The New Normal


Entah apa yang merasuki pemerintah sehingga begitu gemar menggunakan istilah-istilah yang susah dipahami rakyat banyak.

Setelah rakyat dibikin bingung oleh istilah social distancing dan lockdown, kini mereka harus memeras otaknya lagi untuk memahami istilah The New Normal.

Makhluk macam apalagi itu?

Pemerintah lupa kalau rakyat Indonesia itu bukan cuma anak Jaksel aja. Ada ibu saya yang berbahasa Indonesia saja masih belepotan.

Jadi, berdamailah dengan keadaan rakyat. Pakai bahasa yang dimengerti oleh mereka. Bukankah berdamai dengan corona saja bisa?

Apa susahnya menyebut hidup baru? Ibu saya dijamin paham dengan istilah ini. Potensi rakyat untuk taat aturan pun sangat besar. Karena terkadang rakyat tidak taat itu karena meraka tidak paham aturan.

Lagian, apa yang disebut the new normal itu faktanya tidak ada yang benar-benar baru. Selama ini masyarakat sudah menjalaninya. Bukan karena biasa tapi terpaksa karena keadaan.

Mereka terpaksa menjalani hidup normal karena ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Berharap sama pemerintah, percuma. Mereka terlanjur digolongkan ke dalam kelompok masyarakat mampu.

Jadi, satu-satunya pilihan hidup berdampingan dengan corona sesuai anjuran Mas Presiden. Siapa tahu muncul kekebalan alami dalam tubuh dari paparan corona, kan? Orang pintar menyebutnya herd immunity.

Pemerintah pun kita perhatikan lebih mementingkan ekonomi negara dibanding kehidupan sosial dan kesehatan rakyatnya. Jadi, jangan salahkan rakyat kalau mereka memperjuangkan kehidupan ekonominya.

Kalo negara sudah tidak peduli, masa rakyat harus berpangku tangan?

Kalau nanti ada lonjakan pasien positif corona atau lonjakan angka kematian akibat corona, tinggal salahkan saja pemerintah. Karena itu semua terjadi karena pemerintah tidak becus menangkal pandemi.

Tamat

0 Response to "The New Normal"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel