Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pandemi Dan Fenomena Bunuh Diri

 
Penulis : Ahmad Sastra

Karena imbas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di saat terjadi pandemic Covid-19 telah menyebabkan korban bunuh diri dengan cara gantung diri. Kali ini seorang buruh berinisial AB (30) nekat bunuh diri dengan cara gantung diri. Insiden tersebut berlangsung di kediaman korban, Kampung Santri RT 17 / RW 04 Desa Kemiri, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. (Wartakotalive.Com, Tangerang,4/5/20)

Perilaku bunuh diri adalah tercela dan dilarang oleh Allah, meskipun karena kelaparan sekalipun. Jika sampai rakyat bunuh diri karena kelaparan, maka pemerintahlah yang akan lebih berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Satu nyawa rakyat adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di akherat, apalagi sampai ratusan atau ribuan nyawa.

Ironisnya adalah disaat ada banyak rakyat Indonesia bunuh diri karena kelaparan akibat pandemi, sementara ada pejabat yang kaya raya menikmati dunianya secara berlebih-lebihan. Nyawa rakyat kecil adalah amanah yang sangat berat bagi setiap pemerintahan. Betapa murah harga nyawa rakyat Indonesia dalam sistem kapitalisme demokrasi sekuler ini.

Betapa murahnya harga nyawa di tengah serangan wabah coronavirus ini. Keterlambatan oleh pemerintah seperti di Itali berakibat sangat fatal, ribuan nyawa melayang, bahkan sehari sampai mencapi 600 jiwa lebih. Jika pemerintah mengabaikan dan menyepelekan wabah corona, berarti menganggap nyawa rakyat itu tidak ada harganya.

Apa yang dilakukan AB diatas hanyalah salah satu kasus bunuh diri akibat pandemi Covid-19. Masih banyak kasus masyarakat yang bunuh diri karena kesulitan ekonomi saat pandemi. Bahkan bukan hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara juga terjadi kasus bunuh diri karena depresi menghadapi wabah corona ini.

Bagi masyarakat pencemas disertai ketakutan, janganlah dianggap biasa di masa pendemi ini. Kecemasan akan disertai dengan keluhan ketidaknyamanan pada seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jika ingin periksa ada rasa takut terpapar virus di rumah sakit. Kondisi psikologis semacam ini bisa mengakibatkan depresi.

Bagaimana kecemasan tidak memberat menjadi depresi jika pandemi ini berdampak sangat luas. Seperti kehilangan pekerjaan, tidak ada alternatif pekerjaan di rumah yang menghasilkan uang. Sementara anak-anak belajar dari rumah perlu akses internet (kuota) dan menjaga kenyamanan anak tinggal di rumah perlu biaya. Belum lagi tagihan uang kos/kontrak, cicilan rumah, cicilan motor/mobil dan cicilan lain tidak serta merta bisa ditunda.

Beberapa golongan masyarakat yang masih bisa makan sampai beberapa bulan ke depan, bukan berarti bebas dari kecemasan serta ketakutan akan ketidakpastian dengan tetap tinggal di rumah sambil memantau perkembangan situasi pandemi, dan lain-lain dari media elektronik. Ketika kegiatan yang menyenangkan di luar rumah terhenti akan membuat masyarakat mulai galau, bingung sampai kapankah pandemi ini berakhir? Tidak satu pun ada yang dapat memprediksi.

Inilah negara kapitalisme sekuler yang menyebabkan orang kaya semakin kaya dan yang miskin makin dijerak kemiskinan. Orang miskin bukan hanya dijerat kemiskinan, namun juga dihisap darahnya oleh sistem kapitalisme hingga mati kering tanpa darah. Kapitalisme bahwa digambar seperti dua orang gemuk yang sedang memeras orang miskin hingga kering sebagaimana dua orang memeras pakaian basah.

Kapitalisme sekuler adalah sistem zolim yang rusak dan merusak. Nyawa rakyat tidak memiliki harga sama sekali di hadapan sistem ini. Kapitalisme bahkan menjajah, menjarah dan merampok sumber daya alam negeri-negeri berkembang. Atas nama investasi, privatisasi hingga pemberikan pinjaman berbunga menjadi alat penjajahan kapitalisme ini.

