Berburu Lailatul Qadr Di Tengah Wabah Yang Belum Kelar

Berburu Lailatul Qadr Di Tengah Wabah Yang Belum Kelar

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Member Revowriter dan WCWH)

Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Qadr. (yaitu) malam Qadr itu lebih baik dari malam seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.” (TQS. Al-Qadr: 1-5)

Ramadan adalah bulan Al-Qur'an karena pada bulan ini diturunkan Al-Qur'an sebagaimana firman-Nya di atas. Karena Al-Qur'an bulan ini menjadi istimewa dan umat Islam berburu pahala yang berlipat. Maka tak heran jika kaum muslim banyak yang ingin mengkhatamkan tilawah Al-Qur'an di bulan Ramadan. Namun, esensi diturunkan Al-Qur'an  bukan hanya sekadar untuk dibaca tapi difahami, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih utamanya ialah menerapkan isi Al-Qur'an oleh satu institusi yang pernah dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat. Karena turunnya Al-Qur'an ke muka bumi adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia agar berada di jalan yang lurus yang Allah ridai. Terlebih kondisi pandemi saat ini, maka sudah seharusnya umat Islam mengambil solusi seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah saw ketika ada wabah.

Sepuluh malam kedua di Bulan Ramadan sudah dilewati, sekarang akan melewati 10 malam terakhir di bulan mulia ini. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa ada keutamaan yang dimiliki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, yaitu Lailatul Qadr. Umat Islam biasanya sibuk ingin meraih malam yang mulia ini karena keutamaannya lebih baik dari 1000 bulan.

Tahun ini sebagian umat Islam tak bisa melewati sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dengan i'tikaf di masjid, karena kondisi yang tak memungkinkan di tengah wabah melanda. Bagaimanapun keselamatan dan kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Karena di dalam Islam menjaga nyawa dan diri lebih diutamakan.

Namun, walau tak bisa melewati sepuluh malam terakhir Ramadan di masjid, semoga tak mengurangi kekhusyukan dalam beribadah dan meraih Lailatul Qadr. Ibadah yang biasanya dilakukan dengan  i'tikaf di masjid berpindah ke rumah, misalnya tilawah dengan tartil hingga khatam tetap dilakukan, tambahan sholat malam dan doa sebanyak-banyaknya memohon yang terbaik untuk negeri ini, wabah bisa berakhir dan segera menerapkan aturan Allah.  Allah Maha Tahu di manapun beribadah insya Allah tetap bernilai pahala, selama menjaga niat hanya karena Allah semata.  Suasana masjid dan rumah memang beda, tapi berdamai dengan hati dan keadaan dalam kondisi saat ini luar biasa.

Baginda Nabi  Muhammad saw  pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tanda malam Lailatul Qadr, yaitu: Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul Qadr  adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah.” (HR. At-Thayalisi)

Hadis lain  dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Keesokan hari malam Qadr matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan,” (HR. Muslim)

Dan hadis “Dari sahabat Ibnu Umar radliyallahu’anhuma bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi saw diperlihatkan malam Qadr  dalam mimpi (oleh Allah SWT) pada 7 malam terakhir (Ramadhan) kemudian Rasulullah saw berkata,”Aku melihat bahwa mimpi kalian (tentang lailatul Qadar) terjadi pada 7 malam terakhir. Maka barang siapa yang mau mencarinya maka carilah pada 7 malam terakhir,”(HR Muslim)

Ada pula hadis dari Abu Hurairah radliyallahuanhu berkata, ”Kami pernah berdiskusi tentang lailatul Qadar di sisi Rasulullah SAW, beliau berkata, “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan,” (HR. Muslim)

Selanjutnya hadits dari Ubadah bin Shamit radhiyallahuanhu berikut ini : “Malam itu adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesung

guhnya, tanda Lailatul Qadr adalah matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu,” (HR. Ahmad).

Begitu banyaknya hadis tentang keutamaan Ramadan, maka tak heran umat Islam berburu Lailatul Qadr yang biasanya dilakukan dengan i'tikaf di masjid. Dalam kondisi seperti ini tak ada salahnya i'tikaf berpindah ke rumah bersama keluarga melakukan ibadah lebih giat lagi, bisa saling berlomba anak-anak yang sudah baligh bisa dilibatkan. Merasakan tilawah lebih khusuk untuk khatam, merasakan begadang shalat malam tentu tak ada paksaan. Dan menyiapkan reward bagi anak-anak.

Hal ini dilakukan agar anak mengenal dan tumbuh habits jika setiap sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan melakukan ibadah seperti ini. Membiasakan mereka ibadah di tengah malam ketika yang lain masih pulas tertidur. Karena banyak sekali keutamaan shalat di tengah malam. Apapun kondisinya semoga umat Islam tetap khusyuk dalam beribadah dan lebih giat lagi agar umat Islam layak mendapat pertolongan-Nya.

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.

0 Response to "Berburu Lailatul Qadr Di Tengah Wabah Yang Belum Kelar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel