang mendeteksi, men tracking kontak ODP maupun PDP, sistem karantina hingga pelaporan real time.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai rencana pengurangan atau pelonggaran aturan pembatasan sosial yang dibungkus dalam bentuk protokol new normal adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kelompok bisnis, tanpa mempertimbangkan sisi kesehatan masyarakat.

Pemerintah hanya mendengarkan sekelompok orang dari pihak bisnis. Pemerintah terburu-buru jika aturan itu dikeluarkan dalam waktu cepat," kata Esther (BBC Indonesia)

/ Antara Nyawa Dan Bisnis /

Rencana Pelonggaran Pembatasan Sosial oleh pemerintah mengindikasikan bahwa kepentingan bisnis mendominasi dalam pengelolaan urusan rakyat. Sebelumnya WHO telah mengeluarkan sejumlah protokol jika ingin melakukan transisi menuju the new normal atau tata kehidupan baru sebelum vaksin covid19 ditemukan. "bahwa kita memasuki periode di mana kita mungkin perlu menyesuaikan langkah dengan cepat," kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge dikutip dari dokumen resmi di situs WHO, Senin (18/5/2020).

Pelonggaran pembatasan, menurut WHO, harus dilakukan secara bertahap dan otoritas terkait diminta terus mengevaluasi kebijakannya dan harus dipastikan pemerintah telah mampu mengendalikan transmisi virus di wilayah dengan kerentanan tinggi.

Syarat lainnya, kapasitas sistem kesehatan masyarakat , diantaranya rumah sakit, harus tersedia untuk mengidentifikasi, menguji, hingga mengkarantina.

Fakta di lapangan menunjukkan beberapa kebijakan telah memicu kegiatan masyarakat bergeliat dan semakin ramai apalagi menjelang idul fitri. Misalnya transportasi yang diperbolehkan beroperasi kembali, diperbolehkan mudik lokal, sejumlah mall dan pasar yang mulai buka dan sejumlah kegiatan bisnis lainnya.
Sementara jumlah reagen sangat minim ketersediannya tidak mencapai 10 persen total rakyat Indonesia sebesar 270juta.
Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan sebagian laboratorium pemeriksaan virus corona menghentikan sementara pengujian spesimen karena kehabisan senyawa kimia reagen (CNN Indonesia.nasional)

/ Dituding Sebagai Herd Immunity /

Peneliti epidemiologi dari Eijkman -Oxford Clinical Research Unit Henry Surendra mengatakan jika yang dituju pemerintah dengan melakukan pengurangan pembatasan sosial adalah menciptakan herd immunity , maka rencana itu sangat berbahaya.
Dibutuhkan sekitar 70% populasi yang berarti sekitar 190 juta orang Indonesia untuk terinfeksi baru herd imunity tercapai. Ini berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa," katanya (BBC Indonesia).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk lansia di Indonesia berkisar 10 persen. Dengan asumsi tersebut pemodelan kelompok rentan yang harus mendapat penanganan khusus mencapai 18,2 juta jiwa. Jumlah tersebut belum ditambah kelompok rentan lainnya yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, kanker, HIV, dll. Sementara jika dihitung dari persentase kematian akibat COVID-19 sebesar 8,9 persen, maka Indonesia akan kehilangan sekitar 16 juta jiwa dari total 182 juta jiwa yang terinfeksi (tirto.id)

Kekebalan alamiah tidak bisa diharapkan untuk menghadapi wabah covid19. Kekebalan alamiah bisa didapatkan melalui vaksinasi sementara vaksin untuk covid 19 belum ditemukan. Selain itu kekebalan kelompok (herd immunity) didapat jika mayoritas populasi telah mendapatkan paparan virus dan kebal setelah imun mengalahkan virus covid19 dan kemudian merekam ciri-ciri virus tersebut lalu terbentuk kekebalan. Seperti halnya flu Spanyol pada 1918. Tetapi bayangkan berapa juta korban yang harus jatuh? Terutama pada kelompok-kelompok beresiko tinggi?

Penyebaran infeksi ke kelompok berisiko tinggi tak bisa dibatasi. Beberapa orang yang terinfeksi akan mengembangkan penyakit sangat parah, dan sebagian akan mati,” ungkap Paul Hunter, seorang profesor kedokteran dari Universitas East Anglia, Inggris.
Sehingga kebijakan the new life itu diduga langkah awal menuju herd immunity

/ Solusi Islam Menghadapi Wabah /

Sebagai negara mayoritas muslim semestinya negara menggali solusi yang pernah dijalankan oleh islam dalam menghadapi wabah. Sejak masa Rasululullah telah terjadi wabah yaitu kusta yang menular lagi mematikan dan upaya yang dilakukan Rasulullah adalah karantina. Rasulullah bersabda

pada masa Rasulullah ﷺ. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah ﷺ. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah ﷺ. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari). Prinsip kehati-hatian menghadapi wabah juga dilakukan. Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah bersabda,
"Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari). Metode penanganan wabah yang dicontohkan oleh Rasulullah juga diterapkan oleh para Khalifah setelahnya.

Diriwayatkan, Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Khalifah (pemimpin) wajib mengambil peran sentral didalam penanganan wabah. Diantaranya Penanganan secara promotif (pencegahan) yaitu mendorong terciptanya pola hidup sehat dan menjaga kebersihan. Pemimpin mengambil tanggung jawab penuh saat wabah terjadi dengan mengoptimalkan segala sumber daya yang dimiliki negara, fokus pada wabah, berusaha keras menyelamatkan nyawa rakyat. Memastikan bahwa sarana (rumah sakit, tenaga medis dan laboratorium) untuk menangani korban wabah tersedia dan difasilitasi penuh.

Metode penanganan wabah yang telah dijalankan islam ribuan tahun lalu terbukti efektif mempercepat berakhirnya wabah. Seorang pemimpin yang lalai akan mendapatkan murka Alloh. Rasulullah bersabda,
مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ

Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat).
(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). []
Wallahualam bisshowab

Post a Comment for "Ada Apa Dengan The New Normal Life ?"