Kapitalisme dan komunisme adalah ideology setan yang harus ditolak dan dibuang dari peradaban manusia dan digantikan dengan ideologi Islam. Islam jika diterapkan secara kaffah akan membawa rahmat bagi alam semesta, ini adalah janji Allah yang mengutus Rasulullah untuk menyampaikan dan menerapkan risalah Islam.

Dalam sejarah kepemimpinan Islam, banyak pemimpin teladan, salah satunya adalah Said bin Amir al Jumhi. Dikisahkan suatu ketika delegasi pemerintah daerah Himsh datang menghadap Khalifah Umar. Himsh adalah sebuah wilayah di Syam yang masuk dalam pengawasan pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab. Gubernur Himsh bernama Said bin Amir al Jumhi. Khalifah Umar terkenal sifah pemurahnya, beliau selalu peduli dengan kaum fakir miskin yang menjadi rakyatnya. Delegasi itu diminta memberikan daftar orang-orang yang tergolong fakir miskin di daerahnya.

Diserahkanlah oleh delegasi itu kepada Khalifah Umar sebuah lembaran yang berisi daftar nama-nama orang yang tergolong fakir miskin. Yang menarik adalah terdaftarnya nama Said bin Amir al Jumhi sebagai orang miskin, padahal dia adalah gubernur daerah itu. Karena hampir tak percaya, maka Umar bertanya kepada delegasi siap gerangan Said dalam daftar tadi. Dijawab dialah Said bin Amir al Jumhi sang gubernur. “ Gubernur kalian miskin?”, tanya sang Khalifah. “ Ya demi Allah. Dapurnya sering tidak berasab dalam waktu yang lama”.

Mendengar cerita itu, Umar menangis tersedu-sedu sampai air matanya membasahi janggutnya. Sambil terisak Umar mengambil seribu Dinar (sekitar Rp. 600 juta ) lalu dimasukkan dalam satu kantong. Umar berkata sambil terisak ,” Sampaikan salamku kepada gubernur kalian, katakan Umar mengirimkan uang ini agar bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhanya”.

Sesampainya delegasi ke Himsh, mereka langsung menghadap Said untuk memberikan titipan Umar lengkap dengan pesan sang Khalifah. Setelah melihat isi kantong, Said terkejut dan menjauhkan kantong itu dari tempat duduknya, seraya berkata,” innalillahi wa inna ilaihi rajiun”. Lantas dia bertanya kepada istrinya, “ wahai istriku, sudikah kau membantuku?”. “ tentu mau wahai suamiku”. Akhirnya mereka berdua berjalan berkeliling ke kampung-kampung membagikan dinar pemberian Khalifah kepada rakyatnya hingga tak tersisa.

Selang beberapa waktu kemudian, Umar datang untuk melihat kondisi Syam dan tak lupa singgah di rumah sang gubernur. Melihat kondisi Said, Umarpun memberikan lagi bantuan seribu Dinar kepada Said. Sepulangnya Umar, Said dan istrinya kembali membagikan uang pemberian itu kepada rakyatnya yang tidak mampu. Hal ini Said lakukan dengan penuh ketulusan dan kerelaan. Tanpa ada rasa berat sedikitpun dalam hatinya.

Begitulah salah satu kisah kepemimpinan yang sukses dan patut dijadikan guru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pemimpin seperti said akan mendapatkan kucuran cinta yang luar biasa dari rakyatnya. Namun betapa sedihnya ketika kita melihat para pemimpin negeri ini justru banyak yang diseret ke penjara karena mengkorupsi uang rakyatnya. Jika Said rela mengorbankan harta pribadinya untuk kepentingan rakyatnya, justru para pemimpin negeri ini merampas uang yang menjadi hak rakyatnya. Keduanya bagai langit dan bumi.

Dalam Islam, seorang khalifah adalah orang yang diberikan amanah untuk mengurusi urusan rakyat dengan dasar syariat Islam. Seorang khalifah dibaiat oleh rakyat, namun tetap harus bertanggungjawab kepada Allah atas kepemimpinannya. Contohlah khalifah Umar Takut bin Khatab yang begitu takut kepada Allah jika sampai menelantarkan rakyatnya.

