Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KETIKA CORONA TAK INGIN BERDAMAI

Dalam sistem Islam nyawa satu orang rakyat, baik muslim maupun non muslim, begitu berharga. Dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455,

Oleh : Atika Rahmah (Aktivis Muslimah Papua)

Saat rakyat resah dan galau bertahan hidup di tengah wabah corona yang terus berlangsung. Ketika rakyat harus menangis darah demi bisa bertahan hidup di tengah peperangan melawan makhluk tak kasat mata. Penguasa negeri ini terus mengeluarkan penyataan dengan diksi-diksi bak awan hitam, merisaukan umat yang tak punya tempat berlindung. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pun bak hujan badai yang membuat rakyat kian tersudut. Katanya rezim merakyat tapi nyatanya rakyat semakin sekarat.

Pernyataan fonemenal yang muncul belakangan adalah rakyat diminta berdamai dengan corona hingga vaksin yang efektif ditemukan. Diksi “berdamai dengan corona” tentu sangat membingungkan bagi rakyat. Bagaimana mungkin rakyat disuruh berdamai dengan virus? Virus jelas menyebabkan manusia sakit, lalu bagaimana caranya berdamai? Ingin rasanya ku katakan pada virus tak kasat mata ini “Mister Corona, ayo kita berdamai dulu. Sudahi perangnya, kita gencatan senjata dulu. Ayo kita buat kesapakatan damai.” Andai saja bisa...

Seperti biasa, saat rakyat heboh dengan penyataan yang mengundang banyak tanya dan kontroversial, pemerintah akan meluruskan maksud pernyataan di awal. Deputi bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan pernyataan "hidup berdamai dengan virus corona", dimaksudkan agar masyarakat tetap produktif. Artinya rakyat jangan menyerah, hidup berdamai dengan penyesuaian baru dalam kehidupan (the new normal). Kehidupan baru yang dimaksud dengan menerapkan protokol kesehatan. Misalnya, menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak. Ditambahkan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa arahan berdamai dengan Corona, tujuannya untuk menyelamatkan kondisi sosial dan ekonomi.

Seminggu setelah pernyataan “berdamai dengan corona” kini diganti dengan pernyataan “masyarakat tak putus asa dalam menghadapi virus Corona”. Dikatakan rakyat wajib berikhtiar dan berusaha sekuat tenaga melindungi diri, keluarga, saudara-saudara dan bangsa kita dari penularan virus corona. Dan mewanti-wanti masyarakat untuk selalu berdisiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan. Disiplin dalam menjaga kesehatan, disiplin dalam meningkatkan imunitas, disiplin cuci tangan pakai sabun, disiplin jaga jarak yang aman, disiplin untuk memakai masker, disiplin untuk tak mudik, disiplin bekerja di rumah, disiplin sekolah di rumah, dan disiplin beribadah di rumah.

Yang semakin membuat rakyat pusing tujuh keliling adalah saat rakyat diminta dirumah saja, sementara pemerintah malah menerima TKA (Tenaga Kerja Asing) untuk masuk ke Indonesia. Rakyat banyak menganggur imbas corona, pemerintah malah memberikan lapangan pekerjaan pada warga asing. Disaat rakyat diminta disiplin jaga jarak, akses transportasi malah dilonggarkan, mulailah terlihat tumpukan penumpang di bandara. Disaat angka kaus corona kian bertambah setiap harinya, rakyat yang usianya 45 tahun ke bawah malah diijinkan kembali bekerja. Astaghfirullah… nampaknya rakyat diminta untuk berdamai dengan corona atau lebih tepatnya berperang melawan corona tanpa dilengkapi persenjataan. Jika beruntung rakyat menang, dan jika tak beruntung rakyat akan terinfeksi dan mungkin saja akan meregang nyawa.

Adanya wabah ini, semakin membongkar kerusakan dari sistem Kapitalisme. Dalam sistem Kapitalisme uang atau materi di atas segala-galanya, maka wajar jika dari sistem yang cacat ini lahir pemimpin yang lebih memperhantikan keuntungan materi di atas nyawa manusia. Pemerintah lebih khawatir terhadap roda ekonomi yang tidak berjalan dibanding dengan keselamatan nyawa rakyatnya.

Tentu saja ini sangat berbanding terbalik dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam nyawa satu orang rakyat, baik muslim maupun non muslim, begitu berharga. Dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Sistem Islam akan melahirken pemimpin yang amanah dan mencintai rakyatnya. Akan melakukan pengurusan urusan rakyat dengan maksimal tanpa memperhitungkan keuntungan pribadi ataupun kelompok. Sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Imam (Pemimpin) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Pemimpin dalam sistem Islam tak akan ragu untuk melakukan lockdown agar wabah ini tidak berlangsung berlarut-larut. Tentu dengan menjamin kebutuhan pokok rakyatnya agar rakyat bisa disiplin untuk dirumah saja dan tidak disibukkan untuk mencari makan. Pemimpin pun mencontohkan bergaya hidup sederhana jika memang kondisi perekonomian negera benar-benar sedang sulit. Pemimpin yang turut merasakan penderitaan rakyat tentu akan dicintai rakyat dan rakyat akan mempercayakan pengaturan urusan mereka kepadanya.

Demikianlah Islam menjadikan amanah besar berada dipundak pemimpin yang diberikan ancaman keras saat pemimpin lalai dalam urusan rakyatnya. Rasulullah saw bersabda,“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu’alam bishawab

Post a Comment for "KETIKA CORONA TAK INGIN BERDAMAI"