Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Krisis Pangan di Tengah Wabah, Kapitalisme Gagal Jamin Kesejahteraan

Krisis Pangan di Tengah Wabah, Kapitalisme Gagal Jamin Kesejahteraan

Oleh : Azizah Nur Hidayah (Homeschooler, Aktivis Dakwah, dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Dilansir oleh Kumparan.com, 25 April 2020, David Beasley, Direktur Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), mendesak pemerintah di setiap negara agar bertindak secepatnya demi menghentikan ancaman kelaparan yang bisa menimpa 265 juta orang di dunia akibat pandemi virus Corona. Menurut sebuah laporan dari PBB dan organisasi lainnya pada sepekan lalu, setidaknya 265 juta orang pada saat ini sedang mengarah ke ambang kelaparan akibat pandemi Covid-19. Jumlah ini sama dengan dua kali lipat dari jumlah yang terancam sebelum pandemi.

"Kami membutuhkan uang dan akses –bukan salah satunya, keduanya. Jika rantai pasokan rusak, orang tidak bisa mendapatkan makanan– dan jika mereka tidak bisa mendapatkan makanan (dalam waktu) cukup lama, mereka akan mati," tutup Beasley. Pandemi virus Corona yang kini tengah mewabah, telah nyata merubah tatanan dan kondisi dunia. Setiap lini kehidupan terguncang hebat oleh makhluk kecil ini.

Krisis pangan dan kelaparan yang diprediksikan oleh WFP tentu bukan tanpa alasan. Nyatanya, kapitalisme benar-benar telah gagal menjamin kesejahteraan dan kelangsungan hidup rakyat. Baik sebelum adanya wabah maupun setelah wabah merata hampir ke seluruh penjuru dunia. Hal ini diberitakan oleh laman Kumparan, 27 April 2020 lalu, tercatat siapa saja yang akan terancam krisis pangan dunia akibat pandemi virus Corona.

Di tahun 2019, sebelum adanya virus Corona, telah tercatat sebanyak 135 juta jiwa di 55 negara terancam krisis pangan. Selanjutnya terdata 75 juta anak stunting dan 17 juta anak bergizi buruk terancam krisis pangan pula. Kemudian di tahun 2020, dimana virus Corona telah mewabah ke seluruh dunia, terdata akan ada sebanyak 265 juta jiwa terancam kelaparan dan 30 negara berkembang yang diprediksi akan mengalami krisis pangan terparah.

Krisis pangan yang terjadi di sistem kapitalis merupakan sebuah kewajaran, karena kapitalisme telah berhasil melahirkan ketimpangan serta kesenjangan sosial di tengah-tengah rakyat. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin benar-benar terlihat nyata dalam kondisi wabah seperti ini. Orang-orang dengan ekonomi menengah ke atas mampu mengatasi kelaparan di tengah wabah. Karena mereka mampu membeli kebutuhan-kebutuhan hidup. Mereka mampu membeli stok makanan di kala terjadi social distancing ataupun karantina wilayah.

Namun, berbeda dengan orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah. Kehidupan sehari-hari saja, yang notabene tak ada wabah, mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja seharian penuh tetapi upah yang diperoleh tak seberapa. Ke sana kemari menjemput rezeki, siang malam tak berhenti bekerja, tetapi kebutuhan hidup tak juga terpenuhi. Apalagi berada di kondisi wabah seperti sekarang. Kehidupan mereka semakin tercekik lantaran tak memiliki jaminan upah yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tak pelak, beginilah potret kesenjangan sosial yang lahir dari sistem kapitalis. Kapitalisme terbukti gagal menjamin kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan rakyat. Krisis pangan tak akan pernah teratasi selama sistem kapitalisme diterapkan. Bukan saat terjadi wabah saja, tetapi dalam kondisi normal pun kapitalisme berhasil merenggut jutaan jiwa akibat krisis pangan yang tak pernah terselesaikan.

Krisis pangan, ketimpangan sosial, terombang-ambingnya perekonomian, menjadi salah satu tanda kehancuran peradaban rusak di bawah naungan hegemoni kapitalisme. Kedok kebobrokan kapitalisme sedikit demi sedikit terkuak. Keguncangan di setiap lini kehidupan akibat wabah telah membuka mata kita bahwa kapitalisme merupakan sistem yang benar-benar tak layak dijadikan sebagai sistem pengatur kehidupan.

Kehancuran sistem kapitalisme yang berada di depan mata, menjadi penghilang dahaga umat akan kerinduannya terhadap sistem sempurna Islam. Kehancuran peradaban kapitalisme merupakan awal terbitnya peradaban gemilang Islam. Dimana hanya dalam naungan Islamlah Allah mencurahkan berkah dan rahmatnya tiada henti.

Curahan berkah dan rahmat Allah tersebut telah terbukti selama kurang lebih 13 abad lamanya ketika dulu 2/3 dunia berada di bawah naungan Daulah Islam. Tertuang dalam catatan sejarah, betapa luar biasanya Islam menaungi dunia dengan limpahan nikmat dari Allah Swt. Tak ada satu pun rakyat yang menderita, kesusahan, bahkan menghadapi krisis tak berkesudahan. Yang ada, di bawah naungan Islam ini rakyat sejahtera, kebutuhan hidupnya terpenuhi dan terjamin, karena negara bertanggung jawab penuh atas kehidupan rakyatnya.

Di bawah naungan Daulah Islam tak aka nada ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial antar satu individu dengan individu lainnya. Hal ini dikarenakan pengelolaan harta kekayaan telah diatur oleh Islam dengan sangat baik, yakni dengan jalan pembagian kepemilikan. Pembagian kepemilikan harta di dalam Islam, dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, serta kepemilikan negara. Dengan pembagian kepemilikan seperti ini, terjamin mampu menghapus monopoli ekonomi oleh segelintir orang. Dan terjamin tak akan ada ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Karena pengelolaan harta dalam Islam telah terbagi dengan sangat jelas.

Adapun dalam penanganan maupun mitigasi bencana, Islam juga memiliki solusi tuntas atas persoalan tersebut. Bencana krisis pangan atau kelaparan misalnya. Dalam Daulah Islam tak akan dapat ditemukan rakyat yang kelaparan. Karena negara menjamin kebutuhan rakyatnya dengan baik. Ditambah dengan adanya baitul mal, dimana harta yang berada di dalamnya 100% akan disalurkan kepada rakyat. Negara akan mengelola keuangan dalam baitul mal untuk mengatasi bencana-bencana yang memungkinkan menimpa.

Kesuksesan Daulah Islam tersebut tentu tidak terlepas dari pengadopsian hukum Islam secara kafah. Karena di dalam Islam segala lini kehidupan telah diatur sedemikian rupa oleh Allah Swt. sebagai Pencipta. Dimana Penciptalah yang pasti tahu benar apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya. Maka bila syariat-Nya diterapkan dalam kehidupan sudah pasti kesejahteraanlah yang akan didapatkan, bukan kesengsaraan.
Wallahu a’lam bishshawab

Post a Comment for "Krisis Pangan di Tengah Wabah, Kapitalisme Gagal Jamin Kesejahteraan"