Dalam salah satu perbincangan dengan Muawiyah bin Hudaif setelah penaklukan Iskandariyah, Umar pernah berucap : Kalau aku tidur di siang hari, maka aku menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan ini wahai Muawiyah ? ”

Umar tentu sangat paham betapa berharganya nyawa satu orang muslim, sehingga dia sangat memperhatikan nasib rakyatnya, jangan sampai terzolimi sedikitpun. Itulah mengapa Umar pernah berkata, “Jika ada seekor onta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangung-jawaban kepadaku karena hal itu.

Karena onta tersebut berada di wilayah kekuasaannya, Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika onta itu mati sia-sia karena kelaparan, atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab di jalanan karena fasilitas yang buruk, Umar khawatir Allah akan memintai pertanggung-jawaban kepadanya nanti di hari kiamat.

Jangankan nyawa manusia yang menjadi rakyatnya, bahkan nyawa binatangpun bagi Umar tetap menjaganya dan tidak mau terzolimi karena kebijakannya. Sebuah hadist dengan tegas menyatakan : Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak. (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Siang dan malam Khalifah Umar selalu memantau keadaan rakyatnya. Umar benar-benar sadar kepemimpinan itu adalah melayani, bukan dilayani. Kepemimpinan bukan untuk menaikkan status sosial, menumpuk harta, yang akan menghasilkan kehinaan di akhirat semata. Nyawa rakyat bagi Umar adalah pertanggungjawaban besar kelak di akherat, maka menyia-nyiakannya adalah sebuah kezoliman.

Abdullah bin Abbas ra. mengatakan, “Setiap kali shalat, Umar senantiasa duduk bersama rakyatnya. Siapa yang mengadukan suatu keperluan, maka ia segera meneliti keadaannya. Ia terbiasa duduk sehabis shalat subuh hingga matahari mulai naik, melihat keperluan rakyatnya. Setelah itu baru ia kembali ke rumah”.

Sesaat setelah terpilh sebagai sebagai khalifah, dalam pidatonya, tergambar bagaimana takutnya Umar memikul beban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin ketika itu. Dan bukan saat itu saja Umar merasa hal itu disampaikan Umar. Sesaat setelah Abu Bakar dimakamkan, Umar sudah merasakan ketakutan itu. Sebab dalam Islam kepemimpinan adalah amanah besar, tidak layak diperebutkan, apalagi jika salah niat.

Dalam buku, Biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal digambarkan bagaimana sosok kepemimpinan khalifah kedua ini. Pertama, Umar adalah pemimpin yang sangat tegas terhadap kezoliman dan yang memusuhi Islam. Namun, Umar sangat lembut kepada orang jujur, adil dan teguh pada agamanya.

Kedua adalah kesadaran bahwa jabatan sebagai khalifah adalah ujian. Allah menguji rakyat dengan kepemimpinan Umar, sementara Umar diuji oleh rakyatnya. Dengan tegas Umar akan mengurus urusan rakyat dengan penuh amanah dan tidak menzolimi rakyat.

Ketiga, adanya hubungan saling mengingatkan antara pemimpin dan rakyatnya. Umar tak ragu meminta rakyat menegurnya atau mengkritiknya jika dirinya bersalah. Bahkan Umar dalam pidatonya, meminta rakyat tak ragu menuntutnya jika rakyat tak terhindar dari bencana, pasukan terperangkap ke tangan musuh. Bagi Umar, orang yang paling dicintai adalah yang mau menunjukkan kesalahannya.

"Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf naih munkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya demi kepentingan saudara-saudara sekalian," kata Umar menutup pidatonya.

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang zolim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42).

Begitulah karakter negara khilafah yang berdasarkan aqidah Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah yang begitu memperhatikan nyawa rakyat, bahkan nyawa hewan sekalipun. Seorang khalifah begitu takutnya kepada Allah jika sampai menzalimin, meski hanya kepada hewan.

Tidak ada dalam sejarah khalifah Umar bin Khattab sampai ada rakyatnya yang bunuh diri karena kelaparan, meskipun hanya satu orang. Amazing khilafah dan khalifah.

Post a Comment for "Pandemi Dan Fenomena Bunuh Diri"