Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENIKAM JANTUNG DEMOKRASI

Secara teori, Demokrasi adalah sistem politik untuk mengejawantahkan kedaulatan rakyat, bukan kedaulatan Allah SWT. Pada faktanya, demokrasi adalah sistem politik yang mengejawantahkan kedaulatan kapital.

Oleh : Ahmad Khozinudin | Aktivis, Anggota Hizbut Tahrir

Keliru besar, jika ada anggapan perubahan dimulai atau diharapkan dari parlemen. Sama kelirunya, jika ada yang berasumsi Islam bisa ditegakkan melalui sistem demokrasi.

Secara teori, Demokrasi adalah sistem politik untuk mengejawantahkan kedaulatan rakyat, bukan kedaulatan Allah SWT. Pada faktanya, demokrasi adalah sistem politik yang mengejawantahkan kedaulatan kapital.

Itu artinya, hukum dan UU demokrasi itu lahir dari kehendak kaum kapital, bukan kehendak rakyat. Contoh saja, saat rakyat menolak perubahan UU Minerba, menolak Perppu Covid-19, Penguasa demokrasi justru mengesahkannya.

Saat rakyat menolak kenaikan iuran BPJS, menuntut penurunan harga BBM, penguasa mengabaikannya. Yang dipraktikkan bukan kedaulatan rakyat, tetapi kedaulatan kapital.

Karena itu, perubahan tidak akan terjadi jika rakyat masih ditipu demokrasi. Perubahan tidak mungkin terjadi, jika kaum pergerakan tersihir jampi-jampi sihir Demokrasi, dengan mengikuti seluruh mekanisme elektoral dalam demokrasi.

Yang harus dilakukan, kaum pergerakan wajib menikam jantung demokrasi, hingga demokrasi menemui ajal. Menikam demokrasi, dengan menelanjangi tabiat asli demokrasi yang menipu, Perubahan yang dijanjikan hanya mimpi, dan berusaha menjauhkan umat dari racun demokrasi.

Memutus pilar legitimasi, dengan membongkar kebusukan Demokrasi, menampakan kontradiksi dan kemunafikannya, hingga menunjukkan tepat didepan hidung umat, bahwa jualan mimpi kesejahteraan, keadilan dan ketenteraman dalam demokrasi, adalah ilusi yang tak mungkin nyata, hingga unta masuk ke lobang jarum.

Saat pilar legitimasi roboh, saat Demokrasi tak lagi didukung umat, saat jantung demokrasi terkena tikaman dan mampu menghentikan pompa ilusi demokrasi, maka demokrasi akan menemui ajal, tewas bersimbah darah.

Selanjutnya, arahkan pikiran, perhatian dan perasaan umat hanya kepada Islam. Arahkan perubahan yang diperjuangkan, adalah perubahan menuju kebangkitan Islam, dengan menerapkan hukum Allah SWT secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah.

Buat Umat berada dalam ketaatan, dan memendam rindu yang bergejolak pada ketaatan sempurna, dengan menerapkan Islam secara menyeluruh dalam bingkai institusi Negara.

Semua itu hanya bisa ditempuh dengan dakwah, murni pemikiran, tanpa kekerasan. Dakwah yang menyentuh kalbu dan mencerahkan akal, yang merubah pemikiran umat.

Dakwah yang mampu mencampakkan sekulerisme, membuang jauh ilusi demokrasi, dan hanya yakin pada janji Allah SWT, yakni janji akan kembalinya Daulah Khilafah Ala Minhajin Nubuwah.

Perubahan ini dilakukan bersama dan ditengah-tengah umat, bukan melalui Pemilu atau Pilpres apalagi cuma Pilkada. Perubahan yang bergerak setiap hari, tanpa menunggu musim kampanye, tanpa menunggu Pemilu, Pilpres apalagi Pilkada.

Inilah, cikal bakal perubahan sesungguhnya. Inilah, tikaman paling mematikan bagi demokrasi, dan tak akan pernah ada lagi demokrasi, setelah tikaman mematikan mengantarkan ajalnya. [].

Post a Comment for "MENIKAM JANTUNG DEMOKRASI"